← Kembali ke Blogs

Artikel Terbaru oleh arifrahmawan

Ketika Kritik Dianggap Batu di Kaca Pemerintahan: Salah Paham Besar dalam Demokrasi

Demokrasi itu sering dijual seperti warung kopi dua puluh empat jam: katanya semua orang boleh datang, duduk, ngomong, debat, bahkan ngeluh soal rasa kopinya. Tapi...

Diterbitkan: 2026-08-30 08:37:33

Read more
Mengapa Masyarakat Indonesia Enggan Baca Buku? Jangan Keburu Nuduh Malas, Lihat Dulu Mesin di Balik Asapnya

Ada satu tuduhan yang sering dilempar ke publik Indonesia dengan santai, seolah-olah itu kebenaran final: masyarakat kita enggan baca buku karena memang malas. Kalimat ini...

Diterbitkan: 2026-08-28 18:19:59

Read more
Kapan Manusia Tidak Lagi Membutuhkan Buku Fisik?

Kapan manusia tidak lagi membutuhkan buku fisik? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi apakah ia sungguh sesederhana itu? Apakah “membutuhkan” berarti masih membeli, masih membaca, masih...

Diterbitkan: 2026-08-28 17:53:51

Read more
Kenapa Korea Selatan dan Indonesia Berjalan ke Arah yang Berbeda Setelah Merdeka? Bukan Cuma Soal Pendidikan

Kalau dua negara diibaratkan dua anak kos yang mulai hidup mandiri pada fase sejarah yang kurang lebih sama, pertanyaannya bukan cuma siapa yang lebih pintar,...

Diterbitkan: 2026-08-28 17:06:06

Read more
Benarkah PKI yang telah Memberontak pada 1 Oktober 1965?

Ada pertanyaan yang terus berulang dari generasi ke generasi: benarkah PKI yang memberontak pada peristiwa yang dikenang luas pada awal Oktober pertengahan dekade enam puluhan?...

Diterbitkan: 2026-08-28 10:13:42

Read more
Kalau Sudah Ada Penegak Hukum, Kenapa Rakyat Masih Harus Panas-Panasan Demo?

Pertanyaan ini kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya nyenggol jantung demokrasi: kalau polisi ada, jaksa ada, hakim ada, aturan juga tebalnya bisa buat ganjel lemari, kenapa rakyat...

Diterbitkan: 2026-08-27 16:47:31

Read more
Wiji Thukul Melawan Sang Jenderal Soeharto: Ketika Kata-Kata Membuat Takhta Gelisah

Negeri ini pernah sangat percaya pada sebuah pertunjukan: senyum di panggung depan, rasa takut di ruang belakang. Di layar, kekuasaan tampak seperti bapak yang tenang,...

Diterbitkan: 2026-08-26 21:39:38

Read more
Dari Zaman Kompeni sampai Demokrasi: Kenapa Rakyat Selalu Dianggap Jangan Banyak Tanya?

Kalau sejarah negeri ini diibaratkan sebagai panggung teater, maka rakyat terlalu sering cuma dijadikan figuran yang disuruh berdiri, tepuk tangan, lalu pulang tanpa boleh ikut...

Diterbitkan: 2026-08-25 13:01:17

Read more
Pejabat Korup Bukan Jatuh dari Langit: Kadang Rakyat Ikut Menyetel Panggung yang Menjerumuskan

Ada kalimat yang sering bikin obrolan warung kopi langsung panas: “Pejabat korup itu ya salah pejabatnya sendiri. Rakyat mah korban.” Kalimat ini ada benarnya, tapi...

Diterbitkan: 2026-08-25 12:46:37

Read more
Isu Komunis sebagai Knalpot Ketakutan: Cara Orde Baru Membuat Kritik Terlihat Seperti Dosa Politik

Ada satu pertanyaan yang sampai sekarang masih ngelayap kayak asap rokok di warung kopi: Orde Baru itu benar-benar takut PKI bangkit lagi, atau justru isu...

Diterbitkan: 2026-08-25 12:11:15

Read more