Coba perhatiin suasana di sekolah. Kadang ada anak yang rajin belajar, suka ke perpus, suka nanya di kelas, atau kelihatan niat banget paham rumus fisika dan matematika. Eh, justru dia bisa jadi bahan ejekan. Dibilang sok pintar, terlalu serius, nggak asyik, atau klasik banget: “ngapain rajin baca buku, toh nanti juga nggak kepake di dunia kerja.” Di sisi lain, banyak yang jauh lebih akrab dengan konten hiburan, tren receh, dan tontonan serba cepat di layar. Akhirnya muncul pertanyaan yang agak pahit: kok bisa ya, di lingkungan pendidikan, ilmu pengetahuan malah terasa jauh dari keseharian anak sekolah?
Pertanyaan ini penting, karena masalahnya ternyata bukan sesederhana “anak zaman sekarang malas belajar” atau “generasi sekarang kebanyakan main TikTok.” Kalau cuma disederhanakan begitu, kita justru gagal melihat akar masalahnya. Dari data dan riset yang ada, persoalannya lebih rumit: fondasi literasi dan sains yang lemah, motivasi belajar yang tidak terlalu kuat, tekanan teman sebaya, gangguan perhatian dari lingkungan digital, dan budaya sekolah yang belum tentu bikin anak merasa aman untuk terlihat serius belajar [1][2][3][4][5]. Jadi, yang jauh itu bukan cuma buku atau rumus. Yang jauh adalah rasa dekat secara psikologis dengan ilmu itu sendiri.
Ironisnya memang di situ. Anak-anak ini secara fisik ada di sekolah. Mereka pakai seragam, duduk di kelas, ketemu guru, ngerjain tugas, ikut ujian. Tapi semua itu belum otomatis membuat mereka merasa dekat dengan pengetahuan. Dekat secara fisik dengan sekolah tidak sama dengan dekat secara batin dengan belajar. Seseorang bisa hadir di institusi pendidikan, tapi tetap merasa bahwa membaca itu “bukan gue”, sains itu “bukan dunia gue”, perpustakaan itu “tempat anak kutu buku”, dan bertanya di kelas itu “jalan tercepat buat kelihatan aneh”.
Kalau mau jujur, ada banyak anak yang sebenarnya bukan anti-ilmu. Mereka lebih sering merasa ilmu itu sulit, bikin malu, bikin kelihatan beda, atau terasa nggak ada hubungannya dengan hidup mereka sekarang. Itu beda banget. Menolak sesuatu karena benci tidak sama dengan menjauh karena merasa tidak mampu atau tidak nyaman. Dan justru di sini letak masalah besarnya.
Data OECD dari PISA 2022 menunjukkan bahwa fondasi dasar siswa Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains memang masih rapuh. Hanya 25% siswa Indonesia yang mencapai setidaknya Level 2 dalam membaca, 18% dalam matematika, dan 34% dalam sains [1]. Artinya, untuk banyak siswa, persoalannya bukan sekadar belum suka ilmu pengetahuan. Mereka bahkan masih berjuang di level dasar untuk memahami bacaan, konsep matematika, dan penalaran sains. Kalau fondasinya sudah goyah dari awal, wajar kalau buku terasa berat, rumus terasa seperti bahasa asing, dan pelajaran sains terasa seperti benda dari planet lain [1].
Ini penting banget buat dipahami. Kadang kita terlalu cepat menghakimi: “dasar males”, “nggak mau mikir”, “otaknya maunya hiburan terus.” Padahal bisa jadi pengalaman mereka dengan belajar memang berkali-kali berisi rasa gagal. Bayangin kalau dari kecil atau dari awal sekolah kamu sering ketemu bacaan yang susah dipahami, angka yang bikin panik, pelajaran yang jalan terus tanpa kamu sempat nyambung, lalu di kelas juga kamu takut salah. Lama-lama otakmu bukan sekadar capek. Otakmu akan mengaitkan belajar dengan rasa tidak nyaman. Akibatnya, ilmu bukan dipersepsi sebagai sesuatu yang seru untuk didekati, tapi sebagai wilayah yang bikin minder.
Makanya, waktu ada yang bilang, “ngapain paham fisika, toh nggak kepake,” sering kali itu bukan murni argumen rasional. Kadang itu adalah cara paling aman untuk menolak sesuatu yang sudah terasa sulit lebih dulu. Lebih mudah bilang “nggak penting” daripada mengaku “gue nggak paham.” Lebih mudah mengecilkan nilai buku daripada mengakui bahwa membaca teks panjang memang melelahkan. Lebih gampang mengejek anak rajin daripada menghadapi rasa insecure sendiri.
