Kapan Manusia Tidak Lagi Membutuhkan Buku Fisik?

← Kembali ke Blogs

Kapan Manusia Tidak Lagi Membutuhkan Buku Fisik?

Ditulis oleharifrahmawan·
0 unik hari ini 5 unik 7 hari 24 unik 30 hari 51 total unik
Iklan

Kapan manusia tidak lagi membutuhkan buku fisik? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi apakah ia sungguh sesederhana itu? Apakah “membutuhkan” berarti masih membeli, masih membaca, masih memahami lebih baik, masih menyimpan, atau masih mewariskan? Dan apakah “tidak lagi membutuhkan” berarti sepenuhnya ditinggalkan, atau sekadar tidak lagi dominan? Dalam banyak perdebatan tentang masa depan, kita sering tergoda mencari sebuah tanggal: seolah sejarah berjalan menuju satu pintu, lalu pada suatu hari manusia menutup buku kertas untuk selamanya. Namun, adakah dasar yang sungguh kredibel untuk menunjuk hari itu?


Menurut catatan riset yang tersedia, jawabannya justru mengganggu hasrat kita akan kepastian: belum ada sumber kredibel yang dapat menetapkan kapan tepatnya manusia “tidak lagi membutuhkan” buku fisik. Yang ada bukanlah kalender kepunahan buku cetak, melainkan serangkaian indikator yang menunjukkan bahwa buku fisik masih menjalankan fungsi-fungsi penting yang belum sepenuhnya tergantikan oleh medium digital [1][2][3][4][5]. Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan “kapan buku fisik berakhir?”, melainkan “fungsi apa dari buku fisik yang sudah menyusut, dan fungsi apa yang masih bertahan?”


Di sini, kita perlu membedakan tiga hal: fakta, analisis, dan opini. Faktanya, buku fisik masih dibaca secara luas, masih menopang pendapatan industri penerbitan, masih menunjukkan keunggulan tertentu dalam pemahaman bacaan, masih relevan dalam sistem pendidikan yang akses teknologinya tidak merata, dan masih dipertahankan dalam standar preservasi institusional [1][2][3][4][5]. Analisisnya, selama fungsi-fungsi itu belum digantikan sepenuhnya, sulit menyatakan bahwa manusia tidak lagi membutuhkan buku fisik. Opininya, tentu boleh beragam: ada yang percaya masa depan sepenuhnya digital tinggal menunggu waktu; ada pula yang merasa buku fisik akan bertahan seperti musik vinil atau surat tulisan tangan, bukan karena efisien, tetapi karena mengandung kualitas pengalaman yang tak mudah dialihkan. Namun opini tidak boleh menyamar sebagai fakta.


Mari mulai dari perilaku pembaca. Jika kebutuhan manusia terhadap buku fisik benar-benar sudah mendekati nol, bukankah tanda paling awal seharusnya tampak pada kebiasaan membaca? Tetapi data Pew Research Center di Amerika Serikat pada 2025 menunjukkan bahwa 64% orang dewasa membaca buku cetak dalam 12 bulan terakhir, sementara 31% membaca e-book dan 26% mendengarkan audiobook [1]. Angka ini tidak membuktikan bahwa buku fisik akan abadi; data tersebut juga terbatas pada konteks Amerika Serikat, bukan seluruh dunia [1]. Namun data itu cukup kuat untuk membantah gagasan bahwa buku cetak telah kehilangan relevansi praktis bagi pembaca. Jika mayoritas pembaca masih menyentuh kertas, bukankah terlalu dini mengatakan bahwa kebutuhan itu telah lewat?


