Kalau saya boleh bicara pelan-pelan sebagai orang yang sudah cukup lama melihat perubahan hiburan kampung, perkara Sound Horeg ini memang tidak bisa dinilai hanya dari telinga kita saja. Dari jauh, orang mudah bilang: itu cuma bising, itu mengganggu, itu tidak ada gunanya. Tetapi kalau kita mau jujur melihat kenyataan di lapangan, ada alasan-alasan yang cukup logis mengapa sebagian warga di sejumlah desa di Jawa Timur menyukai kehadiran Sound Horeg. Yang perlu diluruskan sejak awal, yang didukung oleh riset bukanlah klaim bahwa seluruh masyarakat Jawa Timur menyukai kebisingan itu. Bukti yang ada justru menunjukkan bahwa di komunitas-komunitas tertentu, Sound Horeg diterima karena ia membawa pengalaman sosial yang ramai, meriah, dan terasa milik bersama [1][2][3][4].
Jadi, persoalannya bukan sesederhana “orang suka bising”. Kalimat itu terlalu pendek untuk menjelaskan kenyataan yang lebih panjang. Yang lebih tepat, sebagian warga menyukai suasana kolektif yang datang bersama Sound Horeg: ada arak-arakan, ada kumpul tetangga, ada rasa hidup di kampung sedang bergerak, ada anak muda yang ikut berpartisipasi, ada pedagang kecil yang kebagian rezeki, dan ada rasa bangga bahwa hiburan desa juga bisa punya bentuknya sendiri [1][2][3][4]. Dalam sudut pandang seperti ini, suara keras hanyalah salah satu unsur, bukan satu-satunya alasan.
Kalau kita bicara berdasarkan catatan riset, temuan yang paling kuat adalah soal fungsi Sound Horeg sebagai hiburan rakyat dan perekat kebersamaan. Riset lapangan yang dipaparkan dalam forum CICP UGM menjelaskan bahwa pada karnaval desa di Jawa Timur, Sound Horeg dipahami warga sebagai hiburan yang meriah sekaligus ruang berkumpul yang menguatkan rasa guyub [2]. Artinya, orang datang bukan sekadar untuk mendengar dentuman, melainkan untuk hadir bersama-sama. Di kampung, perasaan “bareng-bareng” itu nilainya tinggi. Orang tua menonton dari pinggir jalan, anak-anak berlarian, pemuda ikut mengatur jalannya acara, ibu-ibu melihat sambil bercakap-cakap. Dalam masyarakat desa, suasana seperti itu tidak bisa diremehkan. Ia menghidupkan hubungan sosial yang dalam keseharian kadang renggang oleh kerja, urusan rumah, dan beban ekonomi.
Dari sini, kita bisa paham alasan pertama yang logis: Sound Horeg disukai sebagian warga karena ia menghadirkan keramaian bersama yang sulit digantikan oleh hiburan individual. Televisi bisa ditonton sendiri, telepon genggam bisa dipakai sendiri, tetapi arak-arakan kampung yang menggetarkan jalan desa itu sifatnya bersama-sama. Dalam kehidupan modern yang makin banyak membuat orang sibuk sendiri, acara seperti ini memberi kesempatan bertemu dalam ruang publik desa. Ini bukan dugaan kosong, melainkan sejalan dengan temuan bahwa Sound Horeg dipraktikkan sebagai hiburan rakyat yang merapatkan interaksi sosial warga [2].
Alasan kedua yang juga masuk akal ialah fungsi ekonomi lokalnya. Dalam paparan riset CICP UGM disebutkan bahwa warga bisa menutup kembali iuran melalui aktivitas berdagang, dan pendapatan parkir juga dapat diarahkan untuk kepentingan publik seperti renovasi fasilitas umum [2]. Sementara itu, studi dari Universitas Jember mengenai Desa Bumirejo, Blitar, menyebut adanya manfaat ekonomi, terutama bagi pelaku usaha kecil atau UMKM yang berjualan saat parade berlangsung [3]. Ini penting sekali. Bagi orang kecil, acara ramai itu bukan cuma tontonan, melainkan juga peluang pemasukan. Orang jual minuman, makanan ringan, rokok, mainan, atau jasa parkir. Dalam ekonomi desa yang serba mepet, tambahan perputaran uang seperti itu terasa nyata.
