Kalau tiba-tiba pada tahun 2025 ini ada sesosok manusia yang bilang begini, "Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi," kamu mungkin akan menyingkir, lalu bilang aneh. Mana ada zaman sekarang orang-orang baca buku? Dan lagi, mana ada orang-orang kelaparan? Atau kamu malah berpikir orang ini jenius? Ah, lucu sekali, bukan?
Tapi coba bayangkan, kalimat itu diucapkan pada tahun 1942. Ya, betul sekali, di tengah-tengah kekacauan dan penjajahan, ada orang Indonesia yang bukan hanya membaca buku, tapi juga mengajak orang lain untuk membaca. Dalam zaman yang serba sulit, di mana huruf saja masih jadi kemewahan bagi sebagian besar rakyat, ada seseorang yang menganggap buku sebagai senjata paling ampuh.
Di saat mayoritas manusia di nusantara masih buta aksara dan percaya pada takhayul, ide untuk mengurangi pakaian dan makanan demi membaca buku terdengar seperti lelucon sarkastik dari masa depan. Hanya orang gila atau pahlawan yang bisa punya pemikiran seperti itu. Dan tentu saja, orang itu adalah Tan Malaka, sosok revolusioner yang tak kenal kompromi dalam perjuangan intelektualnya.
Lucunya, di zaman sekarang, ide seperti itu mungkin dianggap aneh atau bahkan bodoh. Bukankah kita hidup di era digital, di mana segala informasi bisa diakses dengan sekali klik? Namun, kalau kita menilik lebih dalam, sebenarnya semangat Tan Malaka itu masih relevan. Membaca buku bukan sekadar hobi, tetapi sebuah kebutuhan untuk membentuk pemikiran kritis dan merdeka.
Bayangkan, di tengah lautan manusia yang terbuai oleh gadget dan hiburan instan, ada seseorang yang mengajak kita untuk kembali ke akar, merogoh pustaka demi menemukan kebenaran yang tak ternilai harganya. Mungkin memang benar, kadang kita perlu mengurangi sedikit kenyamanan hidup agar pikiran kita tetap tajam dan jiwa kita tetap merdeka.
Jadi, jangan cepat menyingkir atau mencemooh bila ada yang mengajakmu membaca buku dan mengorbankan sedikit hal lain. Karena siapa tahu, di balik ajakan itu tersembunyi semangat Tan Malaka yang ingin membentuk bangsa dengan ilmu, bukan dengan takhayul atau kebodohan. Sebuah ironi yang menggelitik, tapi juga menginspirasi.