Kalau ada yang bilang, “Ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya tetap ngelamar kerja sambil bawa map, duduk nunggu dipanggil, lalu pulang dengan kalimat ‘nanti kami hubungi’,” jujur saja, kalimat itu terdengar nyinyir, tapi tidak muncul dari ruang hampa. Ada rasa jengkel yang lama dipendam. Ada pengalaman kolektif yang bikin banyak orang melihat pendidikan formal bukan lagi sebagai tangga yang jelas menuju hidup lebih baik, melainkan seperti lorong panjang dengan lampu redup: jalan terus, capek duluan, ujungnya belum tentu ke mana.
Artikel ini bukan ajakan meremehkan ilmu, bukan juga kampanye anti-belajar. Yang disindir di sini adalah cara pendidikan sering diposisikan seolah-olah selalu pasti berbuah manis, padahal kenyataannya tidak sesederhana brosur sekolah, pidato motivasi, atau nasihat klasik keluarga yang suka bilang, “Yang penting kuliah dulu, nanti rezeki mengikuti.” Masalahnya, rezeki itu kadang jalannya pakai GPS rusak.
Kalau dipikir-pikir, kenapa sampai muncul anggapan bahwa pendidikan di Indonesia tidak penting-penting amat? Kenapa ada yang merasa lebih realistis lulus SMP lalu kerja, dapat uang, bantu keluarga, ketimbang mengejar kuliah yang mahal, lama, melelahkan, dan setelah wisuda masih kebingungan juga? Jawabannya bukan karena belajar itu tidak penting. Jawabannya justru karena hubungan antara pendidikan formal, keterampilan nyata, dan kesempatan hidup sering terasa tidak nyambung.
Secara umum, pendidikan punya fungsi yang jelas: membentuk dasar berpikir, kemampuan membaca situasi, disiplin, cara berkomunikasi, dan pengetahuan untuk memahami dunia. Itu fakta umum yang sulit dibantah. Orang yang punya pendidikan baik biasanya lebih terbiasa menyusun argumen, menyerap informasi, dan beradaptasi. Masalahnya, ketika pendidikan formal tidak berhasil terasa berguna dalam kehidupan sehari-hari, orang mulai bertanya dengan sinis: kalau begitu, sebenarnya ini sekolah untuk hidup atau sekadar untuk lulus ujian dan cetak ijazah?
Di sinilah letak sumber kejengkelan banyak orang. Sekolah sering dipasarkan sebagai kunci masa depan, tetapi pengalaman di lapangan kerap memberi pesan berbeda. Anak disuruh hafal banyak hal, mengejar nilai, patuh pada ritme sistem, lalu ketika keluar dari gerbang pendidikan, dunia kerja bertanya hal lain: bisa apa? punya pengalaman apa? sanggup menyelesaikan masalah nyata tidak? Kalau jawabannya gelagapan, ya wajar kalau publik merasa ada yang salah dengan rantai prosesnya.
Sindiran “mending lulus SMP cari kerja” biasanya lahir dari logika ekonomi yang sangat sederhana dan sangat membumi. Kalau seseorang berasal dari keluarga yang perlu pemasukan cepat, maka pilihan kerja lebih awal terlihat lebih masuk akal daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah lanjutan atau kuliah. Di atas kertas, pendidikan memang investasi jangka panjang. Tapi bagi keluarga yang hidupnya penuh tagihan jangka pendek, investasi jangka panjang sering kalah oleh kebutuhan makan minggu ini. Ini bukan soal malas belajar, melainkan soal tekanan realitas.
Bayangkan dua jalur. Jalur pertama: terus sekolah, keluar biaya, keluar tenaga, belum tentu langsung menghasilkan uang, dan hasilnya masih abstrak. Jalur kedua: kerja lebih cepat, penghasilan mungkin kecil, tapi nyata, bisa dipegang, bisa dipakai beli beras, bayar kontrakan, atau membantu orang tua. Dalam situasi terdesak, nasihat idealis tentang pentingnya pendidikan kadang terdengar seperti ceramah orang kenyang kepada orang yang sedang menghitung uang receh.
Tentu, kalau dibedah lebih dalam, kerja sejak muda juga punya risiko besar. Pilihan kerja bisa sempit, upah cenderung rendah, mobilitas sosial lebih berat, dan peluang naik kelas tidak selalu mudah. Itu analisis yang masuk akal. Namun yang sedang disorot di sini adalah mengapa banyak orang tetap merasa jalur itu lebih jujur. Karena kerja cepat memberi kepastian kecil, sedangkan pendidikan kadang menjanjikan harapan besar dengan hasil yang kabur. Orang sering lebih memilih kepastian kecil daripada janji besar yang tidak jelas cara mencapainya.