Di titik ini, sebuah pertanyaan filosofis muncul: apakah kebutuhan selalu identik dengan efisiensi? Dunia digital menawarkan kecepatan, pencarian instan, portabilitas, dan integrasi lintas perangkat. Satu gawai dapat memuat ribuan judul; satu kata dapat ditemukan dalam hitungan detik; satu toko daring dapat menghadirkan rak tanpa dinding. Tetapi apakah manusia hidup hanya dari kecepatan? Apakah setiap hal yang lebih cepat otomatis lebih dibutuhkan? Atau justru ada bidang-bidang tertentu dalam kehidupan di mana gesekan, kelambatan, dan keterbatasan fisik menjadi bagian dari makna?


Buku fisik bukan hanya wadah teks. Ia adalah benda yang hadir di ruang, menua bersama waktu, dan menandai hubungan tubuh dengan pengetahuan. Kita membukanya dengan tangan, menandai halaman, merasakan ketebalannya, mengetahui posisi sebuah gagasan bukan hanya secara semantik, tetapi juga secara spasial: di halaman kiri bagian atas, dekat bab yang kertasnya sudah mulai kusut. Tentu, ini bukan bukti ilmiah universal. Namun pengalaman seperti itu membantu kita memahami mengapa medium tak pernah sepenuhnya netral. Ketika medium berubah, cara kita berhubungan dengan isi pun dapat berubah. Dan di sinilah penelitian tentang pemahaman bacaan menjadi penting.


Meta-analisis Delgado dan rekan-rekan, yang merangkum studi-studi dari 2000 hingga 2017 dengan total 171.055 partisipan, menemukan keunggulan membaca di kertas dibanding membaca digital dalam pemahaman bacaan, dengan efek rata-rata sekitar Hedge’s g = -0,21 [3]. Efek ini lebih kuat ketika waktu membaca dibatasi, dan konsisten terutama pada teks informasional [3]. Kita harus jujur terhadap batasannya: temuan ini adalah efek rata-rata lintas studi, bukan hukum mutlak bahwa semua pembaca, semua perangkat, semua jenis teks, dan semua situasi selalu lebih baik di kertas [3]. Namun justru di situlah poin pentingnya. Jika medium kadang memengaruhi kualitas pemahaman, maka buku fisik bukan sekadar artefak romantik atau dekorasi nostalgia. Ia masih memiliki nilai fungsional yang terukur.


Lalu apa maknanya bagi masa depan? Jika tujuan membaca hanya memindahkan kata dari permukaan ke mata, mungkin perbedaan medium tampak remeh. Tetapi jika tujuan membaca adalah memahami, mengingat, menghubungkan, dan merenung, maka medium menjadi bagian dari persoalan. Apakah manusia akan rela meninggalkan alat yang, dalam beberapa konteks, masih berkaitan dengan hasil pemahaman yang lebih baik? Mungkin ya, jika teknologi digital suatu hari benar-benar meniadakan kesenjangan itu. Tetapi dari bukti yang tersedia saat ini, kita belum berhak mengumumkan kemenangan final medium digital [3].


Dari sisi ekonomi penerbitan, situasinya juga berbicara dengan suara yang serupa. Association of American Publishers melaporkan bahwa pada tahun kalender 2025, industri penerbitan Amerika Serikat menghasilkan pendapatan total sebesar US$33,4 miliar [2]. Dari jumlah itu, format print menyumbang 50,6% seluruh revenue penerbit, dan pada segmen Trade, format print menyumbang 76,3% revenue, sementara seluruh format digital menyumbang 14,2% revenue industri secara keseluruhan [2]. Sekali lagi, ini adalah data industri AS, bukan ukuran langsung tentang “kebutuhan manusia” universal [2]. Namun jika buku fisik sudah mendekati tidak dibutuhkan, mengapa ia masih menjadi tulang punggung ekonomi di bagian besar pasar?


