Kita Ini Bukan Muncul dari Ruang Kosong: Kalau Mau Anak-Cucu Hidup Lebih Waras, Kita Harus Belajar, Berjuang, dan Berpolitik Lebih Baik

← Kembali ke Blogs

Kita Ini Bukan Muncul dari Ruang Kosong: Kalau Mau Anak-Cucu Hidup Lebih Waras, Kita Harus Belajar, Berjuang, dan Berpolitik Lebih Baik

Ditulis oleharifrahmawan·
1 unik hari ini 2 unik 7 hari 23 unik 30 hari 46 total unik
Iklan

Kita sering hidup seolah-olah hari ini jatuh dari langit. Seolah nasib sosial, kualitas kota, tabiat politik, mutu sekolah, harga kejujuran, sampai watak antre di lampu merah itu muncul begitu saja kayak mie instan diseduh air panas. Padahal enggak begitu. Kita hari ini lebih mirip lagu lama yang terus di-remix: nadanya bisa berubah, beat-nya bisa dipercepat, liriknya bisa dikacaukan generasi baru, tapi ada melodi dasar yang diwariskan dari masa lalu. Kita hidup di atas panggung yang lantainya sudah dipasang sebelum kita lahir. Ada papan yang kokoh, ada yang lapuk, ada yang miring. Dan lantai itu dibangun oleh keputusan, kebiasaan, konflik, kerja keras, kelalaian, bahkan kemalasan orang-orang sebelum kita.


Di titik ini, penting buat jujur: ketika kita bilang “leluhur”, yang paling aman secara fakta bukan sekadar membayangkan kakek-buyut secara biologis, melainkan warisan sejarah yang lebih luas—institusi, budaya kewargaan, kualitas pendidikan, serta posisi sosial-ekonomi yang menurun antargenerasi [1][3]. Jadi, bukan berarti semua sifat masyarakat hari ini adalah takdir darah. Yang lebih dekat dengan temuan riset justru begini: pengalaman sejarah dan kualitas kelembagaan bisa meninggalkan jejak sangat panjang pada perilaku kolektif masyarakat [1]. Artinya, masa lalu itu bukan hantu mistik; ia sering hadir sebagai aturan main, kebiasaan bersama, dan pembagian peluang yang terasa normal karena sudah terlalu lama diwariskan.


Ada riset yang menarik dari Guiso, Sapienza, dan Zingales tentang Italia. Mereka menunjukkan bahwa pengalaman kota-kota merdeka di Italia utara pada Abad Pertengahan masih berkaitan dengan social capital atau kecakapan sipil pada masa kini [1]. Bahasa gampangnya: sejarah lama bisa nempel bukan cuma di arsip, tapi juga di cara orang saling percaya, bekerja sama, dan hidup sebagai warga. Ini bukan cerita romantis tentang nostalgia, melainkan petunjuk bahwa tindakan kolektif di masa lalu dapat membentuk kebiasaan sosial berumur panjang [1]. Jadi kalau hari ini kita melihat ada daerah yang warganya relatif lebih mudah berorganisasi, lebih percaya pada aturan, atau lebih terbiasa menjaga kepentingan bersama, boleh jadi itu bukan sulap semalam, melainkan akumulasi sejarah yang tebal.


Tapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya sudah terkunci seperti rel kereta. Itu justru bahaya cara berpikir malas. Banerjee dan Duflo menegaskan bahwa memang ada bukti kuat soal efek jangka panjang sejarah, tetapi ketidakpastian tentang seberapa kaku pengaruh itu justru menjadi alasan untuk terus memperbaiki kebijakan dan tindakan politik [2]. Dengan kata lain, masa lalu memang punya tangan panjang, tetapi tangan itu tidak selalu mencekik masa depan sampai mati. Ia bisa memengaruhi lintasan, namun lintasan itu tetap bisa dibelokkan. Sejarah memberi kita tanjakan dan turunan; ia bukan sopir yang memegang setir selamanya [2].


