Pendidikan Politik Sudah Saatnya Dipandang Seserius Matematika di Indonesia

← Kembali ke Blogs

Pendidikan Politik Sudah Saatnya Dipandang Seserius Matematika di Indonesia

Ditulis oleharifrahmawan·
0 unik hari ini 5 unik 7 hari 24 unik 30 hari 24 total unik
Pendidikan Politik Sudah Saatnya Dipandang Seserius Matematika di Indonesia
Iklan

Ada satu kebiasaan lama di sekolah kita yang menurut gue mulai gak cukup buat menjawab zaman: urusan politik sering diperlakukan kayak suara kipas angin di belakang kelas. Ada, bunyi, terasa, tapi dianggap bukan inti. Yang inti itu matematika, sains, bahasa, atau pelajaran yang hasilnya bisa langsung diuji pakai angka. Sementara pendidikan politik sering dianggap pelengkap, semacam bumbu tabur di atas nasi goreng. Padahal Indonesia hari ini sudah sampai pada titik ketika pendidikan politik layak diposisikan sama seriusnya dengan pelajaran inti lain. Bukan karena semua anak harus jadi politisi, tapi karena semua anak pada akhirnya akan jadi warga negara.


Kalau matematika mengajari kita membaca pola angka, pendidikan politik mengajari kita membaca pola kuasa. Kalau matematika melatih logika agar kita tidak gampang salah hitung, pendidikan politik melatih nalar agar kita tidak gampang salah pilih, salah percaya, dan salah menilai siapa yang sedang memainkan masa depan publik. Dalam hidup bernegara, salah hitung mungkin bikin nilai ulangan jeblok. Salah paham politik bisa bikin kebijakan publik ngawur selama bertahun-tahun. Jadi, pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak”, melainkan “kenapa selama ini belum diperlakukan cukup penting?”


Argumen pertama yang paling logis: negara sendiri sebenarnya sudah mengakui bahwa urusan ini penting. Dalam dokumen resmi Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka untuk Pendidikan Pancasila, materi tentang demokrasi, UUD 1945, penegakan hukum, HAM, dan relasi pusat-daerah memang sudah menjadi bagian dari kompetensi yang harus dipelajari siswa [1]. Artinya, dari sisi kebijakan pendidikan nasional, pemahaman tentang kehidupan bernegara itu bukan aksesoris tempelan. Ia sudah masuk dapur kurikulum. Jadi kalau masih ada anggapan bahwa pendidikan politik itu cuma urusan aktivis kampus, anak organisasi, atau orang yang doyan debat di tongkrongan, anggapan itu telat beberapa tikungan.


Fakta itu penting, karena ia menunjukkan satu hal mendasar: sekolah di Indonesia tidak hanya didesain untuk mencetak orang yang bisa bekerja, tetapi juga untuk membentuk orang yang bisa hidup sebagai warga negara. Ini beda tipis tapi dampaknya jauh. Pekerja yang hebat bisa menggerakkan perusahaan. Warga negara yang cerdas bisa menjaga republik. Kalau sekolah cuma menyiapkan murid untuk mencari gaji tapi tidak menyiapkan mereka untuk memahami hak, kewajiban, prosedur demokrasi, dan etika kekuasaan, kita sedang membangun gedung megah di atas fondasi yang setengah jadi.


Di sinilah analoginya begini: matematika itu seperti rem dan setir dalam kendaraan berpikir. Penting, jelas. Tapi pendidikan politik itu seperti kemampuan membaca jalan, rambu, arah lalu lintas, dan siapa yang sebenarnya mengatur lampu merah. Punya setir tanpa paham jalan bikin nyetir ngawur. Paham rumus tanpa paham struktur kekuasaan bikin warga gampang dikibulin slogan. Kita bisa punya generasi yang jago menghitung bunga majemuk, tapi tetap kalah oleh hoaks politik yang dikemas seperti promo diskon besar-besaran.


Argumen kedua: urgensi pendidikan politik naik drastis karena komposisi pemilih Indonesia sekarang didominasi anak muda. KPU mencatat bahwa pada Pemilu 2024, pemilih milenial berjumlah 67.909.820 orang atau 33,44%, sedangkan Gen Z berjumlah 50.645.669 orang atau 24,94%. Jika digabung, keduanya mencapai 58,38% dari seluruh pemilih [3]. Ini bukan angka kecil. Ini bukan sekadar statistik yang lewat di layar presentasi lalu dilupakan. Ini artinya lebih dari separuh tenaga demokrasi kita ada di tangan generasi yang sebagian besar masih dekat dengan sekolah, kampus, media sosial, dan budaya informasi serba cepat.


