Johana Sunarti: Perisai Cinta dan Keteguhan di Balik Sang Jenderal Nasution

← Kembali ke Blogs

Johana Sunarti: Perisai Cinta dan Keteguhan di Balik Sang Jenderal Nasution

Ditulis oleharifrahmawan·
0 unik hari ini 3 unik 7 hari 27 unik 30 hari 27 total unik
Johana Sunarti: Perisai Cinta dan Keteguhan di Balik Sang Jenderal Nasution
Iklan

Malam itu, Jakarta belum benar-benar terjaga, tetapi ketegangan sejarah sudah mengetuk pintu dengan cara yang paling kejam. Pada dini hari 1 Oktober 1965, rumah Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar No. 40 diserbu dalam sebuah upaya penculikan dan pembunuhan. Dalam ringkasan kesaksian yang tercatat di katalog Perpustakaan Komnas HAM, sekitar pukul 04.00 Johana atau Yohana Sunarti terbangun; terdengar tembakan, dan pintu depan dibuka paksa. Nasution kemudian lolos dari upaya penculikan itu, tetapi tragedi tersebut merenggut nyawa putri mereka, Ade Irma Suryani, serta ajudannya, Lettu Czi Pierre Tendean [1].


Dalam banyak kisah populer, Johana Sunarti kerap dikenang sebagai perempuan yang berdiri di antara maut dan keluarganya. Ia digambarkan sebagai perisai cinta, sosok yang dalam sepersekian detik memilih keberanian ketika rasa takut semestinya melumpuhkan siapa pun. Namun, penting untuk jujur pada pembaca: detail detik demi detik yang sangat dramatik tentang gerak tubuh, kalimat yang diucapkan, atau bagaimana tepatnya ia melindungi suaminya tidak seluruhnya dapat dipastikan hanya dari sumber web yang tersedia di sini. Yang dapat ditegaskan dengan kuat adalah ini: Sunarti berada di rumah pada saat penyerbuan terjadi, Nasution selamat dari upaya penculikan, dan putri kecil mereka menjadi korban luka tembak yang kemudian merenggut nyawanya [1]. Justru dalam keterbatasan detail itulah, sosok Sunarti tampil makin nyata: bukan tokoh yang dibangun dari legenda kosong, melainkan seorang ibu dan istri yang benar-benar berdiri di tengah malam sejarah yang berdarah.


Nama yang kita kenal sebagai Johana Sunarti juga hadir dengan variasi ejaan di berbagai arsip: ada yang menulis Johana, Johanna, bahkan Yohana. Untuk konsistensi tulisan ini, kita menggunakan bentuk “Johana Sunarti”, sambil tetap mengakui bahwa variasi ejaan itu memang muncul dalam sumber-sumber resmi dan arsip [1][2]. Kadang, hal kecil seperti ejaan nama terasa sepele. Namun dalam sejarah, ejaan yang berbeda sering mengingatkan kita bahwa seorang manusia tidak hanya hidup di dalam satu dokumen, melainkan di banyak ingatan, banyak lembaga, dan banyak lapisan peran. Sunarti bukan semata nama yang menempel pada seorang jenderal besar; ia adalah pribadi utuh yang jejak hidupnya sendiri terhampar panjang.


Jauh sebelum malam 1 Oktober 1965 mengabadikannya dalam ingatan nasional, Johana Sunarti Gondokusumo telah tumbuh dalam lingkungan yang membentuk watak kuat. Ia lahir di Surabaya pada 1 November 1923 [2]. Sumber resmi Ramon Magsaysay Award Foundation menyebutkan bahwa ia menempuh pendidikan di Yogyakarta dan Bandung, lalu menikah dengan Abdul Haris Nasution pada tahun 1947 [2]. Kompas juga mencatat bahwa ia adalah putri Gondokusumo, seorang pejuang angkatan dr. Soetomo [3]. Latar keluarga ini memberi isyarat penting: keberanian Sunarti bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba dalam satu malam yang mencekam, melainkan watak yang ditempa oleh suasana zaman, pendidikan, dan teladan perjuangan di sekelilingnya.