Di sinilah kalimat “kita hari ini adalah hasil dari peristiwa masa lalu” jadi masuk akal, asal dipahami dengan kepala dingin. Kita mewarisi lebih dari sekadar nama keluarga. Kita mewarisi kualitas sekolah di lingkungan, tata kota yang mungkin semrawut, budaya diskusi yang mungkin subur atau mandek, sistem politik yang bisa responsif atau bebal, serta distribusi peluang yang bisa lebih terbuka atau lebih tertutup [1][2][3]. Jadi kalau sekarang ada anak yang harus berangkat sekolah dengan jalan berlubang, gizi kurang, buku seadanya, dan ruang belajar sempit, itu bukan sekadar drama individual. Itu adalah hasil dari keputusan publik, investasi sosial, dan prioritas politik yang dibentuk sebelum dia sempat memilih apa pun.


Bank Dunia, lewat basis data mobilitas antargenerasi global, menunjukkan bahwa pendidikan anak masih sangat dipengaruhi oleh latar belakang orang tua, dan rata-rata mobilitas pendidikan absolut maupun relatif lebih rendah di negara berpendapatan rendah [3]. Ini penting banget. Karena sering kali orang suka menyederhanakan hidup: yang rajin pasti berhasil, yang gagal pasti kurang niat. Padahal data tentang mobilitas antargenerasi mengingatkan bahwa garis start manusia tidak pernah sama [3]. Ada yang lahir dengan sepatu lari, ada yang lahir sambil memanggul batu, ada yang bahkan belum dikasih lintasan. Maka kalau kita bicara masa depan anak-cucu, kita enggak bisa cuma berkhotbah soal semangat pribadi. Kita harus bicara soal struktur kesempatan yang diwariskan.


Namun justru karena warisan itu nyata, tanggung jawab kita jadi lebih besar. Kalau leluhur, pendahulu, atau generasi sebelumnya bisa mewariskan institusi, kebiasaan, dan kualitas hidup tertentu kepada kita, maka kita hari ini pun sedang menulis naskah untuk orang-orang yang belum lahir. Kita ini semacam penulis bayangan bagi masa depan. Mungkin nama kita tidak masuk buku sejarah, tapi keputusan kecil dan besar yang kita anggap sepele hari ini bisa berubah jadi udara sosial yang dihirup anak-cucu besok. Cara kita memperlakukan ilmu, memilih pemimpin, mengawasi anggaran, mendidik anak, menghormati aturan, dan membangun karya, semua itu adalah bata-bata kecil. Sendiri tampak receh. Dikumpulkan puluhan tahun, ia jadi rumah atau reruntuhan.


Makanya, seruan untuk belajar, berjuang, berkarya, berpolitik, dan berdisiplin lebih baik itu bukan slogan motivator tempelan kaca mobil. Itu ada dasar logikanya, dan sebagian juga ada dasar empirisnya. Misalnya soal investasi pada manusia sejak dini. Bank Dunia menekankan bahwa sekitar 90% perkembangan otak terjadi sebelum usia 5 tahun, dan investasi pada masa awal kehidupan membantu memutus siklus kemiskinan, mengurangi ketimpangan, serta meningkatkan produktivitas [4]. Artinya, masa depan anak-cucu bukan mulai saat mereka wisuda, tapi jauh sebelumnya: sejak gizi, kesehatan, stimulasi, keamanan, dan kualitas pengasuhan dibentuk [4]. Kalau fondasi rumah retak sejak dicor, jangan heran kalau dinding di lantai dua mudah pecah.


Masih dari Bank Dunia, Human Capital Index memperkirakan bahwa secara global anak yang lahir hari ini rata-rata hanya akan mencapai sekitar 56% dari produktivitas penuhnya karena risiko kesehatan dan pendidikan yang buruk [4]. Ini angka yang menusuk. Bukan karena ia memberi ramalan mutlak bagi setiap anak, melainkan karena ia menunjukkan betapa mahalnya kelalaian sosial [4]. Kalau masyarakat gagal menjaga kesehatan, pendidikan, dan perkembangan awal anak, yang hilang bukan cuma nilai rapor. Yang hilang adalah kapasitas masa depan, kreativitas, daya saing, dan kemungkinan hidup yang lebih baik. Jadi disiplin sosial itu bukan cuma urusan datang tepat waktu atau pakai seragam rapi; disiplin sosial juga berarti serius membangun kondisi yang membuat potensi manusia bisa tumbuh.