Kalau mayoritas penumpang kapal adalah anak muda, maka kemampuan mereka membaca peta bukan hal opsional. Mustahil kita berharap kualitas demokrasi bagus kalau kelompok pemilih terbesar justru belajar politik hanya dari potongan video 30 detik, judul clickbait, meme separuh benar, atau kultus figur yang dijahit dengan musik dramatis. Sekolah menjadi arena paling strategis sebelum anak muda masuk gelanggang politik sebagai pemilih aktif. Di titik ini, pendidikan politik bukan kerja sambilan. Ia seperti vaksin nalar: tidak menjamin orang tak pernah tertipu, tapi memperbesar daya tahan ketika serangan manipulasi datang bertubi-tubi.


Di sisi lain, ada orang yang mungkin bilang, “Tapi partisipasi pemilih kita kan tinggi, berarti rakyat sudah sadar politik.” Nah, di sini kita perlu bedakan antara hadir dan paham. KPU menetapkan tingkat partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 sebesar 81,48% untuk Pilpres, 81,14% untuk DPR, dan 81,50% untuk DPD [2]. Secara angka, ini tinggi. Ini kabar baik. Tetapi partisipasi formal yang tinggi tidak otomatis berarti literasi politik sudah kuat. Datang ke TPS itu satu tahap. Mengerti apa yang dipilih, kenapa memilih, bagaimana mengevaluasi, dan bagaimana mengawasi setelah pemilu, itu tahap lain yang lebih dalam.


Ibarat masuk perpustakaan, kehadiran tinggi belum tentu berarti semua orang membaca buku dengan paham. Bisa saja datang, duduk, foto, lalu pulang. Dalam demokrasi juga begitu. Orang bisa saja menggunakan hak pilih, tapi masih rentan pada politik identitas dangkal, janji instan, disinformasi, atau sekadar ikut arus keluarga dan lingkungan. Maka pendidikan politik dibutuhkan untuk menaikkan kualitas partisipasi, bukan hanya kuantitasnya. Demokrasi yang sehat tidak cukup diukur dari antrean panjang di TPS. Ia juga harus diukur dari kualitas pertimbangan yang membawa seseorang sampai ke bilik suara.


Data KPU juga memberi alarm lain yang tidak boleh kita abaikan. Dalam dokumen yang sama, partisipasi pemilih disabilitas jauh lebih rendah: 43,41% pada Pilpres, 43,35% pada DPR, dan 43,57% pada DPD [2]. Fakta ini ngasih pelajaran sederhana tapi tajam: demokrasi bukan cuma soal banyaknya suara masuk kotak, melainkan juga soal apakah seluruh warga punya akses, pemahaman, dan kapasitas yang cukup untuk terlibat. Jadi pendidikan politik tidak boleh dibayangkan sebatas ceramah normatif yang menyanjung demokrasi setinggi langit. Ia juga harus bicara tentang kesetaraan akses, hambatan partisipasi, dan cara melihat warga negara sebagai manusia nyata dengan kondisi yang berbeda-beda.


Kalau ada kelas yang rajin ikut ujian, tapi separuh siswanya kesulitan masuk ruang ujian karena tangga terlalu curam, kita gak akan menyebut sistem itu sukses hanya karena rerata kehadiran tinggi. Kita akan mempertanyakan desainnya. Begitu juga demokrasi. Tingginya partisipasi nasional bagus, tetapi kesenjangan partisipasi antarkelompok menunjukkan bahwa pendidikan politik harus punya wajah yang lebih membumi: membantu murid memahami prosedur, hak, akses, dan tanggung jawab secara inklusif.


Argumen ketiga datang dari gambaran makro tentang kualitas demokrasi Indonesia. Badan Pusat Statistik dalam Statistik Politik 2024 melaporkan bahwa Indeks Demokrasi Indonesia tahun 2023 berada di angka 79,51, turun 0,90 poin dari tahun sebelumnya dan kembali masuk kategori sedang [4]. BPS juga mencatat aspek kebebasan berada di angka 77,48 dan kapasitas lembaga demokrasi 76,46, sementara yang masuk kategori tinggi hanya aspek kesetaraan dengan nilai 83,74 [4]. Artinya apa? Artinya kita belum bisa santai sambil bilang, “Tenang, demokrasi kita sudah matang.” Belum. Resmi belum.


