Kalau internet itu kita bayangkan seperti alun-alun raksasa yang buka 24 jam, maka konten flexing adalah motor gede yang sengaja digas di tengah kerumunan. Bukan karena semua orang suka knalpotnya, tapi karena semua kepala otomatis menoleh. Di situlah logikanya dimulai. Pertanyaan “mengapa konten pamer kekayaan dan kemewahan disukai masyarakat Indonesia?” sering dibahas dengan nada sinis, seolah jawabannya cuma: “ya karena orang kita kepo.” Padahal kalau dibedah pelan-pelan, ada alasan yang jauh lebih masuk akal, lebih struktural, dan lebih psikologis.
Yang pertama harus dibereskan dulu: kita mesti hati-hati dengan kalimat “masyarakat Indonesia suka flexing.” Secara riset, catatan yang tersedia tidak langsung membuktikan dengan survei nasional bahwa seluruh atau mayoritas masyarakat Indonesia menyukai konten flexing sebagai satu variabel tunggal. Jadi posisi yang paling aman bukan menyapu semuanya dengan sapu ijuk raksasa, melainkan mengatakan: ada kondisi sosial, digital, dan psikologis yang membuat konten flexing sangat mudah menarik perhatian, engagement, dan rasa penasaran di Indonesia [1][3][4][5]. Ini penting, supaya tulisan kita tidak berubah jadi ceramah warung kopi yang sok yakin padahal fondasinya kopong.
Alasan paling dasar adalah: Indonesia itu sangat online. Data APJII menunjukkan pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221.563.479 jiwa, dengan tingkat penetrasi 79,5% [1]. Pengguna terbesar berasal dari Gen Z sebesar 34,40% dan milenial 30,62%, sementara kontribusi wilayah urban mencapai 69,5% [1]. Artinya apa? Artinya panggung untuk konten visual, singkat, simbolik, dan gampang dicerna itu sudah tersedia lebar seperti jalan tol yang baru diaspal. Flexing hidup subur di ekosistem seperti ini karena ia tidak butuh penjelasan panjang. Orang melihat mobil mewah, jam mahal, tas branded, rumah besar, liburan premium, lalu otak langsung menangkap pesannya: “ini status.” Tidak perlu subtitel. Tidak perlu footnote. Simbol kemewahan itu bekerja seperti logo band legendaris di kaus hitam; sekali lihat, orang langsung paham identitas apa yang sedang dipamerkan.
Di tengah audiens yang besar, muda, dan urban itu [1], konten flexing punya keunggulan utama: ia kompatibel dengan ritme media sosial. Kita hidup di era jempol yang menggeser layar lebih cepat daripada pikiran merenung. Dalam dunia seperti ini, konten yang paling gampang meledak biasanya bukan yang paling rumit, melainkan yang paling cepat memicu respons emosional. Flexing bisa memicu kagum, iri, jengkel, penasaran, atau mimpi. Bahkan kebencian pun tetap menghasilkan klik. Dan algoritma, seperti pedagang gorengan yang tidak peduli pembeli datang sambil senyum atau sambil ngedumel, tetap menghitung transaksi yang terjadi.
Di titik ini, alasan logis kedua muncul: konten pamer kekayaan menjanjikan perhatian sosial. Studi eksperimental pada 2.296 pengguna Instagram di Indonesia oleh Yusainy dkk. menemukan bahwa peserta yang melihat unggahan pembelian barang mewah atau material melaporkan aspirasi material lebih tinggi dibanding yang melihat pembelian berbasis pengalaman [3]. Lebih menarik lagi, studi itu menunjukkan peran anticipated engagement, yaitu bayangan bahwa unggahan semacam itu akan mendapat banyak love dan komentar [3]. Jadi flexing bukan sekadar memamerkan barang; ia juga memamerkan kemungkinan mendapat sorak penonton. Barang mewah jadi seperti gitar listrik di panggung kecil: bukan hanya bunyinya yang dicari, tapi efek ketika lampu menyorot dan orang-orang mulai bersorak.
Kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari, orang tidak cuma tertarik pada mobilnya, tasnya, atau makan malam mahalnya. Orang juga tertarik pada drama sosial yang mengikuti benda-benda itu. Berapa banyak yang komentar? Siapa yang memuji? Siapa yang nyinyir? Siapa yang merasa tersindir? Siapa yang mendadak termotivasi? Konten flexing itu sering bekerja seperti adegan klimaks sinetron: objeknya mungkin sederhana, tapi reaksi para penontonnya bikin orang lanjut menonton. Maka daya tariknya bukan hanya kemewahan sebagai benda, tapi kemewahan sebagai pemicu percakapan massal.