Data OECD juga nunjukkin sisi lain yang nggak kalah penting: motivasi intrinsik belajar di Indonesia tidak bisa dibilang kuat. Hanya sekitar setengah siswa yang melaporkan termotivasi secara intrinsik untuk mempelajari hal baru di sekolah [2]. Kurang dari setengah siswa juga sering bertanya saat tidak paham, dan kurang dari setengah rutin menghubungkan materi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka punya [2]. Ini nunjukkin bahwa buat banyak siswa, belajar belum dialami sebagai proses yang bermakna. Belajar masih sering terasa sebagai rutinitas formal: dengerin, catat, hafal, ulangan, selesai.
Kalau hubungan dengan belajar dangkal, ya wajar kalau ilmu terasa jauh. Anak tidak merasa sedang membangun pemahaman; mereka merasa sedang melewati kewajiban. Anak tidak merasa sedang masuk ke dunia pengetahuan; mereka merasa sedang berusaha selamat dari tugas. Dalam situasi seperti itu, membaca buku bukan kegiatan yang membuka wawasan, tapi kerja tambahan. Matematika bukan alat berpikir, tapi kumpulan simbol yang harus dihafal. Sains bukan cara memahami dunia, tapi sekadar nama mata pelajaran yang bikin pusing.
Di titik ini, ejekan terhadap anak rajin jadi masuk akal secara sosial, walaupun jelas nggak sehat. Kenapa? Karena ketika budaya belajar tidak terasa bernilai secara batin, yang dihargai bukan proses berpikir, tapi kemampuan menyesuaikan diri dengan kelompok. Anak yang terlalu kelihatan serius jadi tampak “beda sendiri”. Di banyak kelas, tampil santai, lucu, nggak terlalu ambisius, dan ikut arus bisa lebih aman secara sosial daripada terlihat tekun. Akhirnya, yang dipertahankan bukan rasa ingin tahu, tapi citra supaya tetap diterima.
Ini bukan sekadar asumsi. Ada bukti eksperimen yang sangat relevan soal tekanan teman sebaya. Studi yang diringkas J-PAL dan berbasis riset Leonardo Bursztyn serta Robert Jensen meneliti 825 siswa kelas 11 di empat SMA Los Angeles. Ketika keputusan untuk ikut kursus persiapan SAT dibuat terlihat oleh teman-teman di kelas non-honors, tingkat pendaftarannya turun dari 72% menjadi 61%. Di kelas honors, efek ini tidak muncul: 92% berbanding 93% [4]. Kesimpulannya kuat: di lingkungan tertentu, investasi akademik punya biaya sosial. Anak bisa mengurangi usaha belajarnya bukan karena tak mau maju, tapi karena takut konsekuensi sosial dari terlihat terlalu akademis [4].
Memang, studi itu bukan dilakukan di Indonesia dan konteksnya SAT, bukan membaca atau sains secara umum. Jadi kita nggak boleh sembrono menyatakan bahwa situasinya pasti sama persis di semua sekolah Indonesia. Tapi sebagai mekanisme sosial, temuannya sangat membantu menjelaskan fenomena yang sering kita lihat: anak rajin bisa diejek, anak yang antusias bisa dianggap aneh, dan anak yang serius belajar bisa merasa perlu menyembunyikan usahanya [4].
Kalau dipikir-pikir, itu menyedihkan. Kita sering bilang sekolah harus jadi tempat tumbuh, tapi dalam praktiknya, bagi sebagian siswa, sekolah juga bisa jadi tempat di mana mereka belajar satu hal yang salah: jangan terlalu kelihatan suka belajar kalau nggak mau dihakimi. Ini bukan cuma soal bercanda antarteman. Ini soal norma. Kalau norma di kelas menganggap usaha akademik sebagai sesuatu yang memalukan, maka ilmu akan makin terasa jauh, bahkan bagi anak yang sebenarnya punya potensi besar.