Tentu, uang bukan ukuran kebenaran filosofis. Pasar dapat lambat berubah, kebiasaan dapat menunda revolusi, dan industri dapat bertahan karena inersia. Akan tetapi, ekonomi memberi petunjuk tentang apa yang secara nyata masih dipilih, dibeli, diproduksi, dan diedarkan. Kita tidak sedang bertanya apakah buku fisik lebih puitis daripada file digital; kita bertanya apakah manusia masih membutuhkan buku fisik. Selama jutaan transaksi, rantai pasok, penerbit, toko, perpustakaan, dan pembaca masih menjadikan bentuk cetak sebagai pusat perputaran nilai, bukankah kata “tidak dibutuhkan” menjadi terlalu berlebihan [2]?


Di balik angka konsumsi dan revenue, tersembunyi persoalan yang lebih mendasar: kebutuhan siapa yang sedang kita bicarakan? Kebutuhan pembaca rekreatif? Kebutuhan siswa? Kebutuhan peneliti? Kebutuhan masyarakat dengan akses internet stabil? Kebutuhan wilayah yang listriknya tidak selalu andal? Kebutuhan lembaga yang harus menyimpan pengetahuan lintas generasi? Sering kali kita mengucapkan “manusia” seolah ia satu makhluk tunggal dengan kebiasaan, infrastruktur, dan kepentingan yang seragam. Padahal manusia hidup dalam ketimpangan kondisi. Apa yang tak lagi dibutuhkan oleh satu kelompok bisa tetap esensial bagi kelompok lain.


Fakta ini terlihat pula dalam dunia pendidikan dan asesmen. OECD menjelaskan bahwa PISA 2022 terutama berbasis komputer, tetapi instrumen paper-based assessment tetap disediakan bagi negara-negara yang tidak dapat menguji dengan komputer; item baru memang hanya dikembangkan untuk computer-based assessment [4]. Ini penting. Transisi digital jelas maju, bahkan menjadi arus utama. Namun arus utama tidak sama dengan totalitas. Keberadaan mode berbasis kertas menunjukkan bahwa akses, kesiapan sistem, dan kondisi implementasi belum merata [4]. Jika dalam salah satu asesmen pendidikan internasional paling penting di dunia kebutuhan terhadap medium non-digital belum sepenuhnya hilang, bagaimana kita bisa tergesa-gesa menyimpulkan bahwa umat manusia secara umum sudah tidak memerlukan buku fisik?


Ada ironi di sini. Kita sering membayangkan kemajuan sebagai garis lurus: dari kertas ke layar, dari benda ke cloud, dari rak ke server. Tetapi sejarah manusia jarang bergerak demikian rapi. Radio tidak sepenuhnya membunuh buku. Film tidak menghapus teater. Televisi tidak melenyapkan bioskop. Email tidak mematikan seluruh surat fisik. Yang lebih sering terjadi adalah diferensiasi fungsi: medium lama kehilangan sebagian peran, tetapi bertahan karena menemukan alasan keberadaannya yang khas. Mungkinkah buku fisik akan menempuh jalan serupa? Bukan lagi satu-satunya wadah baca, tetapi tetap dibutuhkan dalam konteks-konteks tertentu?


Jawaban paling bertanggung jawab, berdasarkan sumber yang tersedia, adalah: kemungkinan itu justru lebih kuat daripada klaim bahwa buku fisik akan segera tidak dibutuhkan sama sekali [1][2][3][4][5]. Kebutuhan terhadap buku fisik mungkin menyusut di sebagian use case. Untuk bacaan cepat, pencarian referensi instan, distribusi luas, dan mobilitas tinggi, format digital memiliki keunggulan yang sukar dibantah. Tetapi menyusut bukan berarti lenyap. Dalam konsumsi massal, pembelajaran, akses yang tidak merata, dan preservasi jangka panjang, buku fisik masih memiliki alasan keberadaan yang nyata [1][2][3][4][5].