Di titik ini aku pengin pakai analogi band kampus. Bayangkan satu generasi itu seperti kru panggung. Sebagian pegang gitar, sebagian ngurus kabel, sebagian nyalain lampu, sebagian jaga sound. Penonton besok—yakni anak-cucu—akan menikmati musik atau justru kuping berdengung tergantung kerja kru hari ini. Kalau sekarang kita asal colok kabel, males latihan, cuek sama feedback, rebutan panggung, dan membiarkan ampli korslet, maka generasi setelah kita akan tampil di atas panggung berantakan. Mereka mungkin berbakat, tapi alatnya rusak. Sebaliknya, kalau kita menata alat dengan serius, bikin aturan main yang adil, dan memastikan semua orang dapat akses latihan, maka generasi berikutnya bisa bermain lebih indah dari kita. Itulah politik dalam arti luas: seni menata panggung bersama.


Dan ya, kita harus bicara terang soal politik. Karena sering sekali orang bilang, “Yang penting kerja aja, politik itu kotor.” Kalimat semacam ini terdengar bijak, tapi sering berfungsi seperti obat penenang massal. Padahal ketika orang baik menjauhi politik, politik tidak berhenti bekerja. Ia tetap mengatur sekolah mana yang dibangun, puskesmas mana yang kekurangan tenaga, jalan mana yang mulus, siapa yang dapat perlindungan, siapa yang antre paling belakang. Politik itu seperti sistem operasi di laptop: meski kamu cuma mau ngetik tugas, performa semuanya tetap bergantung pada software dasarnya.


Ada contoh konkret dari Brasil. Studi Thomas Fujiwara tentang pemungutan suara elektronik menunjukkan bahwa ketika enfranchisement de facto meluas—terutama bagi warga yang kurang berpendidikan—belanja pemerintah bergeser ke layanan kesehatan, pemanfaatan layanan seperti kunjungan prenatal meningkat, dan sebagian indikator kesehatan bayi baru lahir membaik bagi ibu berpendidikan rendah [5]. Ini penting bukan karena Brasil identik dengan semua negara, melainkan karena ia memberi bukti kuat bahwa desain politik dan kualitas partisipasi politik bisa mengubah alokasi sumber daya publik dan hasil hidup generasi berikutnya [5]. Jadi “berpolitik lebih baik” itu bukan teriakan kosong. Ada jalur nyata dari partisipasi politik menuju kebijakan, lalu ke layanan publik, lalu ke hidup manusia.


Tentu kita harus hati-hati. Fakta dari Brasil tidak otomatis bisa ditempel mentah-mentah ke semua tempat [5]. Konteks berbeda, sistem berbeda, sejarah berbeda. Tapi pelajarannya tetap tajam: kalau mekanisme demokrasi dibuat lebih inklusif dan responsif, hasil kebijakannya bisa lebih menyentuh kebutuhan dasar warga [5]. Dalam bahasa anak kos: siapa yang diajak masuk forum akan memengaruhi menu yang dipesan. Kalau yang duduk di meja keputusan hanya segelintir orang, jangan heran kalau yang keluar adalah kebijakan yang mengenyangkan segelintir orang juga.


Jadi, ketika kita bilang ingin masa depan anak-cucu lebih baik, itu berarti kita harus menerima satu kenyataan yang agak pahit: niat baik tanpa struktur baik sering berakhir jadi puisi. Bagus dibacakan, lemah dikerjakan. Anak-cucu tidak bisa hidup dari caption. Mereka butuh sekolah yang waras, layanan kesehatan yang dapat dijangkau, ruang aman untuk tumbuh, ekonomi yang memberi peluang, dan budaya sipil yang tidak memuliakan tipu daya. Semua itu lahir dari kombinasi usaha pribadi dan keputusan kolektif. Kita perlu orang rajin belajar, tetapi juga perlu sistem pendidikan yang tidak melemahkan yang miskin [3][4]. Kita perlu keluarga yang peduli, tetapi juga kebijakan publik yang tidak membiarkan masa awal kehidupan anak runtuh [4]. Kita perlu etos kerja, tetapi juga tata politik yang mengarahkan sumber daya ke kebutuhan masyarakat luas [2][5].


Belajar, dalam konteks ini, bukan cuma urusan mengejar gelar lalu pamer map wisuda. Belajar adalah cara supaya kita tidak jadi generasi penonton yang gampang dibohongi. Masyarakat yang malas belajar itu seperti naik kapal dengan kru yang tidak bisa baca kompas. Semua orang mungkin bersemangat mendayung, tapi arahnya ngawur. Kalau kita ingin memperbaiki masa depan, kita harus belajar sejarah supaya tidak tertipu ilusi kebaruan; belajar ekonomi supaya paham bahwa anggaran itu keputusan moral juga; belajar hukum supaya sadar hak dan batas kuasa; belajar sains supaya tidak menyerahkan nasib publik pada gosip. Karena kebodohan kolektif adalah tanah subur bagi warisan buruk berikutnya.