Alasan ketiga: barang mewah adalah bahasa status yang paling efisien. Dalam jurnal dari Universitas Tarumanagara tahun 2024 pada 179 responden generasi Y pengguna media sosial, media sosial dan luxury symbolism terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap conspicuous online consumption [4]. Abstraknya juga menekankan bahwa YouTube dan TikTok menjadi ruang untuk membandingkan diri dan memamerkan kemewahan [4]. Ini penting. Di media sosial, kita tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan “aku sukses,” “aku berkelas,” atau “aku sedang naik level.” Maka barang mewah mengambil alih tugas itu sebagai simbol. Ia seperti lencana di dada seragam: kecil, tapi langsung dibaca.
Kalau seseorang ingin menjelaskan kualitas pikirannya, itu butuh tulisan, argumen, atau karya. Kalau seseorang ingin menjelaskan pengalamannya, itu butuh konteks. Tapi kalau seseorang ingin mengirim sinyal status, benda mewah bekerja jauh lebih cepat. Cukup satu frame. Satu sudut dashboard mobil. Satu meja makan dengan pemandangan kota. Satu unboxing. Satu gelang. Satu sandal yang harganya setara biaya kos beberapa bulan. Di situlah flexing unggul sebagai format: ia adalah paket komunikasi super ringkas. Dalam ekonomi perhatian yang kejam, yang ringkas sering menang.
Alasan keempat menyentuh sisi yang lebih dalam: kebutuhan sosial manusia. Studi BINUS dalam jurnal Sustainability tahun 2023 dengan 474 responden valid di delapan kota Indonesia menemukan bahwa luxury values dan fashion consciousness meningkatkan conspicuous omni-signaling, yaitu sinyal konsumsi mencolok di ranah offline dan online [5]. Studi itu juga menemukan bahwa perilaku tersebut berpengaruh pada conspicuous re-consumption secara langsung maupun tidak langsung melalui social needs fulfilment [5]. Bahasa manusianya begini: flexing bisa bekerja karena ia menyentuh kebutuhan untuk diakui, dilihat, dianggap berhasil, dianggap pantas, atau minimal dianggap “ada.”
Kita ini makhluk sosial, bukan batu bata. Kita punya kebutuhan untuk merasa diakui. Dalam masyarakat digital, pengakuan itu sering berubah bentuk menjadi metrik: likes, views, komentar, mention, repost. Simbol kemewahan kebetulan sangat efektif untuk memancing metrik-metrik itu. Jadi ketika konten pamer kekayaan disukai, belum tentu semua orang benar-benar suka dalam arti moral atau emosional. Bisa jadi mereka tertarik karena konten itu memuaskan rasa ingin tahu, memancing perbandingan, atau menghadirkan panggung pengakuan yang sangat jelas. Sama seperti orang berhenti melihat kerumunan di pinggir jalan: bukan karena selalu peduli, tapi karena ada dorongan manusiawi untuk tahu apa yang sedang dianggap penting oleh orang lain.
Alasan kelima berkaitan dengan konteks Indonesia sendiri, yaitu ketimpangan sosial yang masih nyata. BPS mencatat gini ratio Indonesia September 2025 sebesar 0,363; di perkotaan 0,383 dan di perdesaan 0,295. BPS juga melaporkan porsi pengeluaran 40% terbawah menurut ukuran Bank Dunia sebesar 19,28% [2]. Data ini tidak membuktikan secara langsung bahwa orang menyukai flexing karena ketimpangan [2]. Namun sebagai konteks, angka ini menjelaskan mengapa simbol kemewahan tampil begitu kontras di ruang sosial kita. Dalam masyarakat yang belum rata, kemewahan itu seperti lampu neon di gang sempit: otomatis mencolok. Ia mudah mengundang rasa penasaran, aspirasi naik kelas, perbandingan nasib, bahkan kemarahan.
Jadi ketika sebuah konten memperlihatkan rumah megah, isi lemari supermahal, pesta eksklusif, atau perjalanan premium, penonton Indonesia tidak selalu menontonnya dengan satu emosi yang sama. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang menjadikan itu moodboard hidup, ada yang menonton sambil mengutuk, ada yang menganalisis apakah itu asli atau sewaan. Tetapi justru karena emosinya beragam, konten itu makin hidup. Ia jadi seperti cermin di pasar malam: tiap orang melihat pantulan berbeda, tapi semuanya tetap berhenti sejenak. Dari sudut pandang algoritma dan budaya digital, berhenti sejenak itu sangat berharga.