Di sinilah kadang orang luar salah paham. Mereka melihat loudspeaker besar, kabel, mobil, dan kerumunan, lalu mengira semuanya hanya soal hura-hura. Padahal bagi sebagian warga, ada hitung-hitungan manfaat yang praktis. Kalau sebuah acara bisa menarik massa, maka warung ikut ramai. Kalau orang datang berbondong-bondong, maka pedagang dadakan hidup. Kalau parkir tertata dan hasilnya dipakai untuk kepentingan umum, warga merasa ada timbal balik yang jelas [2][3]. Jadi, dukungan terhadap Sound Horeg tidak selalu lahir dari selera musik semata, tetapi juga dari pertimbangan ekonomi yang sangat membumi.
Alasan ketiga menyentuh sisi yang lebih halus, yaitu fungsi simbolik dan psikososial. Artikel antropologi dari UGM menjelaskan bahwa festival Sound Horeg melampaui hiburan biasa. Bagi petani kecil, ia dapat menjadi semacam jeda simbolik untuk keluar sementara dari posisi subordinat; dentuman bass dibaca sebagai katup pelepas frustrasi dan bentuk perlawanan halus terhadap tekanan struktural [1]. Ini bagian yang sering tidak dipahami kalau kita cuma menilai dari ukuran keras atau tidak keras. Ada orang-orang yang hidupnya sehari-hari penuh tekanan: kerja berat, penghasilan tidak selalu pasti, posisi sosial biasa-biasa saja, dan ruang untuk mengekspresikan diri sempit. Ketika ada acara yang besar, ramai, dan terasa bebas, mereka memperoleh pengalaman emosional yang berbeda dari rutinitas harian.
Kalau bahasa sederhananya begini: orang kecil juga ingin punya panggung kegembiraan. Tidak setiap ekspresi harus rapi, halus, dan sesuai selera kalangan atas. Kadang-kadang justru yang meledak-ledak itu terasa lebih jujur bagi mereka yang hidupnya selama ini terlalu banyak menahan diri. Dalam kerangka riset antropologi, bunyi besar pada Sound Horeg dapat dibaca bukan semata sebagai gangguan, tetapi juga sebagai bahasa sosial: tanda hadir, tanda berani tampil, tanda bahwa ruang desa tidak sepenuhnya diatur oleh selera elite [1]. Tentu ini bukan pembenaran bahwa semua kebisingan baik, melainkan penjelasan mengapa sebagian orang menganggapnya menarik.
Alasan keempat adalah soal identitas budaya dari bawah. Rilis riset CICP UGM menekankan bahwa Sound Horeg merupakan produk budaya wong cilik yang tumbuh secara organik di luar arus hiburan utama [2]. Bagi saya, ini penting sekali untuk dipahami. Banyak bentuk hiburan formal sering datang dari atas: panggung resmi, aturan resmi, selera resmi, penyelenggara resmi. Sementara Sound Horeg tumbuh dari kebutuhan warga sendiri untuk membangun keseruan versinya sendiri. Karena itulah, sebagian masyarakat merasa ini dekat dengan mereka. Ia bukan hiburan yang terasa asing, melainkan sesuatu yang lahir dari lingkungan sosial mereka sendiri [2].
Ketika sebuah kesenangan muncul dari bawah, orang yang terlibat biasanya merasa memiliki. Rasa memiliki itu membuat penerimaan sosial lebih kuat. Warga tidak merasa sedang menjadi penonton pasif dari pertunjukan orang lain, tetapi merasa ikut membentuk acaranya. Dalam sudut pandang ini, selera terhadap Sound Horeg bukan sekadar soal telinga, melainkan soal identitas. Ia menjadi penanda bahwa masyarakat kecil pun punya cara sendiri untuk merayakan, berkumpul, dan menunjukkan seleranya [2]. Maka, tidak heran bila sebagian warga mempertahankannya, sebab yang dipertahankan bukan hanya acara, melainkan juga rasa kepemilikan budaya.