Berjuang juga tidak boleh dipahami sempit, seolah harus selalu heroik dan dramatis. Berjuang bisa berarti menolak ikut korupsi kecil yang dibungkus kebiasaan. Bisa berarti tetap jujur saat sistem mendorong jalan pintas. Bisa berarti mengorganisasi warga, menjaga mutu kerja, mengajar adik, membela kebijakan yang berpihak pada perkembangan anak, atau sekadar hadir konsisten dalam urusan yang menyangkut kepentingan umum. Perjuangan itu lebih sering mirip menimba air sedikit demi sedikit daripada meledakkan gunung. Tidak selalu viral, tidak selalu mendapat tepuk tangan, tapi dari sanalah sumur peradaban diisi.


Berkarya pun demikian. Karya bukan aksesori ego. Karya adalah bukti bahwa kita menolak cuma jadi penikmat warisan, baik warisan baik maupun warisan buruk. Ketika kita berkarya—di kelas, di kampung, di laboratorium, di kantor desa, di ruang seni, di UMKM, di media, di layanan publik—kita sedang menambah pilihan bagi masa depan. Setiap karya yang jujur adalah semacam jembatan kecil. Mungkin belum menyeberangkan satu kota, tapi setidaknya membuka kemungkinan orang lain berjalan lebih jauh. Anak-cucu kelak tidak hanya mewarisi uang atau tanah; mereka mewarisi ekosistem kreativitas, kualitas institusi, dan standar etika kerja yang kita normalisasi hari ini.


Lalu soal disiplin. Ini kata yang sering bikin orang alergi karena dibayangkan seperti suara peluit, barisan kaku, atau wajah galak. Padahal disiplin yang kita perlukan lebih dalam dari itu. Disiplin adalah kemampuan menunda kesenangan kecil demi hasil besar yang lebih adil. Disiplin adalah setia pada prosedur yang masuk akal, menjaga kualitas kerja meski tidak diawasi, serta menghargai waktu dan ruang orang lain. Masyarakat tanpa disiplin mirip orkestra tanpa ketukan. Semua mungkin berbakat, tetapi karena masing-masing ingin jadi drummer, hasilnya berisik. Dan kalau kebiasaan sosial semacam ini diwariskan terus, anak-cucu akan lahir ke dalam kebisingan yang dianggap budaya.


Meski begitu, kita juga perlu membedakan fakta, analisis, dan opini. Faktanya, ada bukti bahwa sejarah dan institusi masa lalu dapat berpengaruh lama pada kecakapan sipil dan perilaku kolektif [1]. Faktanya, mobilitas pendidikan antargenerasi masih dipengaruhi kuat oleh latar belakang orang tua, terutama di negara berpendapatan rendah [3]. Faktanya, investasi pada usia dini penting sekali bagi perkembangan anak dan produktivitas masa depan [4]. Faktanya, kualitas partisipasi politik dapat memengaruhi prioritas belanja publik dan beberapa hasil kesehatan [5]. Analisisnya: semua ini menunjukkan bahwa masa depan generasi berikutnya tidak hanya dibentuk oleh kemauan pribadi, tetapi juga oleh kualitas struktur sosial dan politik yang diwariskan. Opininya: karena itu, kita semestinya hidup lebih serius, lebih cerdas, dan lebih bertanggung jawab sebagai generasi perantara.


Aku sengaja bilang “generasi perantara” karena itu posisi kita. Kita bukan titik awal, dan kita juga bukan titik akhir. Kita ini jembatan. Di belakang ada sejarah; di depan ada kemungkinan. Jembatan yang baik tidak sombong merasa menciptakan dua tebing, tapi juga tidak pasrah membiarkan orang jatuh. Ia menjalankan fungsi penghubung. Maka tugas generasi sekarang bukan pura-pura netral. Netral terhadap kebodohan publik, kerusakan institusi, ketimpangan kesempatan, dan kemunduran budaya sipil pada akhirnya cuma memperpanjang umur masalah. Kalau kita tahu masa lalu membentuk hari ini, maka kita juga harus berani menerima bahwa tindakan kita akan membentuk hari esok.