Kalau kita tarik lebih jauh, ada juga faktor aspirasi kelas. Dalam masyarakat yang mobilitas sosialnya dibayangkan sebagai perjuangan menanjak, simbol kemewahan sering diperlakukan seperti trailer film tentang “hidup yang diinginkan.” Orang mungkin sadar bahwa apa yang mereka lihat belum tentu realistis untuk dijangkau dalam waktu dekat. Tapi melihatnya tetap memberi sensasi kemungkinan. Seperti anak kos yang nonton review apartemen mewah sambil kipasan pakai map skripsi, ia tahu belum sanggup beli, tapi bayangan tentang “suatu hari nanti” tetap nikmat. Sekali lagi, ini bukan bukti statistik tunggal bahwa semua orang suka, melainkan penjelasan logis tentang mengapa daya tariknya bisa bertahan [1][3][4][5].
Di sisi lain, flexing juga disukai karena sederhana untuk dikonsumsi. Konten edukasi butuh niat. Konten politik butuh konteks. Konten budaya butuh kesabaran. Tapi konten kemewahan? Ia seperti mi instan visual. Cepat matang di kepala. Orang tidak perlu membaca panjang, cukup menangkap kode. Dalam dunia digital yang padat dan melelahkan, banyak pengguna memilih konten yang bisa dipahami dalam sepersekian detik. Flexing menang di sini, karena ia menawarkan sensasi instan: “wah”, “serius?”, “kok bisa?”, “mau juga”, atau “halah paling settingan.” Emosi cepat adalah bahan bakar terbaik bagi peredaran konten.
Ada pula unsur permainan perbandingan sosial. Media sosial secara umum memang menyediakan panggung untuk saling membandingkan hidup, dan penelitian dari Tarumanagara menegaskan relevansi YouTube dan TikTok sebagai ruang perbandingan diri dan pamer kemewahan [4]. Ketika penonton melihat simbol status yang jelas, mereka otomatis mengukur diri: aku di mana? hidupku bagaimana? usahaku cukup tidak? Ini kadang menyakitkan, tapi justru karena menyentuh titik sensitif, kontennya jadi lengket di ingatan. Analogi kasarnya begini: flexing itu seperti lagu galau. Kadang kita tidak menikmatinya karena bahagia, tapi karena ia menekan tombol emosional yang susah diabaikan.
Yang menarik, perhatian pada konten flexing tidak selalu berarti persetujuan. Banyak konten pamer kekayaan ramai justru karena ditonton secara ambivalen. Penonton bisa kesal tapi tetap menonton. Bisa mengkritik tapi tetap mengikuti. Bisa mencibir sambil menunggu episode berikutnya. Ini fenomena yang logis di media sosial: engagement tidak lahir hanya dari cinta, tapi juga dari campuran kagum, benci, curiga, dan rasa ingin tahu. Maka istilah “disukai” dalam pembahasan ini sebaiknya dibaca secara hati-hati sebagai “menarik perhatian dan memicu keterlibatan”, bukan selalu “disetujui secara moral.” Pembeda ini penting agar analisis kita tidak jadi dangkal.
Kalau diringkas, setidaknya ada beberapa alasan logis mengapa konten pamer kekayaan mudah disukai, diminati, atau minimal dikonsumsi luas di Indonesia:
- Indonesia punya basis pengguna internet yang sangat besar, dominan muda, dan kuat di wilayah urban, sehingga konten visual-aspiratif mudah menyebar [1].
- Konten material dan kemewahan dapat meningkatkan aspirasi material, apalagi ketika diasosiasikan dengan potensi engagement yang tinggi [3].
- Barang mewah bekerja sebagai simbol status yang efisien dan cepat dipahami di media sosial [4].
- Flexing berkaitan dengan kebutuhan sosial seperti pengakuan, prestige, dan rasa diterima atau dilihat [5].
- Dalam konteks ketimpangan sosial, simbol kemewahan tampil makin kontras dan lebih memicu rasa penasaran, aspirasi, iri, atau perbandingan sosial [2].
Namun di balik semua itu, kita tetap perlu menyimpan rem tangan intelektual. Sumber-sumber yang ada punya batasan. Data APJII menunjukkan besarnya paparan internet, bukan bukti langsung bahwa mayoritas orang Indonesia menyukai flexing [1]. Studi Yusainy dkk. fokus pada pengguna Instagram di Indonesia, bukan semua platform dan bukan semua kelompok umur [3]. Studi Tarumanagara memakai 179 responden generasi Y dengan convenience sampling, jadi tidak bisa digeneralisasi ke seluruh penduduk [4]. Studi BINUS juga banyak bergerak dalam konteks luxury dan fashion, bukan seluruh bentuk pamer kekayaan [5]. Jadi artikel yang jujur harus mengakui: kita sedang membaca pola yang kuat, bukan menancapkan paku kesimpulan absolut.