Kalau demokrasi kita masih kategori sedang, maka pendidikan politik menjadi kebutuhan jangka panjang, bukan hiburan musiman lima tahunan. Ini seperti tubuh yang hasil cek kesehatannya belum ideal. Dalam kondisi begitu, kita tidak bilang, “Ah, olahraga nanti saja kalau sempat.” Justru karena kondisinya belum prima, latihan harus lebih serius. Begitu pula dengan demokrasi. Ketika kapasitas lembaganya belum tinggi dan aspek kebebasan belum sepenuhnya kokoh [4], maka warga negara perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, membaca institusi, memahami aturan main, dan membedakan kepentingan publik dari kepentingan sempit.


Pendidikan politik di sini bukan indoktrinasi. Ini penting dibedakan. Pendidikan politik yang sehat bukan mengajari murid untuk mencintai partai tertentu, tokoh tertentu, atau ideologi yang dipaksa mentah-mentah. Pendidikan politik yang sehat justru melatih murid untuk curiga secara rasional, bertanya dengan tertib, memeriksa informasi, memahami dasar konstitusi, dan menilai kebijakan berdasarkan dampaknya bagi publik. Kalau matematika mengajarkan langkah pembuktian, pendidikan politik mengajarkan langkah pemeriksaan. Dua-duanya sama-sama melatih pikiran agar tidak jadi empuk saat ditekan.


Riset BRIN yang dimuat dalam jurnal Masyarakat Indonesia tahun 2024 juga memberi penekanan penting. Studi kualitatif berbasis 20 informan dari KPU, Bawaslu, dan mahasiswa itu menyimpulkan bahwa partisipasi politik Generasi Z melalui media sosial dapat meningkatkan literasi politik dan mendukung pemilu yang lebih berintegritas dan berkualitas [5]. Ini menarik, karena menunjukkan bahwa habitat politik anak muda hari ini tidak lagi cuma ruang kelas, aula sekolah, atau lapangan upacara. Habitatnya juga layar. Jempol. Notifikasi. Algoritma. Timeline.


Maka pendidikan politik yang serius harus paham ekologi zaman. Gak bisa cuma berhenti pada hafalan definisi demokrasi dan pembagian lembaga negara. Itu penting, tapi tidak cukup. Murid juga perlu dilatih membaca bagaimana opini dibentuk di media sosial, bagaimana narasi politik dikemas agar viral, bagaimana emosi dipakai untuk mengalahkan fakta, dan kenapa sesuatu yang ramai belum tentu benar. Dalam dunia digital, kebohongan bisa berlari seperti motor tanpa knalpot, sementara klarifikasi jalan kaki sambil nyari sandal. Tanpa pendidikan politik yang kuat, generasi muda akan lebih sering jadi target pasar ketimbang subjek demokrasi.


Sampai titik ini, ada batas yang harus dijaga agar argumen tetap jujur secara faktual. Sumber-sumber yang ada memang kuat untuk mendukung bahwa pendidikan politik sudah punya dasar kurikuler [1], sangat relevan karena mayoritas pemilih adalah anak muda [3], dan penting karena kualitas demokrasi Indonesia masih kategori sedang [4]. Namun sumber-sumber itu tidak membuktikan secara langsung bahwa pendidikan politik harus punya bobot jam belajar yang identik persis dengan matematika. Jadi kalau mau aman dan jujur, formulasi yang paling tepat adalah begini: pendidikan politik sudah layak diposisikan sebagai kompetensi dasar yang sama seriusnya dengan pelajaran inti lain, bukan sekadar pelengkap [1][3][4].


Kenapa penting menjaga batas ini? Karena kalau kita melebih-lebihkan klaim, argumen yang sebetulnya kuat malah jadi gampang ditembak. Ini kayak bikin jembatan: kalau pondasinya kokoh, ngapain nambah ornamen berlebihan yang justru bikin rapuh? Jadi kita tidak perlu bilang pendidikan politik harus menggeser matematika. Kita cukup bilang bahwa sekolah yang menganggap pendidikan politik sebagai urusan nomor dua sedang mengambil risiko besar terhadap kualitas warga negaranya. Itu sudah cukup keras, cukup logis, dan cukup bertanggung jawab.


Selain itu, perlu juga ditekankan bahwa pendidikan politik bukan saingan pelajaran lain. Ia partner. Matematika melatih ketelitian. Bahasa melatih ekspresi dan pemahaman. Sejarah melatih ingatan sosial. Pendidikan politik menyatukan semuanya dalam kehidupan publik. Untuk memahami isu anggaran, butuh logika angka. Untuk membaca undang-undang atau debat kebijakan, butuh kemampuan bahasa. Untuk menilai arah bangsa, butuh sejarah. Jadi pendidikan politik bukan berdiri sendiri seperti warung terpisah. Ia lebih mirip persimpangan tempat banyak keterampilan sekolah bertemu lalu diuji dalam kehidupan nyata.