Sekolah di banyak tempat juga sering gagal menjawab pertanyaan paling brutal dan paling penting dari murid: “Ini gunanya buat apa?” Bukan karena semua pelajaran harus langsung bisa diuangkan besok pagi, tapi karena manusia butuh hubungan antara apa yang dipelajari dan apa yang dijalani. Kalau anak terus dijejali materi tanpa konteks, diminta patuh tanpa diajak mengerti, disuruh mengejar ranking tanpa dibimbing mengenali kemampuan sendiri, maka pendidikan berubah jadi ritual administrasi. Datang, duduk, dengar, catat, ujian, lupa.
Kita juga tidak bisa pura-pura tidak tahu bahwa ada budaya mengejar ijazah, bukan kompetensi. Ini opini yang cukup kuat, tapi banyak orang akan mengangguk. Dalam praktik sosial sehari-hari, yang sering ditanyakan lebih dulu adalah gelar apa, lulusan mana, IP berapa, bukan bagaimana cara berpikirnya, bagaimana etos kerjanya, atau seberapa matang dia memecahkan masalah. Akibatnya, pendidikan formal kadang terasa seperti pasar simbol. Orang beli waktu, tenaga, dan biaya untuk memperoleh tanda yang diharapkan membuka pintu. Masalahnya, setelah tandanya didapat, pintunya ternyata tetap berat dibuka.
Di titik ini, lahirlah rasa pahit dari lulusan yang sudah kuliah bertahun-tahun. Mereka tidak bodoh, tidak malas, tidak semuanya salah pilih. Banyak yang memang sudah berusaha. Tapi ketika lulus dan tetap kesulitan dapat kerja yang layak, muncul pertanyaan yang sangat manusiawi: jadi selama ini saya sedang menyiapkan masa depan atau sedang membeli penundaan pengangguran? Pertanyaan itu memang sinis, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa tajam.
Masalah berikutnya adalah ketidakcocokan antara materi pendidikan dan kebutuhan dunia nyata. Bukan berarti sekolah harus berubah total menjadi pabrik pencetak buruh, tentu tidak sesempit itu. Pendidikan tetap harus membentuk manusia, bukan hanya tenaga kerja. Namun ketika terlalu banyak porsi habis untuk hafalan, formalitas, dan pola satu arah, sementara kemampuan praktis seperti komunikasi, kerja tim, manajemen waktu, adaptasi, negosiasi, pemecahan masalah, dan literasi keuangan justru minim disentuh secara serius, wajar jika lulusan merasa seperti baru bangun tidur saat masuk dunia kerja.
Lucunya, masyarakat sering memberi beban ganda kepada pendidikan. Di satu sisi sekolah dituntut membentuk karakter, moral, dan kecerdasan. Di sisi lain, sekolah juga dipaksa menjamin pekerjaan. Padahal itu dua hal berbeda. Pendidikan bisa membantu memperbesar peluang, tetapi tidak otomatis mencetak lapangan kerja. Ketika ekonomi sempit, persaingan tinggi, dan standar masuk kerja makin aneh-aneh, sekolah dijadikan kambing hitam sekaligus juru selamat. Kalau berhasil, yang dipuji individu. Kalau gagal, yang disalahkan sistem pendidikan. Enak sekali memang melempar tanggung jawab ke satu karung.
Kalimat “setelah kuliah pun masih bingung cari kerja” menjadi populer bukan karena semua sarjana menganggur, melainkan karena pengalaman itu cukup sering terdengar sehingga jadi simbol kekecewaan. Ini harus dibaca sebagai gejala sosial, bukan sebagai hukum mutlak. Ada lulusan kuliah yang kariernya bagus. Ada yang biasa saja. Ada yang banting setir. Ada juga yang sejak awal memang lebih berhasil lewat jalur nonformal. Artinya, kuliah bukan jaminan tunggal. Dan di sinilah sebagian orang mulai menyimpulkan secara kasar: kalau tidak menjamin, buat apa?