Bila kita membayangkan seorang perempuan Indonesia yang tumbuh pada paruh pertama abad ke-20, kita sedang membayangkan masa yang tidak sederhana. Itu adalah zaman ketika bangsa ini bergerak dari kolonialisme menuju kemerdekaan, dari harapan menuju konflik, dari cita-cita menuju pergulatan politik yang keras. Dalam lanskap seperti itu, perempuan sering kali dipaksa berada di wilayah sunyi: mendukung, merawat, menahan cemas, tetapi jarang ditulis sebagai pelaku sejarah yang memiliki kehendak sendiri. Sunarti tampaknya bergerak melampaui batas sempit itu. Riset resmi tentang dirinya menandakan bahwa sejak awal ia bukan perempuan yang sekadar berdiri di belakang panggung. Ia terlibat dalam pergerakan sosial, memiliki orientasi pelayanan publik, dan kelak membangun karya yang berdiri independen dari bayang-bayang karier militer suaminya [2].


Pertemuannya dengan Abdul Haris Nasution mempertemukan dua jalur pengabdian: militer dan sosial, negara dan keluarga, strategi dan ketabahan. Ketika mereka menikah pada 1947 [2], republik masih muda, rapuh, dan penuh ujian. Menjadi istri seorang perwira pada masa seperti itu bukanlah pilihan menuju kemapanan yang tenang. Itu adalah jalan hidup yang mengandung perpindahan, tekanan politik, ancaman keamanan, serta tuntutan untuk tampak kuat bahkan ketika hati compang-camping. Dalam konteks inilah, Sunarti layak dipahami bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan batin keluarga. Banyak orang menjadi besar di ruang publik, tetapi hanya sedikit yang dapat tetap tegak karena ada seseorang yang menjaga nyala tenang di ruang privat. Dalam kehidupan A.H. Nasution, peran itu tak bisa dilepaskan dari Johana Sunarti.


Keluarga kecil mereka kemudian dianugerahi dua putri, Hendriyanti Sahara dan Ade Irma Suryani [3]. Di sinilah cerita Sunarti berubah menjadi semakin manusiawi. Di balik rumah seorang pejabat militer, ada irama hidup yang juga akrab dengan keluarga mana pun: tawa anak-anak, cemas seorang ibu, jadwal ayah yang tak menentu, dan keinginan sederhana agar rumah tetap menjadi tempat paling aman. Ironi sejarah justru terletak di sana: rumah yang seharusnya menjadi perlindungan berubah menjadi arena serbuan. Dan seorang ibu, yang sepanjang hidupnya mungkin paling terlatih untuk merawat, mendadak harus menghadapi kenyataan bahwa ancaman datang menubruk pintu rumahnya sendiri.


Katalog Perpustakaan Komnas HAM merangkum bahwa pada dini hari 1 Oktober 1965, penyerbuan itu berlangsung di kediaman Nasution [1]. Bagi sebagian pembaca, satu kalimat fakta mungkin terdengar datar. Namun, bila kita berhenti sejenak, di dalamnya tersembunyi satu pengalaman yang nyaris tak tertanggungkan: suara tembakan yang memecah malam, pintu yang dibuka paksa, kegaduhan yang membuat garis antara hidup dan mati menjadi begitu tipis. Pada titik itulah, Sunarti tidak sedang berhadapan dengan teori politik, melainkan dengan ancaman yang nyata terhadap suami, anak, dan dirinya sendiri. Ia tidak punya kemewahan untuk menimbang sejarah; ia hanya punya sepersekian detik untuk bertahan.


Sering kali, sejarah nasional ditulis dari sudut para tokoh laki-laki, operasi militer, keputusan politik, dan perubahan kekuasaan. Tetapi malam 1 Oktober juga dapat dibaca dari mata seorang perempuan yang rumahnya diterobos, yang keluarganya dijadikan sasaran, dan yang harus mengubah naluri kasih menjadi keberanian. Dari sudut pandang inilah, Johana Sunarti tampak begitu penting. Ia bukan catatan kaki dari tragedi G30S; ia adalah salah satu wajah paling sunyi dari harga yang dibayar keluarga-keluarga pemimpin bangsa. Jika Nasution kemudian dikenal sebagai sosok yang lolos dari penculikan, maka di sekitar keselamatan itu ada lingkar penderitaan yang sangat personal, yang dipikul oleh istrinya dan anak-anaknya [1][3].


Dalam tragedi itu, putri kecil mereka, Ade Irma Suryani, terkena tembakan dan menjadi korban yang kemudian meninggal dunia [1][3]. Bagi bangsa, nama Ade Irma dikenang sebagai salah satu anak yang terseret dalam kekerasan politik paling getir dalam sejarah Indonesia. Bagi Sunarti, tentu ini jauh melampaui simbol. Ini adalah kehilangan seorang ibu. Tak ada bahasa sejarah yang cukup untuk menerjemahkan apa arti memeluk anak yang terluka akibat terjangan kebencian dan kekacauan yang bahkan tidak ia ciptakan. Di sinilah keteguhan Sunarti menemukan bentuknya yang paling pahit: bukan keteguhan untuk tampak heroik, melainkan keteguhan untuk tetap waras, tetap memeluk, tetap merawat, bahkan ketika hidup baru saja meruntuhkan inti terdalam hatinya.