Alasan kelima berkaitan dengan perbedaan generasi. Studi di Desa Bumirejo, Blitar, menyebut generasi muda cenderung lebih mudah menerima Sound Horeg sebagai bagian budaya populer, sementara generasi yang lebih tua cenderung mempertahankan norma tradisional [3]. Ini juga sangat masuk akal. Setiap zaman punya kesenangan masing-masing. Anak muda biasanya lebih terbuka pada bentuk hiburan yang enerjik, mencolok, dan ramai. Mereka melihatnya sebagai bagian dari ekspresi masa kini. Sebaliknya, kalangan tua sering menimbang dengan ukuran ketenangan, kepantasan, dan adat yang lebih mapan. Jadi, penerimaan terhadap Sound Horeg tidak seragam bahkan di satu desa yang sama [3].
Maka kalau ada orang bertanya, “Kenapa kok ramai sekali yang suka?” salah satu jawabannya adalah karena kelompok muda sering menjadi motor penerimaan sosialnya. Mereka lebih cepat memaknai Sound Horeg sebagai hiburan populer dan simbol pergaulan zaman sekarang [3]. Namun, ini tidak berarti suara kelompok tua tidak penting. Justru perbedaan pandangan antargenerasi itulah yang menjelaskan kenapa Sound Horeg selalu berada di tengah tarik-menarik: di satu sisi dianggap meriah dan menghidupkan acara, di sisi lain dinilai terlalu bising atau terlalu jauh dari norma lama.
Alasan keenam adalah ketika Sound Horeg berhasil diintegrasikan ke dalam tradisi desa melalui musyawarah. Studi kasus di Desa Medali, Mojokerto, menunjukkan bahwa integrasi Sound Horeg ke tradisi ruwat desa berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, RT, pemuda, dan penyedia sound, dan hasilnya dilaporkan meningkatkan partisipasi warga, khususnya anak muda [4]. Ini temuan yang sangat berharga. Ia menunjukkan bahwa penerimaan sosial tidak berdiri sendiri; ia bisa tumbuh karena ada proses pengaturan, pembingkaian, dan persetujuan bersama.
Kalau sesuatu hadir tiba-tiba tanpa rembugan, orang mudah menolak. Tetapi kalau dimasukkan ke acara komunal lewat musyawarah, maka bunyinya tidak lagi dibaca sekadar sebagai kebisingan liar. Ia berubah menjadi bagian dari perayaan yang diakui bersama [4]. Dalam budaya desa, legitimasi sosial lewat rembug kampung itu besar nilainya. Orang boleh berbeda selera, tetapi kalau sudah dibicarakan dan ditempatkan pada konteks acara bersama, sebagian warga akan lebih bisa menerima. Jadi, salah satu alasan logis mengapa Sound Horeg disukai di tempat tertentu adalah karena ia tidak berdiri sebagai gangguan acak, melainkan sebagai unsur acara desa yang sudah dinegosiasikan secara sosial [4].
Sampai di sini, kita bisa menarik benang merah. Sebagian warga di sejumlah desa menyukai Sound Horeg bukan terutama karena “makin bising makin bagus”. Bukti yang ada justru lebih mendukung penjelasan bahwa yang mereka nikmati adalah paket pengalaman sosialnya [1][2][3][4]. Paket itu berisi hiburan rakyat, kesempatan berkumpul, penguatan relasi sosial, peluang ekonomi, ruang ekspresi anak muda, identitas budaya wong cilik, dan kadang juga pelepasan tekanan psikologis [1][2][3][4]. Suara keras menjadi salah satu pembentuk suasana, tetapi bukan inti tunggal dari penerimaan itu.
Perlu juga jujur dikatakan bahwa penelitian yang tersedia memiliki keterbatasan. Hampir semua sumber yang disebut di sini bersifat kualitatif atau studi kasus lokal, misalnya pada konteks Malang, Blitar, dan Mojokerto [1][2][3][4]. Itu berarti kita tidak boleh ceroboh mengubah temuan lokal menjadi klaim bahwa seluruh warga Jawa Timur menyukai Sound Horeg. Belum ada dasar kuat dalam bahan yang diberikan untuk mengatakan ada dukungan representatif skala provinsi. Jadi, kalau mau akurat, kalimat yang tepat adalah: ada sebagian warga di sejumlah komunitas desa di Jawa Timur yang menerima atau menyukai fenomena ini karena alasan-alasan sosial tertentu [1][2][3][4].