Bayangkan seorang siswa yang cerdas secara akademik, ranking bagus, fasih presentasi, tapi ketika melihat politik ia langsung menyerah dengan kalimat, “Ah, semua sama aja.” Kalimat itu kelihatannya sinis, tapi sebenarnya tragis. Karena itu tanda pendidikan kita berhasil membuat orang pintar, tetapi belum tentu membuat mereka merasa punya hubungan dengan republik. Padahal demokrasi yang sehat butuh warga yang percaya partisipasinya berarti. Bukan warga yang apatis, lalu membiarkan panggung dikuasai mereka yang paling ribut.


Di Indonesia, problem terbesar sering bukan ketiadaan semangat sesaat, melainkan kurangnya pembiasaan berpikir politik secara waras sejak dini. Kita sering kebut menjelang pemilu: seminar, baliho, konten edukasi, ajakan nyoblos. Semua penting. Tapi kalau pendidikan politik cuma hidup menjelang pemilu, itu seperti belajar matematika cuma seminggu sebelum ujian nasional. Hasilnya mungkin cukup untuk lolos, tapi tidak cukup untuk paham. Politik yang dipelajari dadakan melahirkan pemilih yang gampang panik, gampang kagum, gampang marah, dan gampang lupa.


Karena itu sekolah perlu dilihat sebagai bengkel kewarganegaraan. Di bengkel, murid bukan cuma diberi teori mesin, tapi diajak ngerti cara kerja, mengenali bunyi yang janggal, dan tahu kapan sesuatu perlu diperiksa. Pendidikan politik yang serius juga begitu. Murid perlu diajak memahami bagaimana kebijakan publik memengaruhi hidup sehari-hari: harga transportasi, beasiswa, ruang kebebasan berpendapat, pelayanan publik, perlindungan hukum, sampai relasi pusat-daerah [1]. Politik bukan benda asing di gedung parlemen. Ia ada di tarif, di jalan rusak, di antrean rumah sakit, di kesempatan kerja, di keamanan data, di kualitas udara, dan di banyak hal yang tiap hari menempel di kulit hidup kita.


Fokus ini justru membuat pendidikan politik terasa praktis. Selama ini banyak orang alergi pada kata “politik” karena membayangkannya sebagai intrik elite. Padahal pada level pendidikan, yang dibutuhkan bukan romantika elite, melainkan literasi warga. Bagaimana negara bekerja. Hak apa yang dimiliki warga. Lembaga apa yang bisa diawasi. Prosedur apa yang harus dipahami. Dan etika apa yang perlu dijaga saat berbeda pilihan. Kalau ini ditanamkan dengan benar, kita tidak sedang menyiapkan murid menjadi buzzer; kita sedang menyiapkan mereka jadi manusia yang tidak mudah dibeli ketakutan dan tidak mudah disetir kemarahan.


Peran media sosial juga menuntut perubahan metode. Temuan BRIN tadi memberi sinyal bahwa partisipasi politik Gen Z melalui media sosial bisa meningkatkan literasi politik dan mendukung pemilu yang lebih berkualitas [5]. Tapi sisi lainnya jelas: media sosial juga bisa jadi pabrik kebisingan. Maka pendidikan politik harus membekali murid dengan semacam kompas digital. Misalnya: bagaimana memeriksa sumber informasi, bagaimana membedakan opini, analisis, dan fakta, bagaimana memahami bahwa video singkat bisa memotong konteks, dan bagaimana algoritma cenderung memberi kita apa yang kita sukai, bukan apa yang kita perlukan. Tanpa bekal ini, ruang digital akan lebih sering jadi arena adu volume daripada adu argumen.


Ada juga alasan moral yang sering luput. Sekolah selalu bicara masa depan. Tetapi masa depan itu bukan cuma soal profesi, melainkan juga soal sistem tempat profesi itu hidup. Seorang dokter yang hebat tetap butuh kebijakan kesehatan publik yang waras. Insinyur yang andal tetap butuh tata kelola anggaran yang bersih. Guru terbaik pun tetap butuh kebijakan pendidikan yang tidak amburadul. Jadi, pendidikan politik bukan tambahan di luar cita-cita profesional murid. Ia justru melindungi kemungkinan cita-cita itu berkembang di dalam negara yang relatif sehat.