Karena itu, ketika orang menyebut Johana Sunarti sebagai “perisai cinta,” makna ungkapan itu tidak semata terletak pada gambaran fisik tentang perlindungan di malam penyerbuan. Makna yang lebih dalam justru terletak pada keseluruhan laku hidupnya. Ia adalah perisai karena ia menjaga rumah tangga seorang perwira di tengah gejolak republik. Ia adalah perisai karena ia menahan duka tanpa membiarkan kebencian mengambil alih hidupnya. Ia adalah perisai karena setelah tragedi itu, ia tidak lenyap ke dalam kepedihan, melainkan mengubah pengalaman personal yang sangat getir menjadi energi pelayanan sosial yang lebih luas [2][4].


Di sinilah kisah Sunarti menjadi jauh lebih besar daripada stereotip “istri jenderal”. Sumber resmi Ramon Magsaysay Award Foundation menegaskan bahwa kiprahnya di bidang kesejahteraan sosial dijalankan independen dari karier militer suaminya [2]. Pernyataan ini penting, sebab terlalu sering perempuan yang hidup di dekat pusat kekuasaan dianggap hanya memperoleh tempat karena nama besar pasangannya. Pada Sunarti, rekam jejaknya justru menunjukkan kepemimpinan yang memiliki dasar, jaringan, dan visi sendiri. Pada saat menerima Ramon Magsaysay Award for Public Service tahun 1981, gerakan dan konsolidasi kesejahteraan sosial yang ia bangun melibatkan 23 organisasi nonpemerintah nasional, 18 dewan koordinasi kesejahteraan sosial tingkat provinsi, 17 sekolah dengan fakultas pekerjaan sosial, dan 9 instansi pemerintah nasional [2]. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah bukti bahwa Sunarti memikirkan bangsa bukan hanya dari sudut luka pribadi, tetapi dari sudut kebutuhan sosial yang terorganisasi.


Barangkali di sinilah letak kebesaran yang paling jarang dibicarakan. Sebagian orang yang pernah dihantam tragedi hidup akan memilih menutup diri, dan itu sepenuhnya manusiawi. Tetapi Sunarti menempuh arah lain. Ia merawat duka, namun tidak membiarkan duka itu menjadi batas terakhir hidupnya. Ia justru memperluas pengabdian. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ia tidak berhenti menjadi ibu setelah kehilangan seorang anak; ia memperbesar makna keibuan menjadi kepedulian sosial bagi lebih banyak orang. Ini bukan romantisasi penderitaan. Ini pengakuan bahwa dari luka terdalam pun, seseorang kadang dapat membangun sesuatu yang berguna bagi sesama, tanpa menutupi kenyataan bahwa harga yang dibayar amat mahal.


Peran institusional Sunarti juga tercatat dalam riwayat resmi DNIKS. Sumber tersebut menyebut Johana Sunarti A.H. Nasution sebagai fasilitator utama deklarasi KNKS/DNIKS. Rumahnya dipakai untuk konsolidasi dan penyusunan piagam, dan ia diminta menjadi Ketua Umum pertama [4]. Fakta ini sangat berarti bila kita ingin melihat Sunarti secara utuh. Rumah yang dahulu menjadi lokasi penyerbuan dan trauma, dalam perjalanan sejarah yang lain, juga menjadi ruang konsolidasi, ruang perumusan gagasan, dan ruang lahirnya inisiatif sosial. Ada semacam pembalikan makna di sana: tempat yang pernah disusupi kekerasan, di kemudian hari justru dipakai untuk membangun kerja-kerja kesejahteraan sosial.


Dari titik ini, kita dapat membaca hidup Sunarti sebagai perjalanan dari ranah privat menuju pengaruh publik yang semakin luas. Ia tetap seorang istri, tetap seorang ibu, tetap seorang perempuan yang membawa kenangan pahit, tetapi semuanya tidak membatasi cakrawala baktinya. Ia menerima Ramon Magsaysay Award for Public Service pada 1981 [2], sebuah pengakuan yang menempatkannya bukan hanya di panggung nasional, tetapi juga regional Asia. Kompas kemudian mencatat pula sejumlah penghargaan yang pernah diterimanya, termasuk Satya Lantjana Kebaktian Sosial pada 1971 dan Bintang Mahaputra Utama pada 1995 [3]. Penghargaan-penghargaan itu tidak menghapus derita yang pernah dialaminya, tetapi menandai bahwa bangsa dan kawasan melihat kerja Sunarti sebagai sesuatu yang nyata, terukur, dan berdampak.