Di sinilah kehati-hatian penting. Sebagai orang tua, saya kira kita harus belajar membedakan antara memahami dan membenarkan. Memahami alasan orang menyukai Sound Horeg bukan berarti kita menutup mata terhadap dampak negatifnya. Sumber-sumber yang ada juga mencatat sisi lain yang konsisten muncul: gangguan kenyamanan, rasa tidak aman bagi sebagian warga, terutama lansia dan anak-anak, potensi konflik sosial, serta risiko kesehatan dan ketertiban. Jadi pembahasannya memang harus seimbang. Jangan tergelincir menjadi dua kubu ekstrem: satu kubu memuja tanpa batas, satu kubu menghina tanpa mau mengerti.
Soal risiko ini, konteks regulasi juga penting. Karena polemik dampaknya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Polda Jawa Timur, dan Kodam V/Brawijaya menerbitkan Surat Edaran Bersama tertanggal 6 Agustus 2025 tentang penggunaan sound system atau pengeras suara di wilayah Jawa Timur [5]. Adanya surat edaran semacam ini menunjukkan bahwa negara melihat persoalan Sound Horeg bukan sekadar urusan selera hiburan, tetapi juga urusan ketertiban umum, kesehatan masyarakat, dampak sosial yang bisa bertentangan dengan norma, serta pencegahan kerusakan fasilitas umum atau properti [5].
Dalam surat edaran itu, penggunaan nonstatis atau berpindah seperti karnaval dibatasi maksimal 85 dBA, sedangkan pertunjukan musik atau seni statis di ruang terbuka maupun tertutup dapat mencapai maksimal 120 dBA dengan izin [5]. Dari sini kita mendapat pelajaran penting: sekalipun sebagian masyarakat menyukai format hiburan yang ramai dan bertenaga, tetap ada batas yang harus dijaga. Kesukaan sosial tidak otomatis berarti aman. Sesuatu bisa populer, tetapi tetap perlu diatur agar tidak merugikan pihak lain. Itulah gunanya tata kelola publik.
Kalau kita tarik ke panduan kesehatan yang lebih umum, WHO juga menekankan bahwa kebisingan lingkungan dan leisure noise perlu dibatasi karena dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan. Maka, cara menulis dan memandang fenomena ini sebaiknya tidak hitam-putih. Di satu sisi, memang ada alasan sosial-budaya mengapa Sound Horeg disukai sebagian warga. Di sisi lain, itu tidak berarti semua orang nyaman, dan tidak berarti pula risikonya bisa diabaikan. Kebijaksanaan justru lahir ketika kita bisa memegang dua kenyataan ini sekaligus.
Menurut saya, ada satu pelajaran sosial yang penting dari fenomena ini. Kadang-kadang yang dianggap “ribut” oleh satu kelompok, justru dirasakan sebagai “hidup” oleh kelompok lain. Ini sering terjadi dalam perubahan budaya populer. Orang yang terbiasa dengan ketenangan akan melihat bunyi besar sebagai ancaman kenyamanan. Orang yang rindu ruang ekspresi akan melihat bunyi besar sebagai tanda kebebasan dan perayaan. Dua perasaan ini bisa sama-sama nyata. Karena itu, solusi terbaik bukan saling mengejek, melainkan saling mengakui bahwa kebutuhan sosial warga memang tidak seragam.
Dalam kerangka itulah, penjelasan tentang mengapa sebagian warga menyukai Sound Horeg menjadi lebih jernih. Mereka tidak sedang sekadar memuja kebisingan kosong. Banyak di antara mereka sedang mencari atau merayakan hal-hal yang sangat manusiawi: ingin berkumpul, ingin bersenang-senang, ingin kampungnya ramai, ingin dagangannya laku, ingin anak muda punya ruang, ingin ada rasa bangga pada hiburan yang lahir dari lingkungan sendiri, dan ingin sejenak lepas dari tekanan hidup yang tidak ringan [1][2][3][4]. Bila dilihat dari dekat, alasan-alasan ini tidak aneh sama sekali.