Kalau begitu, kenapa pendidikan politik harus dipandang sama seriusnya dengan matematika atau pelajaran inti lain? Jawaban logisnya bisa diringkas begini:


  • Karena negara sudah memasukkan materi demokrasi, hukum, HAM, dan konstitusi ke dalam capaian pembelajaran resmi, sehingga statusnya memang bukan urusan sambilan [1].
  • Karena mayoritas pemilih Indonesia adalah milenial dan Gen Z, sehingga kualitas demokrasi sangat bergantung pada kualitas literasi politik generasi muda [3].
  • Karena partisipasi pemilu yang tinggi belum otomatis berarti kualitas partisipasi merata dan matang, apalagi jika masih ada kesenjangan partisipasi kelompok seperti pemilih disabilitas [2].
  • Karena indikator resmi menunjukkan demokrasi Indonesia masih berada pada kategori sedang, sehingga penguatan warga negara melalui pendidikan politik masuk akal sebagai kebutuhan nasional [4].
  • Karena riset menunjukkan partisipasi politik generasi muda, termasuk melalui media sosial, berkaitan dengan peningkatan literasi politik dan kualitas pemilu [5].

Tentu, semua ini tidak berarti sekolah harus berubah jadi arena kampanye. Justru sebaliknya. Semakin serius pendidikan politik, semakin penting menjaga netralitas dan kedalaman metode. Guru tidak perlu menyuruh murid mencintai satu kubu. Yang perlu dilakukan adalah mengajarkan cara menilai semua kubu secara kritis. Guru tidak perlu memberi kesimpulan final tentang siapa yang paling benar. Yang perlu dibangun adalah kebiasaan bertanya: dasar datanya apa, dampaknya ke siapa, aturannya bagaimana, hak warga dilindungi atau tidak.


Di titik paling sederhana, pendidikan politik adalah seni merawat akal sehat publik. Sesuatu yang kelihatannya abstrak, padahal dampaknya sangat konkret. Tanpa itu, demokrasi bisa berubah jadi pasar malam yang ramai lampu tapi minim peta. Orang datang berdesakan, musik keras, janji beterbangan, tapi sedikit yang benar-benar tahu pintu masuk, pintu keluar, dan siapa yang sedang memegang kunci listrik. Dengan pendidikan politik yang kuat, keramaian itu bisa pelan-pelan berubah jadi ruang warga yang lebih sadar posisi, sadar hak, dan sadar tanggung jawab.


Jadi, kalau hari ini masih ada yang bertanya mengapa pendidikan politik perlu dipandang sama pentingnya dengan matematika atau pelajaran sekolah lainnya, jawaban paling jujurnya adalah karena Indonesia sedang hidup di era ketika kualitas warga negara menentukan kualitas negara. Sekolah tidak cukup hanya melatih anak untuk menjawab soal. Sekolah juga harus melatih mereka untuk menghadapi sistem. Bukan agar semua jadi politisi, tapi agar tidak ada yang terlalu polos di hadapan politik.


Pada akhirnya, republik ini bukan cuma dibangun oleh orang-orang yang pandai menghitung, tetapi juga oleh orang-orang yang paham apa yang sedang dihitung, untuk siapa, dan dengan akibat seperti apa. Matematika tetap penting. Sangat penting. Tapi dalam demokrasi, pendidikan politik adalah pelajaran tentang bagaimana angka suara, angka anggaran, angka indeks, dan angka-angka lain itu diterjemahkan menjadi nasib manusia. Dan ketika nasib manusia dipertaruhkan, menganggap pendidikan politik sebagai pelengkap jelas sudah tidak cukup lagi.


Sumber Referensi

  1. Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila pada Kurikulum Merdeka (Keputusan Kepala BSKAP Nomor 033/H/KR/2023)
  2. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 1043 Tahun 2024 tentang Tingkat Partisipasi Pemilih yang Menggunakan Hak Pilihnya pada Hari Pemungutan Suara dalam Pemilu 2024
  3. Lembar Fakta KPU Edisi 1: Pemilih Berdasarkan Usia/Generasi pada Pemilu 2024
  4. Statistik Politik 2024 - Badan Pusat Statistik
  5. SMART POLITICAL MOVEMENT: BUILDING POLITICAL LITERACY WITH Z GENERATION PARTICIPATION IN THE 2024 ELECTIONS | Masyarakat Indonesia (BRIN)
Artikel lain dari penulis ini
Iklan