Meski demikian, ada satu hal yang perlu dijaga ketika menulis tentang Johana Sunarti: jangan biarkan penghargaan membuat sosoknya terasa dingin. Di balik semua penghormatan itu, ia tetap seorang manusia yang telah melewati malam paling gelap dalam sejarah keluarganya. Justru karena itulah kiprahnya menjadi lebih menyentuh. Pelayanan sosial yang ia bangun tidak lahir dari kemewahan jarak, melainkan dari kedekatan yang sangat intim dengan penderitaan. Ia tahu rasanya kehilangan, tahu rapuhnya hidup, tahu bagaimana ketidakpastian dapat menghantam keluarga kapan saja. Mungkin karena itulah kerja-kerja sosial baginya bukan sekadar program, melainkan panggilan moral.


Dalam penulisan sejarah, sosok seperti Sunarti sering berada di persimpangan antara memorialisasi dan simplifikasi. Di satu sisi, publik mengingatnya melalui tragedi G30S. Di sisi lain, ada godaan untuk mereduksi seluruh hidupnya menjadi satu malam itu saja. Padahal, sumber-sumber resmi justru menunjukkan bahwa sesudah tragedi, ia membangun jalan pengabdian yang panjang, konsisten, dan berskala nasional [2][4]. Jadi, bila kita hanya mengenangnya sebagai ibu dari Ade Irma atau istri A.H. Nasution, kita sesungguhnya sedang mengambil sebagian kecil saja dari hidupnya. Sunarti juga adalah penggerak lembaga, perajut jaringan kesejahteraan sosial, dan pemimpin organisasi yang dipercaya banyak pihak.


Hal lain yang membuat sosoknya terasa kokoh adalah fakta bahwa kiprah tersebut dinyatakan berjalan independen dari karier suaminya [2]. Kalimat ini memberi bobot moral tersendiri. Di Indonesia, pasangan tokoh negara sering kali terjebak dalam citra seremonial. Sunarti melampaui itu. Ia bukan sekadar wajah pendamping dalam acara resmi, bukan pula nama yang menumpang legitimasi. Ia bekerja membangun konsolidasi sosial yang nyata, menautkan organisasi, lembaga pendidikan, dan instansi pemerintah dalam sebuah gerakan kesejahteraan yang sistematis [2]. Dengan kata lain, keteguhannya tidak hanya tampak dalam menghadapi teror, tetapi juga dalam kesabaran mengerjakan sesuatu yang administratif, panjang, dan menuntut stamina kepemimpinan.


Di sinilah unsur “cinta” dalam hidup Sunarti menjadi lebih luas daripada relasi suami-istri. Cinta dalam kisahnya adalah tenaga yang berwujud tanggung jawab. Ia mencintai keluarganya dengan keberanian pada saat ancaman datang. Ia mencintai bangsanya dengan mengubah pengalaman pahit menjadi pelayanan publik. Ia mencintai martabat manusia dengan membantu membangun jaringan kesejahteraan sosial yang tidak bergantung pada sorotan sensasional [2][4]. Maka, bila istilah “perisai cinta” ingin dipakai, ia layak dipahami sebagai metafora menyeluruh: cinta yang melindungi, menopang, merawat, dan bertahan.


Tentu saja, seorang penulis yang jujur perlu membedakan antara fakta yang terverifikasi dan narasi yang tumbuh dari ingatan kolektif. Fakta yang kuat dari sumber yang tersedia adalah latar kelahiran Sunarti di Surabaya pada 1 November 1923, pendidikan di Yogyakarta dan Bandung, pernikahan dengan A.H. Nasution pada 1947, keberadaan dua putri mereka, tragedi penyerbuan 1 Oktober 1965 yang menewaskan Ade Irma Suryani dan Pierre Tendean, kiprahnya di bidang kesejahteraan sosial, perannya dalam DNIKS, serta penghargaan yang diterimanya [1][2][3][4]. Sementara itu, rincian yang sangat spesifik tentang adegan heroik pada detik-detik penyerbuan perlu ditulis dengan hati-hati karena tidak seluruhnya dapat dipastikan dari bahan web terverifikasi yang dirujuk di sini. Kehati-hatian ini bukan untuk mengurangi keberanian Sunarti, melainkan untuk menghormati kebenaran sejarah.


