Perbandingan Sukarno dan Tan Malaka: Siapa yang Lebih Layak Jadi Presiden

← Kembali ke Blogs

Perbandingan Sukarno dan Tan Malaka: Siapa yang Lebih Layak Jadi Presiden

Ditulis oleharifrahmawan·
2 unik hari ini 11 unik 7 hari 51 unik 30 hari 388 total unik
Iklan

Perjuangan kemerdekaan Indonesia merupakan babak penting dalam sejarah bangsa, dengan berbagai tokoh yang berperan besar. Di antara tokoh-tokoh tersebut, Sukarno dan Tan Malaka menjadi dua figur sentral yang kerap dibandingkan dalam konteks kepemimpinan dan kontribusi terhadap kemerdekaan serta pembentukan negara. Artikel ini akan mengupas secara akademis perbandingan antara Sukarno dan Tan Malaka berdasarkan beberapa aspek penting seperti riwayat perjuangan, ideologi, hubungan dengan rakyat, sikap terhadap Belanda, karya tulis, pendidikan, serta bentuk perlawanan yang mereka lakukan. Dari perbandingan ini, diharapkan pembaca dapat memahami siapa di antara keduanya yang lebih layak menjadi presiden dalam konteks sejarah dan pemikiran politik Indonesia.


Riwayat Perjuangan
Perjuangan Sukarno dimulai sejak masa kuliahnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB), di mana ia aktif dalam organisasi pergerakan nasional. Sukarno bersama tokoh-tokoh lain mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 1927, yang bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia secara politik. Ia dikenal sebagai orator ulung dan mampu membangkitkan semangat nasionalisme melalui pidatonya. Selama masa penjajahan Belanda dan Jepang, Sukarno tetap aktif dalam pergerakan kemerdekaan, bahkan menjadi tokoh utama yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tan Malaka, juga dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan yang sangat radikal. Berbeda dengan Sukarno, Tan Malaka aktif dalam organisasi-organisasi kiri dan komunis, seperti Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sempat terlibat dalam gerakan sosialisme internasional. Ia menjalani pengasingan dan perjuangan di luar negeri, termasuk di Belanda dan Soviet, serta menulis banyak karya yang menginspirasi perjuangan kemerdekaan. Tan Malaka dikenal dengan pendekatan yang lebih revolusioner dan mengedepankan perjuangan kelas dalam konteks melawan kolonialisme Belanda.


Ideologi
Sukarno mengusung ideologi nasionalisme yang inklusif dan pragmatis, kemudian merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang mengakomodasi keberagaman bangsa Indonesia. Pancasila menekankan persatuan, keadilan sosial, serta ketuhanan yang maha esa, memberikan landasan moral dan politik yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Sukarno juga dikenal dengan konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) yang berupaya menyatukan berbagai ideologi dalam satu wadah persatuan bangsa.

Tan Malaka memiliki ideologi yang lebih tegas dan radikal berlandaskan Marxisme-Leninisme. Ia menekankan pentingnya revolusi proletariat dan perlawanan kelas sebagai cara utama untuk mengakhiri penjajahan dan ketidakadilan sosial. Tan Malaka mengkritik pendekatan Sukarno yang dianggapnya terlalu moderat dan kompromis terhadap kekuatan asing dan pemilik modal. Dalam pandangannya, kemerdekaan sejati hanya dapat dicapai melalui perubahan sosial dan ekonomi yang radikal.


Hubungan dengan Rakyat
Sukarno dikenal sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan rakyat melalui retorika dan karisma yang luar biasa. Ia mampu memobilisasi massa dalam berbagai kesempatan dan memperkuat semangat nasionalisme. Ia juga menggunakan simbol-simbol budaya dan agama untuk menyatukan bangsa yang majemuk. Hubungan Sukarno dengan rakyat tercermin dalam perannya sebagai orator dan pemimpin yang mampu menjembatani berbagai lapisan masyarakat.

Tan Malaka juga memiliki hubungan yang kuat dengan rakyat, terutama kalangan buruh, petani, dan kaum proletar. Ia sering turun langsung ke lapangan dan memahami persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi rakyat kecil. Namun, karena ideologi yang radikal dan pendekatan revolusioner, pengaruhnya lebih terbatas pada kelompok-kelompok tertentu dan tidak sepopuler Sukarno di kalangan umum. Hubungan Tan Malaka dengan rakyat lebih bersifat kelas dan ideologis.