Aspek preservasi sering luput dari perdebatan populer. Kita membicarakan kenyamanan pengguna, tetapi melupakan umur pengetahuan. Library of Congress dalam Recommended Formats Statement 2025–2026 masih mencantumkan kertas arsip berkualitas sebagai format yang relevan untuk karya tekstual fisik, sambil pada saat yang sama menetapkan preferensi rinci untuk format digital seperti EPUB3, PDF/UA, dan PDF/A [5]. Ini bukan sekadar daftar teknis; ini adalah pernyataan kelembagaan tentang bagaimana warisan pengetahuan dipandang hari ini. Di tingkat preservasi resmi, jawaban praktis bukan “fisik diganti digital”, melainkan pengelolaan paralel kedua jenis format [5].


Mengapa ini penting? Karena kebutuhan manusia bukan hanya kebutuhan saat ini, melainkan juga kebutuhan untuk mengingat. Sebuah peradaban bukan hanya yang mampu memproduksi informasi, tetapi juga yang mampu memastikan informasi itu tetap dapat diakses di masa depan. File digital dapat diperbanyak dengan mudah, tetapi ia juga bergantung pada standar, perangkat, migrasi format, listrik, sistem, dan tata kelola. Buku fisik memiliki kerentanannya sendiri, tetapi ia juga memiliki kesederhanaan tertentu: selama ia terjaga, ia dapat dibuka langsung oleh manusia tanpa lapisan perangkat lunak [5]. Apakah kesederhanaan seperti ini akan menjadi usang? Mungkin suatu hari. Tetapi lagi-lagi, bukti yang ada belum memberi hak untuk memastikan waktunya.


Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap mitos teknologi yang paling menggoda: keyakinan bahwa yang baru pasti menggantikan yang lama secara total. Benarkah demikian? Ataukah kita hanya terbiasa membaca sejarah sebagai drama penggantian, padahal dalam banyak kasus ia adalah kisah koeksistensi? E-book tidak harus gagal agar buku fisik tetap dibutuhkan. Audiobook tidak harus ditolak agar buku cetak bertahan. Masa depan mungkin bukan penghapusan, melainkan pembagian kerja antar-medium. Bukankah manusia sendiri makhluk yang gemar menyimpan banyak alat untuk kebutuhan yang berbeda?


Jika kita renungkan lebih dalam, pertanyaan tentang buku fisik sesungguhnya adalah pertanyaan tentang tubuh dan kesadaran. Dapatkah pengetahuan sepenuhnya dipisahkan dari cara ia disentuh? Dapatkah membaca menjadi aktivitas yang sepenuhnya bebas medium? Atau justru setiap medium mengandung filsafat tersembunyi tentang perhatian? Layar sering mengundang perpindahan cepat, multitugas, notifikasi, dan fragmentasi. Kertas cenderung menawarkan batas, keheningan, dan fokus tunggal. Tentu ini bukan mutlak; banyak orang bisa membaca serius di layar, dan banyak orang juga terdistraksi saat membaca buku cetak. Namun sebagai kecenderungan pengalaman, perbedaannya nyata bagi banyak pembaca, dan sebagian didukung oleh temuan pemahaman bacaan [3].


Lalu, kapan manusia tidak lagi membutuhkan buku fisik? Jika yang dimaksud adalah “kapan ada cukup banyak orang yang beralih ke digital untuk sebagian besar kebutuhannya”, proses itu sudah lama berlangsung di sejumlah bidang. Jika yang dimaksud adalah “kapan buku fisik berhenti menjadi format dominan di semua konteks”, data yang tersedia belum mendukung kesimpulan itu [1][2]. Jika yang dimaksud adalah “kapan buku fisik tidak lagi memiliki fungsi unik dalam belajar, akses, dan preservasi”, maka bukti saat ini justru menunjukkan fungsi-fungsi tersebut masih ada [3][4][5]. Dengan kata lain, jawaban bergantung pada definisi pertanyaannya. Dan sering kali, perdebatan menjadi kacau karena definisi itu dibiarkan kabur.