Justru dengan landasan fakta yang hati-hati, sosok Sunarti menjadi lebih kuat. Ia tidak memerlukan bumbu berlebihan untuk tampak besar. Hidupnya sendiri sudah cukup berbicara. Seorang perempuan yang lahir dari keluarga pejuang [3], menempuh pendidikan di kota-kota penting [2], menikah dengan seorang perwira republik pada masa yang bergolak [2], menyaksikan rumahnya diserbu dalam salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Indonesia [1], kehilangan putri tercinta [1][3], lalu bangkit membangun jejaring kesejahteraan sosial hingga diakui internasional [2]—rangkaian ini sudah merupakan kisah yang sangat kuat, bahkan tanpa dramatisasi berlebih.


Pada akhirnya, hidup Johana Sunarti memperlihatkan satu pelajaran yang jarang diucapkan dengan lantang dalam sejarah politik: bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang senjata atau jabatan, tetapi juga oleh mereka yang menanggung beban batin dari semua itu, lalu tetap memilih melayani. Dalam diri Sunarti, keberanian dan kelembutan tidak saling meniadakan. Ia bisa menjadi saksi tragedi sekaligus penggerak harapan. Ia bisa menjadi ibu yang berduka sekaligus pemimpin sosial yang efektif. Ia bisa hidup sangat dekat dengan pusat kekuasaan, namun tetap mempunyai jejak karya yang berdiri dengan namanya sendiri [2][4].


Ketika Kompas memberitakan bahwa Johana Sunarti wafat pada 20 Maret 2010 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 87 tahun [3], yang berpulang sesungguhnya bukan hanya seorang istri jenderal. Yang berpulang adalah seorang perempuan dengan keteguhan langka, yang hidupnya menjangkau dua ranah sekaligus: ranah sejarah nasional yang keras, dan ranah kemanusiaan yang tekun. Ia meninggalkan jejak dalam ingatan keluarga, dalam sejarah politik Indonesia, dan dalam institusi-institusi sosial yang pernah ia bantu hidupkan [2][3][4].


Mungkin itulah warisan paling indah dari Johana Sunarti. Bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk pidato, komando, atau penampilan gagah di hadapan publik. Kadang keberanian hadir dalam bentuk seorang ibu yang tetap berdiri ketika rumahnya diterjang kekerasan. Kadang keberanian hadir dalam bentuk seorang istri yang setia mendampingi suami melewati badai sejarah. Dan kadang, keberanian yang paling besar justru lahir sesudah semuanya runtuh: ketika seseorang memilih untuk tidak tenggelam dalam kepahitan, tetapi mengulurkan tangan bagi sesama. Dalam arti itulah, Johana Sunarti memang pantas dikenang sebagai perisai cinta dan keteguhan di balik Sang Jenderal Nasution—bukan karena ia berdiri di belakang, melainkan karena dalam banyak momen penting, ia sesungguhnya ikut menopang berdirinya sejarah itu sendiri [1][2][3][4].


Bila kita menutup kisah ini dengan satu kesan, mungkin kesan itu adalah keheningan yang kuat. Tidak semua tokoh besar hidup dengan cara yang bising. Ada yang bekerja melalui keteladanan yang perlahan, melalui kesediaan memikul derita tanpa kehilangan martabat, melalui kemampuan mengubah duka menjadi daya. Johana Sunarti adalah salah satu di antaranya. Ia dikenang karena tragedi, tetapi layak dihormati karena keteguhan. Ia dikenal karena kedekatannya dengan seorang jenderal, tetapi patut dimuliakan karena jalan pengabdiannya sendiri. Dan dalam sejarah yang sering terlalu sibuk menyorot perebutan kuasa, kisahnya mengingatkan kita bahwa kekuatan paling tahan lama kadang justru lahir dari cinta yang tabah.


Sumber Referensi

  1. Peristiwa 1 Oktober 1965: Kesaksian Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution | Perpustakaan Komnas HAM
  2. Nasution, Johanna Sunarti | Ramon Magsaysay Award Foundation
  3. Istri Jenderal Nasution Wafat dalam Usia 87 Tahun | Kompas.com
  4. Facilitator Berdirinya DNIKS | DNIKS
Artikel lain dari penulis ini
Iklan