Sikap terhadap Belanda
Sukarno menunjukkan sikap yang tegas namun pragmatis terhadap penjajahan Belanda. Ia melakukan perlawanan politik, diplomasi, dan mobilisasi massa dengan tujuan mendapatkan kemerdekaan secara damai dan terorganisir. Selama masa penjajahan Jepang, Sukarno bekerja sama untuk memperkuat posisi Indonesia, meskipun kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk meraih kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, Sukarno berperan aktif dalam diplomasi internasional untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Tan Malaka memiliki sikap yang jauh lebih keras dan revolusioner terhadap Belanda. Ia menolak segala bentuk kompromi dan menuntut perlawanan bersenjata dan revolusi sosial sebagai jalan utama mengusir penjajah. Sikapnya yang keras ini membuatnya sering dianggap sebagai ancaman oleh pihak Belanda dan beberapa pemimpin nasionalis lainnya. Tan Malaka lebih mengutamakan perjuangan kelas dan perlawanan langsung daripada diplomasi atau kompromi politik.


Buku-Buku dan Karya Tulis
Sukarno juga dikenal sebagai penulis dan orator yang produktif. Karya-karya tulisnya banyak membahas nasionalisme, budaya, dan ideologi negara, termasuk konsep Pancasila. Bukunya yang terkenal seperti "Indonesia Menggugat" menunjukkan pemikiran kritis terhadap penjajahan dan pentingnya persatuan bangsa. Tulisan Sukarno lebih bersifat membangun dan mengajak persatuan.

Tan Malaka menghasilkan karya-karya yang sangat berpengaruh dalam dunia pergerakan dan pemikiran politik, seperti "Madilog" (Materialisme, Dialektika, Logika) yang menjadi referensi penting dalam pemikiran kiri Indonesia. Karya-karyanya banyak membahas teori revolusi, perjuangan kelas, dan kritik terhadap kolonialisme dan imperialisme. Tulisan Tan Malaka bersifat teoritis dan analitis dengan fokus pada perubahan sosial radikal.


Pendidikan
Sukarno menempuh pendidikan teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang memberikan dasar ilmiah dan teknis serta wawasan modern dalam membangun bangsa. Pendidikan formalnya memungkinkan Sukarno memiliki kemampuan intelektual yang kuat sekaligus wawasan luas tentang teknologi dan modernitas.

Tan Malaka mendapatkan pendidikan di berbagai negara dan mendalami teori-teori sosialisme dan komunisme secara mendalam. Pendidikan nonformal dan pengalaman internasionalnya memperkaya pemahaman ideologisnya dan memperkuat komitmennya pada perjuangan kelas dan revolusi sosial. Namun, Tan Malaka tidak menempuh pendidikan formal teknik atau akademik seperti Sukarno, melainkan lebih fokus pada pendidikan politik dan ideologi.


Perlawanan yang Dilakukan
Sukarno memimpin perlawanan dengan pendekatan politik, diplomasi, dan mobilisasi massa. Ia menggunakan berbagai sarana seperti partai politik, organisasi massa, dan pidato publik untuk memperjuangkan kemerdekaan. Perlawanan Sukarno juga melibatkan negosiasi dengan pihak penjajah dan kekuatan asing setelah proklamasi kemerdekaan.

Tan Malaka memilih jalur perlawanan yang lebih keras dan revolusioner, termasuk perlawanan bersenjata dan upaya menggulingkan sistem kolonial melalui revolusi sosial. Ia juga terlibat dalam beberapa pemberontakan dan gerakan bawah tanah, yang membuatnya sering menjadi buronan dan mengalami pengasingan. Metode perlawanan Tan Malaka lebih berorientasi pada perubahan radikal dan mendalam dalam struktur sosial-politik.


Kesimpulan
Perbandingan antara Sukarno dan Tan Malaka menunjukkan dua pendekatan yang berbeda dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa. Sukarno dengan nasionalisme inklusif, pragmatis, dan kemampuan mempersatukan rakyat dari berbagai latar belakang, berhasil menjadi simbol persatuan dan penggagas dasar negara yang diterima luas. Sedangkan Tan Malaka dengan ideologi radikal dan fokus pada revolusi sosial serta perlawanan kelas, memberikan kontribusi penting dalam pemikiran dan perjuangan kemerdekaan yang kritis dan konseptual.

Dalam konteks kepemimpinan sebagai presiden, Sukarno dianggap lebih layak karena kemampuannya mengakomodasi berbagai elemen masyarakat dan memimpin bangsa dalam situasi yang sangat kompleks menuju kemerdekaan dan pembentukan negara. Sementara Tan Malaka lebih cocok dianggap sebagai pemikir dan pejuang radikal yang mempengaruhi dinamika perjuangan dari sisi ideologis dan revolusioner.

Dengan demikian, meskipun keduanya memiliki kontribusi besar dan saling melengkapi dalam sejarah perjuangan Indonesia, Sukarno lebih memenuhi kriteria sebagai presiden yang mampu menyatukan bangsa dan memimpin negara dalam tahap awal kemerdekaan.

Artikel lain dari penulis ini
Iklan