Nah, kesimpulan kasar itu sebenarnya berbahaya kalau ditelan mentah-mentah. Karena tidak penting-penting amat bukan berarti tidak penting sama sekali. Masalahnya bukan pada belajar, melainkan pada mitos berlebihan bahwa pendidikan formal selalu sejalan dengan kemajuan hidup. Kalau mitos itu pecah, publik bereaksi ekstrem ke arah sebaliknya: ah, percuma sekolah tinggi. Padahal kenyataan biasanya lebih rumit dan lebih abu-abu dari slogan dua sisi itu.
Ada juga faktor gengsi sosial yang membuat pendidikan tampak seperti kewajiban simbolik. Banyak orang kuliah bukan karena tahu tujuan belajar atau profesi yang ingin dikejar, melainkan karena takut dianggap gagal kalau tidak kuliah. Jadi kuliah dijalani seperti upacara sosial: daftar, ikut ospek, foto pakai jas almamater, unggah wisuda, lalu setelah itu baru sadar ternyata hidup tidak otomatis menyediakan instruksi lanjutan. Sistem sosial kita sering menjual pendidikan sebagai citra kehormatan, padahal yang dibutuhkan orang muda justru kejelasan arah, latihan keterampilan, dan ruang mencoba.
Kondisi ini makin ironis ketika jalur nonformal justru sering bergerak lebih cepat. Banyak keterampilan yang langsung bisa dipakai mencari uang dipelajari bukan dari sekolah panjang, melainkan dari pengalaman, magang, kursus singkat, komunitas, internet, mentor, atau kerja sambil belajar. Di situlah muncul sindiran: kalau yang dibutuhkan pasar adalah hasil kerja, kenapa sistem pendidikan masih terlalu sibuk mengurus tata cara daripada kualitas karya? Seolah-olah yang penting mapinya rapi, bukan isi kepalanya.
Namun kita juga harus jujur bahwa bekerja setelah SMP bukan resep ajaib. Ini bukan cerita romantis “anak muda tangguh menaklukkan dunia tanpa ijazah.” Kenyataannya bisa keras. Kerja dini sering berarti masuk sektor dengan perlindungan lemah, jam panjang, perkembangan karier terbatas, dan posisi tawar rendah. Kalau tidak dibarengi keterampilan yang terus ditingkatkan, orang bisa terjebak dalam siklus kerja yang melelahkan tapi sulit memberi lompatan hidup. Jadi pilihan kerja cepat memang realistis bagi sebagian orang, tetapi bukan otomatis lebih baik dalam semua keadaan.
Yang membuat jalur kerja dini tampak menarik adalah karena hasilnya langsung terasa. Dalam budaya yang makin pragmatis, uang cepat sering lebih meyakinkan daripada teori masa depan. Ini tidak sepenuhnya salah. Manusia memang hidup di dunia konkret. Tapi kalau semua keputusan hanya diukur dari pemasukan tercepat, orang bisa kehilangan kesempatan membangun fondasi jangka panjang. Sebaliknya, kalau semua dipaksa percaya pada pendidikan formal tanpa melihat biaya kesempatan dan tekanan ekonomi, itu juga bentuk kebutaan. Jadi yang perlu dikritik bukan orang yang memilih kerja, melainkan sistem yang memaksa orang seolah harus memilih antara belajar atau bertahan hidup.
Sering kali yang hilang dari perdebatan ini adalah pembedaan antara pendidikan dan sekolah. Pendidikan itu luas. Sekolah adalah salah satu wadahnya. Seseorang bisa saja sekolah tinggi tetapi pendidikannya dangkal kalau tidak pernah belajar berpikir mandiri. Sebaliknya, seseorang yang tidak menempuh kuliah bisa tetap terdidik dalam arti luas kalau rajin belajar, bekerja, mengasah keterampilan, dan terbuka terhadap pengetahuan. Ini bukan glorifikasi putus sekolah, melainkan pengingat bahwa belajar tidak identik dengan duduk di kelas.
Masalah lain yang bikin pendidikan terasa mengecewakan adalah minimnya orientasi karier yang nyata. Banyak anak muda tumbuh dengan instruksi kabur: sekolah yang rajin, nilai bagus, nanti hidup aman. Padahal “nanti” itu sangat malas sebagai strategi. Jarang ada pembiasaan yang serius tentang mengenali minat, memahami dunia kerja, memetakan kemampuan, membuat portofolio, membangun jejaring, atau mencoba proyek kecil sejak dini. Akibatnya, setelah lulus banyak yang bingung bukan karena bodoh, tapi karena sedari awal mereka lebih dilatih patuh daripada merancang jalan hidup.