Memang tidak semua hal bisa kita ubah sendirian. Itu juga harus jujur. Data yang ada tidak memungkinkan kita mengklaim hubungan tunggal yang sederhana, misalnya “kalau semua orang disiplin maka seluruh masalah selesai.” Sumber-sumber yang ada justru mendorong kehati-hatian: warisan masa lalu menciptakan lintasan, tetapi kebijakan dan keputusan hari ini dapat memperkuat atau memutus lintasan itu [2]. Jadi persoalannya bukan mencari tombol ajaib, melainkan membangun kombinasi tindakan yang lebih sehat: pendidikan yang lebih baik, investasi dini pada anak, partisipasi politik yang lebih bermakna, dan kebiasaan sosial yang lebih tertib [2][3][4][5]. Tidak sederhana, tapi jelas lebih masuk akal daripada pasrah pada nasib atau menyerahkan semuanya pada individu semata.


Maka pesan akhirnya begini: kalau kita ingin anak-cucu hidup di negeri yang tidak terus-menerus mewarisi lubang yang sama, kita harus berhenti hidup ala penyewa bumi yang cuma numpang rusuh. Kita harus mulai hidup sebagai penjaga estafet. Belajar lebih serius supaya pikiran tidak gampang dicolok propaganda. Berjuang lebih tabah supaya yang lemah tidak selalu kalah oleh yang licik. Berkarya lebih tekun supaya ada nilai yang benar-benar kita tambahkan ke dunia. Berpolitik lebih dewasa supaya sumber daya publik mengalir ke kebutuhan nyata manusia. Berdisiplin lebih konsisten supaya peradaban tidak bocor oleh kebiasaan buruk yang dianggap sepele.


Karena pada akhirnya, anak-cucu tidak akan makan dari pidato kita. Mereka akan hidup dari sistem yang kita biarkan atau kita perbaiki. Mereka akan tumbuh di dalam budaya yang kita rawat atau kita rusak. Mereka akan meniti jalan yang hari ini kita aspal atau kita biarkan berlumpur. Kita adalah akibat dari masa lalu, benar. Tapi justru karena itu, kita juga sedang menjadi sebab bagi masa depan. Dan kalau kita sadar sedang memegang palu, paku, dan cetak biru peradaban, masa bodoh bukan lagi sekadar kelemahan pribadi. Ia berubah jadi pengkhianatan antargenerasi.


Jadi, mari jangan cuma jadi generasi yang pandai mengeluh sambil rebahan di reruntuhan warisan. Mari jadi generasi yang cukup rendah hati untuk belajar dari sejarah, cukup berani untuk bertindak dalam politik, cukup tekun untuk membangun karya, dan cukup disiplin untuk menjaga hasilnya. Masa lalu memang mewarnai kita. Tapi warna masa depan anak-cucu, sebagian, sedang diaduk oleh tangan kita hari ini.


  • Fakta utama: warisan sejarah, institusi, budaya kewargaan, dan posisi sosial-ekonomi ikut membentuk kondisi masa kini [1][3].
  • Fakta utama: pengaruh sejarah bukan takdir mutlak; kebijakan dan tindakan politik hari ini tetap dapat mengubah lintasan [2].
  • Fakta utama: pendidikan anak masih sangat dipengaruhi latar belakang orang tua di banyak negara, terutama yang berpendapatan rendah [3].
  • Fakta utama: investasi pada masa awal kehidupan sangat penting bagi perkembangan anak dan produktivitas masa depan [4].
  • Fakta utama: kualitas partisipasi politik dan desain kelembagaan dapat memengaruhi layanan publik serta sebagian hasil hidup generasi berikutnya [5].
  • Opini editorial: karena itu, belajar, berjuang, berkarya, berpolitik, dan berdisiplin lebih baik adalah sikap yang masuk akal untuk memperbaiki masa depan anak-cucu.

Sumber Referensi

  1. Long Term Persistence | NBER
  2. Under the Thumb of History? Political Institutions and the Scope for Action
  3. World Bank Document
  4. Early Years: The Foundation for Human Capital
  5. Voting Technology, Political Responsiveness, and Infant Health: Evidence From Brazil
Artikel lain dari penulis ini
Iklan