Namun, saya juga perlu menegaskan bagian yang tidak boleh dilompati. Menjelaskan alasan logis tidak sama dengan menyuruh semua desa meniru hal yang sama. Penerimaan terhadap Sound Horeg sangat bergantung pada konteks lokal: siapa warganya, bagaimana musyawarahnya, di mana lokasinya, seberapa tertib penyelenggaraannya, dan apakah ada pengendalian dampaknya [4][5]. Di tempat yang satu ia bisa menjadi hiburan komunal yang diterima, di tempat lain ia bisa memicu penolakan keras. Itu sebabnya generalisasi besar tentang “masyarakat Jawa Timur” sebaiknya dihindari karena tidak sesuai dengan batas bukti yang tersedia [1][2][3][4].
Kalau disarikan secara sederhana, ada beberapa alasan logis yang paling menonjol mengapa sebagian warga di sejumlah desa Jawa Timur menyukai Sound Horeg:
- Ia berfungsi sebagai hiburan rakyat yang meriah dan menjadi perekat kebersamaan warga [2].
- Ia membuka peluang ekonomi lokal bagi pedagang kecil, UMKM, dan bahkan pemasukan parkir untuk kepentingan umum [2][3].
- Ia memiliki makna simbolik sebagai ruang pelepasan tekanan sosial dan ekspresi bagi kelompok yang sehari-hari berada pada posisi lemah [1].
- Ia dipandang sebagai budaya yang tumbuh dari bawah, dari selera wong cilik, bukan sekadar tiruan hiburan formal [2].
- Ia lebih mudah diterima generasi muda sebagai bagian dari budaya populer [3].
- Ia cenderung lebih diterima bila diintegrasikan ke tradisi desa melalui musyawarah dan tata kelola bersama [4].
Tetapi di samping semua itu, tetap ada catatan yang tidak boleh dibuang:
- Tidak ada bukti kuat bahwa orang menyukai kebisingannya semata; yang lebih tepat adalah mereka menyukai pengalaman kolektif yang dibawa oleh format itu [1][2][3][4].
- Bukti yang tersedia masih dominan kualitatif dan lokal, belum mewakili seluruh Jawa Timur [1][2][3][4].
- Ada risiko nyata terkait kenyamanan, kesehatan, ketertiban, dan potensi konflik sosial, sehingga pengaturan tetap diperlukan [5].
Pada akhirnya, kalau ada yang bertanya kepada saya, “Apa alasan logis kenapa sebagian warga menyukai Sound Horeg?” jawaban saya sederhana saja: karena bagi mereka, itu bukan cuma bunyi keras. Itu adalah suasana ramai yang menyatukan orang, menggerakkan ekonomi kecil, memberi ruang pada anak muda, menandai identitas budaya kampung, dan kadang menjadi pelampiasan dari hidup yang berat [1][2][3][4]. Tetapi sebagai orang yang sudah makan asam garam, saya juga akan menambahkan satu kalimat penting: semua itu harus tetap ditimbang dengan akal sehat, musyawarah, dan aturan, supaya kegembiraan satu pihak tidak berubah menjadi beban bagi pihak yang lain [5].
Jadi, sikap yang paling adil barangkali begini. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa yang suka Sound Horeg pasti tidak peduli ketertiban. Bisa jadi mereka sedang mempertahankan ruang kebersamaan yang terasa berharga bagi hidup sosial mereka. Tapi jangan juga menutup telinga terhadap warga yang terganggu, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Kebudayaan yang sehat bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menampung kegembiraan tanpa mengorbankan keselamatan dan kenyamanan bersama. Di situlah letak kedewasaan masyarakat, dan di situlah pula fenomena Sound Horeg sebaiknya dipahami.
Sumber Referensi
- Yang Penting Horeg!: Sound Horeg dan Klaim atas Ruang Kuasa Pedesaan | Lembaran Antropologi (UGM)
- Angkringan #29 dengan tajuk “Yang Penting Horeg: Melihat Dari Perspektif Pinggir” – Center for Indigenous and Cultural Psychology, Fakultas Psikologi UGM
- Dampak Parade Sound Horeg terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Bumirejo, Kabupaten Blitar | Jurnal Intervensi Sosial
- Collaborative Governance dalam Pelestarian dan Transformasi Tradisi Ruwat Desa: Studi Kasus Integrasi Sound Horeg di Desa Medali, Kabupaten Mojokerto | Garuda
- Surat Edaran Bersama tentang Penggunaan Sound System / Pengeras Suara di Wilayah Jawa Timur, 6 Agustus 2025 | JDIH Provinsi Jawa Timur