Lalu, apakah ini berarti masyarakat Indonesia dangkal? Tidak sesederhana itu. Menyukai atau setidaknya mengonsumsi konten flexing bisa dibaca sebagai gejala zaman digital, bukan cacat bawaan bangsa. Ketika perhatian menjadi mata uang, maka simbol yang paling mudah dibaca akan paling sering dipakai. Ketika ruang sosial dipenuhi perbandingan, maka tanda status akan makin laris. Ketika kebutuhan akan validasi bertemu dengan algoritma yang doyan sensasi, flexing tinggal menunggu waktu untuk mekar. Ini bukan sekadar soal moral individu, tapi juga soal desain platform, struktur masyarakat, dan psikologi kolektif.
Bahkan dalam beberapa kasus, penonton flexing bukan sedang ingin meniru mentah-mentah, melainkan sedang belajar membaca hierarki sosial baru. Siapa yang dianggap sukses? Gaya hidup seperti apa yang sedang dijual? Simbol mana yang sekarang dianggap premium? Dalam arti ini, konten flexing juga berfungsi sebagai katalog status sosial kontemporer. Ia memberitahu publik tentang “kode-kode mahal” yang sedang laku. Mirip anak baru masuk tongkrongan kampus yang mengamati dulu: sepatu apa yang dipakai, musik apa yang dibahas, jargon apa yang dipakai. Bedanya, di media sosial, tongkrongannya berskala nasional dan lampunya menyala terus.
Tetapi ada sisi gelapnya juga. Karena simbol status begitu kuat, orang bisa terdorong mengukur nilai diri lewat tampilan luar. Penelitian yang ada memang menunjukkan kaitan antara paparan konsumsi mencolok, aspirasi material, dan pemenuhan kebutuhan sosial [3][5]. Dari sini kita bisa membaca sebuah kewaspadaan: kalau perhatian publik terus dibentuk oleh kemewahan yang sangat visual, maka standar keberhasilan bisa makin menyempit menjadi apa yang terlihat, bukan apa yang dibangun. Sekali lagi, ini analisis, bukan vonis total. Tapi penting disadari supaya kita tidak sekadar jadi penonton yang rela dipelintir oleh etalase digital.
Pada akhirnya, konten pamer kekayaan disukai masyarakat Indonesia bukan semata-mata karena orang Indonesia cinta kemewahan secara buta. Penjelasan yang lebih waras adalah ini: Indonesia punya ekosistem digital yang besar, muda, dan urban [1]; konten flexing menawarkan perhatian sosial dan engagement [3]; simbol kemewahan sangat efisien sebagai bahasa status [4]; kebutuhan akan pengakuan sosial membuat sinyal-sinyal semacam itu efektif [5]; dan konteks ketimpangan membuat kemewahan tampil makin kontras serta mengundang beragam respons [2]. Jadi daya tariknya lahir dari pertemuan antara teknologi, psikologi, dan struktur sosial.
Kalau mau pakai analogi paling sederhana: flexing di Indonesia itu seperti warung kopi yang berdiri di tikungan ramai. Belum tentu kopinya paling enak, belum tentu semua orang setuju dengan menunya, tapi lokasinya strategis, papan namanya mencolok, pengunjungnya banyak, dan orang-orang selalu punya alasan untuk menoleh. Ada yang mampir karena penasaran, ada yang karena ikut-ikutan, ada yang cuma mau nyinyir dari parkiran. Tapi selama lalu lintas perhatian masih seramai sekarang, warung itu akan terus kelihatan penuh.
Jadi kalau besok kita masih melihat konten-konten kemewahan berseliweran dan tetap ramai, jangan buru-buru menyimpulkan publik kita sekadar haus pamer. Bisa jadi yang bekerja jauh lebih kompleks: rasa ingin tahu, dorongan membandingkan diri, fantasi naik kelas, kebutuhan akan pengakuan, serta mesin media sosial yang mencintai simbol paling mencolok. Dan selama kombinasi itu belum berubah, flexing akan tetap punya tempat di layar-layar kita—entah sebagai hiburan, aspirasi, gangguan, atau cermin zaman yang agak norak tapi jujur.
Sumber Referensi
- APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang
- Gini ratio September 2025 tercatat sebesar 0,363. - Badan Pusat Statistik Indonesia
- Someone just posted on Instagram: Conspicuous consumption, anticipated engagement, and trait mindfulness - PubMed
- DETERMINAN CONSPICUOUS ONLINE CONSUMPTION GENERASI Y | Jurnal Muara Ilmu Ekonomi dan Bisnis
- How Can Conspicuous Omni-Signaling Fulfil Social Needs and Induce Re-Consumption?