Kita juga harus menolak godaan untuk mengekstrapolasi terlalu jauh dari satu negara atau satu sektor. Data Pew dan AAP berfokus pada Amerika Serikat [1][2]. Ia berharga, tetapi bukan hukum global. Dunia terdiri dari banyak ekosistem pembacaan, tingkat pendapatan, infrastruktur digital, harga perangkat, kebijakan pendidikan, dan tradisi literasi yang berbeda. Mungkin di sebagian kota besar, buku fisik terasa makin opsional. Tetapi di tempat lain, ia bisa tetap menjadi medium paling sederhana, stabil, dan terjangkau. Karena itu, setiap klaim universal bahwa “manusia” secara keseluruhan akan berhenti membutuhkan buku fisik pada waktu tertentu, saat ini melampaui apa yang bisa dipertahankan oleh bukti.


Apakah ini berarti buku fisik tidak akan pernah surut? Tidak. Kejujuran intelektual menuntut kita mengakui bahwa kebutuhan terhadap buku fisik dapat menyempit. Distribusi digital memberi keuntungan besar: biaya logistik yang berbeda, akses cepat, integrasi dengan fitur bantu baca, dan fleksibilitas penyimpanan. Di banyak situasi, digital jelas unggul secara praktis. Namun justru karena masa depan bersifat terbuka, kita perlu menahan diri dari ramalan mutlak. Menyusut bukan berarti menghilang. Menjadi salah satu pilihan bukan berarti tidak lagi dibutuhkan. Bahkan ketika suatu medium kehilangan posisi hegemoniknya, ia masih dapat memegang peran yang penting.


Mungkin pertanyaan ini juga menyimpan kecemasan yang lebih dalam: jika buku fisik suatu hari tidak lagi dibutuhkan, apakah ada sesuatu dari kemanusiaan kita yang ikut berubah? Apakah hilangnya buku cetak hanya perubahan format, atau juga perubahan ritme berpikir? Apakah rak-rak buku di rumah sekadar penyimpanan, atau juga bentuk autobiografi diam-diam? Apakah perpustakaan fisik hanya gudang, atau ruang tempat masyarakat belajar bahwa pengetahuan mempunyai berat, ruang, dan keberadaan bersama? Ini bukan pertanyaan yang seluruh jawabannya bisa diberikan oleh statistik. Tetapi statistik membantu kita agar kegelisahan kita tidak berubah menjadi ilusi.


Dari fakta yang tersedia, kita tahu setidaknya lima hal. Pertama, pembaca buku cetak masih sangat banyak, bahkan lebih banyak daripada pembaca e-book dan pendengar audiobook dalam data Pew 2025 di AS [1]. Kedua, buku print masih menjadi penopang utama revenue penerbitan AS pada laporan AAP 2025 [2]. Ketiga, penelitian meta-analitik menunjukkan keunggulan rata-rata membaca di kertas untuk pemahaman, terutama pada kondisi tertentu [3]. Keempat, transisi digital dalam pendidikan internasional belum menghapus sepenuhnya kebutuhan atas mode berbasis kertas [4]. Kelima, dalam preservasi jangka panjang, institusi besar masih memperlakukan format fisik dan digital sebagai dua kebutuhan yang berjalan berdampingan [5]. Bila kelima fakta ini diletakkan bersama, sulit membela klaim bahwa manusia telah, atau akan dalam waktu yang dapat ditentukan sekarang, berhenti membutuhkan buku fisik.


Karena itu, sikap paling waras mungkin bukan meratapi masa depan buku fisik, dan bukan pula meromantisasi masa lalunya. Sikap yang lebih jernih adalah menerima bahwa medium membaca sedang mengalami redistribusi fungsi. Buku fisik mungkin tak lagi memonopoli cara manusia membaca, tetapi itu berbeda sekali dari menjadi tidak dibutuhkan. Ia mungkin akan menjadi lebih selektif perannya: kuat di beberapa wilayah, lemah di wilayah lain; dominan di sebagian pengalaman, pelengkap di pengalaman lain. Bukankah kedewasaan berpikir justru dimulai ketika kita berhenti menuntut jawaban biner untuk realitas yang berlapis?