Kalau mau sinis sedikit, sistem ini kadang terasa lebih ahli mencetak peserta daripada pencipta. Murid dilatih mengikuti kurikulum, mahasiswa dilatih mengikuti tugas, lalu saat lulus diminta proaktif, kreatif, adaptif, dan inovatif. Ya tentu kaget. Dari kecil disuruh warna di dalam garis, giliran dewasa diminta berpikir out of the box. Sepertinya kotaknya saja belum pernah dijelaskan bentuknya.
Di sisi lain, ada juga kesalahan cara pandang masyarakat terhadap kerja. Banyak keluarga masih membayangkan sukses sebagai jalur lurus: sekolah, kuliah, kerja kantoran, mapan. Padahal dunia kerja sekarang jauh lebih berantakan, cair, dan kadang absurd. Ada profesi yang dulu dianggap tidak jelas kini justru menjanjikan. Ada jurusan favorit yang lulusannya malah bingung. Ada pekerjaan baru yang tidak dikenal generasi sebelumnya. Kalau pendidikan masih berjalan dengan peta lama sementara medan sudah berubah, ya jangan heran kalau banyak lulusannya seperti turis nyasar.
Kritik terbesar terhadap pendidikan formal bukan bahwa isinya tidak berguna sama sekali, tetapi karena ia sering lambat, kaku, dan terlalu percaya bahwa legitimasi dirinya sudah cukup. Padahal generasi muda semakin cepat melihat celah. Mereka membandingkan apa yang diajarkan dengan apa yang dibutuhkan. Mereka melihat ada orang bisa menghasilkan uang dari keterampilan praktis tanpa jalur akademik panjang. Mereka juga melihat lulusan kuliah yang tetap berputar-putar mencari kerja. Dari situ lahirlah skeptisisme. Dan kalau skeptisisme dibiarkan tanpa perbaikan, ia berubah jadi sinisme kolektif.
Tetapi penting juga menahan diri dari jebakan simplifikasi. Mengatakan pendidikan tidak penting adalah reaksi emosional yang bisa dipahami, namun keliru jika dijadikan prinsip umum. Yang lebih tepat: pendidikan formal sering gagal memenuhi janji sosial yang dilekatkan padanya. Itu beda. Belajar tetap penting. Pengetahuan tetap penting. Kemampuan membaca, menulis, berhitung, bernalar, dan memahami dunia tetap penting. Yang patut dipersoalkan adalah apakah sistem pendidikan telah menyampaikan semua itu dengan cara yang relevan, adil, dan berguna bagi kehidupan nyata.
Kalau seseorang berkata, “Mending lulus SMP cari kerja,” mungkin yang sebenarnya ia maksud bukan kebencian pada ilmu, melainkan kekecewaan pada jalur formal yang terasa mahal dan tidak pasti. Ia sedang berkata, dengan bahasanya sendiri, bahwa hidup butuh strategi yang realistis. Bahwa tidak semua orang punya kemewahan untuk menunda penghasilan demi mengejar gelar. Bahwa ijazah tanpa kemampuan dan tanpa peluang hanya akan jadi kertas yang disimpan rapi sambil berharap keajaiban.
Jadi bagaimana seharusnya memandang persoalan ini? Pertama, bedakan antara nilai belajar dan nilai institusi. Belajar hampir selalu berguna. Institusi pendidikan belum tentu selalu efektif. Kedua, pahami bahwa kerja dini bisa jadi keputusan rasional dalam kondisi tertentu, tetapi harus disertai tekad belajar terus agar tidak mandek. Ketiga, kuliah sebaiknya dilihat sebagai alat, bukan jaminan. Kalau alatnya tidak cocok dengan tujuan, hasilnya ya berantakan. Keempat, masyarakat perlu berhenti menjual mimpi kosong bahwa semua masalah selesai kalau seseorang berhasil masuk kampus.
Bagi yang memilih tidak kuliah, bukan berarti perjalanan selesai. Justru tantangannya lebih berat karena harus membangun kompetensi secara aktif. Belajar komunikasi, disiplin, pengelolaan uang, keterampilan teknis, etika kerja, dan kemampuan membaca peluang menjadi sangat penting. Orang yang kerja sejak muda lalu berhenti belajar biasanya hanya menukar seragam sekolah dengan rutinitas kerja yang sama-sama menyita masa depan. Sebaliknya, orang yang kerja sambil terus meningkatkan kemampuan punya peluang membangun jalan alternatif yang kuat.