Jadi, kapan manusia tidak lagi membutuhkan buku fisik? Sampai hari ini, belum ada dasar kredibel untuk menetapkan tahunnya. Bahkan mungkin pertanyaan itu sendiri terlalu tegas untuk realitas yang terlalu cair. Yang bisa dikatakan dengan lebih akurat adalah ini: kebutuhan terhadap buku fisik kemungkinan akan menyusut dalam sebagian penggunaan, tetapi belum hilang, karena buku fisik masih didukung oleh perilaku pembaca, nilai ekonomi, fungsi pemahaman, persoalan akses, dan kebutuhan preservasi [1][2][3][4][5]. Mungkin suatu hari keseimbangan itu berubah drastis. Mungkin juga tidak. Tetapi sampai bukti yang lebih kuat hadir, kebijaksanaan intelektual menuntut kita mengakui batas pengetahuan kita.


Dan bukankah di situlah filsafat selalu kembali: bukan pada kepastian yang terlalu cepat, melainkan pada pertanyaan yang diajukan dengan disiplin? Buku fisik mungkin tidak abadi. Medium digital pun mungkin bukan jawaban final untuk semua situasi. Manusia, seperti biasa, hidup di antara keduanya, memilih, menyesuaikan, mengoreksi, dan mewariskan. Selama pengetahuan masih memerlukan bentuk, selama pemahaman masih dipengaruhi cara kita membaca, selama akses belum merata, dan selama ingatan peradaban belum diserahkan pada satu medium saja, maka buku fisik belum dapat diputuskan sebagai benda yang tak lagi dibutuhkan. Pertanyaannya belum selesai. Mungkin justru karena manusia sendiri belum selesai menentukan bagaimana ia ingin membaca, belajar, dan mengingat.


  • Fakta utama: belum ada sumber kredibel yang menetapkan tanggal pasti kapan manusia tidak lagi membutuhkan buku fisik [1][2][3][4][5].
  • Analisis yang dapat dipertahankan: kebutuhan terhadap buku fisik kemungkinan menyusut pada sebagian use case, tetapi belum hilang.
  • Alasan utamanya: konsumsi pembaca masih kuat [1], peran ekonomi print masih besar [2], hasil pemahaman di kertas sering unggul [3], kebutuhan akses dalam pendidikan belum seragam [4], dan preservasi institusional masih mengelola fisik serta digital secara paralel [5].
  • Keterbatasan bukti: sebagian data berfokus pada AS atau konteks institusional tertentu, sehingga tidak boleh dipaksakan menjadi hukum global [1][2].

Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukan memilih satu medium untuk dimenangkan, melainkan memahami dengan jujur apa yang tiap medium lakukan terhadap manusia. Sebab pertanyaan “apakah kita masih membutuhkan buku fisik?” diam-diam selalu berhubungan dengan pertanyaan yang lebih besar: “seperti apa manusia yang ingin kita pertahankan di tengah perubahan cara membaca?” Selama pertanyaan kedua itu masih hidup, pertanyaan pertama belum akan menemukan jawaban final.


Sumber Referensi

  1. Print books still dominate in the U.S., but use of e-books and audiobooks has grown over the past decade | Pew Research Center
  2. AAP StatShot Annual Report: Publishing Revenues Totaled $33.4 Billion for Calendar Year 2025 - AAP
  3. Don't throw away your printed books: A meta-analysis on the effects of reading media on reading comprehension - ScienceDirect
  4. What is PISA?: PISA 2022 Assessment and Analytical Framework | OECD
  5. Recommended Formats Statement - Resources (Preservation, Library of Congress)
Artikel lain dari penulis ini
Iklan