Bagi yang memilih kuliah, juga jangan terjebak ilusi bahwa kampus akan otomatis menyelamatkan segalanya. Kuliah akan lebih bernilai kalau dipakai untuk memperluas cara berpikir, membangun jejaring, mencoba proyek, mencari pengalaman, dan mengasah kemampuan yang bisa ditunjukkan, bukan sekadar dipajang. Gelar tanpa bukti kemampuan sekarang semakin mudah dipertanyakan. Dunia kerja mungkin tidak selalu adil, tetapi ia cukup kejam untuk membedakan orang yang benar-benar bisa bekerja dan orang yang hanya terbiasa lulus administrasi.
Akhirnya, kalimat bahwa pendidikan di Indonesia tidak penting-penting amat sebaiknya dibaca sebagai alarm, bukan kebenaran final. Alarm bahwa banyak orang merasa sekolah tidak cukup menolong mereka memahami hidup. Alarm bahwa biaya, waktu, dan harapan yang ditanamkan sering tidak bertemu dengan hasil yang dibayangkan. Alarm bahwa pendidikan terlalu lama dipromosikan sebagai jawaban tunggal, padahal realitas sosial-ekonomi jauh lebih rumit.
Kalau nada artikel ini terdengar sinis, memang begitu adanya, karena kadang kritik perlu sedikit pedas agar tidak tertidur di bawah slogan manis. Tetapi kesimpulan yang lebih jujur adalah ini: yang tidak penting-penting amat itu bukan pendidikan, melainkan pemujaan buta pada pendidikan formal seolah-olah ia selalu cukup. Orang bisa miskin arah meski sekolah lama. Orang bisa berkembang meski jalurnya tidak rapi. Dan di tengah semua keruwetan itu, yang paling penting bukan semata sekolah tinggi atau cepat kerja, melainkan apakah seseorang benar-benar belajar hal yang relevan, bisa bertahan, dan mampu membangun nilai nyata dari apa yang ia kerjakan.
Jadi, mending lulus SMP langsung kerja atau tetap lanjut sekolah sampai kuliah? Jawabannya tidak bisa disamaratakan seperti iklan obat. Kalau kondisi ekonomi mendesak, kerja bisa jadi langkah rasional. Kalau ada kesempatan belajar yang baik dan tujuan yang jelas, sekolah lanjut bisa sangat berharga. Yang berbahaya justru dua ekstrem ini: menganggap kuliah pasti menyelamatkan, atau menganggap sekolah tidak ada gunanya sama sekali. Dua-duanya sama malas berpikirnya, cuma beda kostum.
Pada akhirnya, hidup tidak terlalu peduli pada gelar kalau orangnya tidak berkembang, dan juga tidak terlalu romantis pada kerja keras kalau orangnya berhenti belajar. Pendidikan yang sejati semestinya membuat manusia lebih waras melihat realitas, lebih tajam membaca peluang, dan lebih kuat menghadapi perubahan. Kalau sistem formal belum sepenuhnya mampu memberi itu, maka kritik harus terus diarahkan ke sistemnya. Bukan ke ilmunya, bukan ke proses belajarnya, melainkan ke cara semuanya dikemas, dijalankan, dan dijual sebagai janji yang terlalu sering kebesaran mulut.
- Fakta umum: belajar dan kemampuan dasar tetap penting untuk kehidupan pribadi maupun kerja.
- Analisis: kekecewaan muncul karena pendidikan formal sering terasa tidak terhubung dengan kebutuhan hidup nyata.
- Opini: pemujaan berlebihan pada ijazah membuat banyak orang kecewa saat realitas kerja tidak sesuai harapan.
- Catatan praktis: bekerja lebih awal bisa rasional, tetapi tetap harus dibarengi pembelajaran berkelanjutan.
- Catatan praktis: kuliah akan lebih berguna jika disertai tujuan, pengalaman, dan keterampilan yang bisa dibuktikan.
Kalau masih ada yang berkata, “Sekolah tinggi itu penting banget,” silakan. Kalau ada yang menjawab, “Ya penting, tapi jangan lebay juga,” itu juga masuk akal. Karena yang membuat orang muak bukan ilmu pengetahuan, melainkan janji sosial yang terlalu sering dibungkus rapi, dijual mahal, lalu dibuka belakangan ternyata isinya instruksi: harap berjuang sendiri.