Nah, di sinilah konsep “sense of belonging” atau rasa memiliki di sekolah jadi penting. Ringkasan dari NCES/REL menjelaskan bahwa rasa memiliki di sekolah berkaitan dengan keterlibatan dan performa akademik. Faktor-faktor yang berhubungan dengan rasa memiliki itu mencakup dukungan teman sebaya, dukungan guru, dukungan orang tua, motivasi akademik, dan rasa aman di sekolah [5]. Jadi, masalahnya bukan cuma apakah anak punya teman atau tidak. Pertanyaannya: apakah anak merasa budaya belajar di sekolah itu juga miliknya? Apakah ia merasa aman untuk bertanya? Aman untuk gagal? Aman untuk terlihat rajin?
Kalau jawabannya tidak, maka perpustakaan, buku, rumus, bahkan laboratorium akan terasa seperti milik “anak lain”. Secara fisik semua ada di sekolah, tapi secara psikologis semua terasa berjarak. Ini yang bikin ironi itu makin nyata: pendidikan ada di depan mata, tapi tidak benar-benar hadir dalam pengalaman batin siswa.
PISA Indonesia memang menunjukkan bahwa banyak siswa merasa belong di sekolah dan mudah berteman. Sekitar 86% siswa Indonesia mengatakan mereka merasa belong di sekolah dan 87% mengatakan mudah berteman [1]. Tapi data yang sama juga menunjukkan bahwa 25% siswi dan 30% siswa laki-laki mengalami tindakan perundungan setidaknya beberapa kali per bulan [1]. Artinya, rasa kebersamaan umum tidak otomatis berarti budaya akademik aman. Kamu bisa punya teman banyak, tapi tetap merasa berisiko kalau terlalu sering angkat tangan, terlalu rajin ke perpus, atau terlalu kelihatan niat belajar.
Ini poin yang sering luput. Sekolah bisa terasa ramai, sosial, akrab, dan tetap tidak ramah pada usaha intelektual. Anak bisa merasa diterima sebagai anggota geng, tapi tidak merasa diterima sebagai orang yang penasaran. Anak bisa punya tempat nongkrong, tapi tidak punya tempat untuk jadi pembelajar tanpa takut dicap aneh. Jadi, masalahnya bukan sekadar relasi sosial ada atau tidak ada. Masalahnya adalah nilai sosial apa yang sedang menang di lingkungan itu.
Lalu soal dunia digital. Banyak orang pengin jawab cepat: “ya jelas karena TikTok.” Tapi kalau mau aman secara faktual, kita harus lebih hati-hati. Data UNICEF Indonesia menunjukkan bahwa kebanyakan anak di Indonesia memakai internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan [3]. Hanya 37,5% anak yang pernah menerima informasi tentang cara aman berinternet, dan 42% anak pernah merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman online [3]. Data ini kuat untuk menunjukkan bahwa ekosistem digital harian anak memang lebih banyak mengarahkan perhatian ke sosial dan hiburan, bukan otomatis ke eksplorasi ilmu [3]. Tapi data ini tidak membuktikan secara langsung bahwa TikTok menyebabkan turunnya minat sains [3].
Jadi, cara ngomong yang lebih jujur adalah begini: anak hidup di lingkungan digital yang memberi imbalan cepat pada hiburan, interaksi sosial, dan konten singkat. Sementara itu, membaca, matematika, dan sains menuntut perhatian lebih lama, kesabaran, dan toleransi terhadap kebingungan. Benturan ini nyata. Bukan karena hiburan itu selalu jahat, tapi karena ritme keduanya sangat berbeda. Konten receh selesai dalam hitungan detik dan sering langsung memberi rasa lucu, kaget, atau terhibur. Sains jarang bekerja begitu. Buku juga tidak. Mereka butuh waktu sebelum terasa nikmat.
Masalahnya makin berat ketika sekolah sendiri belum cukup berhasil bikin ilmu terasa hidup. Kalau di luar sekolah anak dibanjiri stimulasi cepat, tapi di dalam sekolah mereka ketemu pelajaran yang terasa abstrak, jauh, dan penuh evaluasi, ya jelas perhatian mereka akan lari ke tempat yang lebih mudah memberi hadiah psikologis. Ini bukan cuma soal niat. Ini juga soal desain pengalaman sehari-hari.
OECD juga mencatat bahwa 25% siswa di Indonesia melaporkan tidak bisa bekerja dengan baik di sebagian besar atau semua pelajaran matematika. Selain itu, 25% terdistraksi oleh perangkat digital yang mereka gunakan sendiri, dan 27% terdistraksi oleh siswa lain yang memakai perangkat digital [2]. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa lingkungan perhatian di sekolah pun tidak selalu mendukung pembelajaran yang butuh fokus panjang [2]. Sains, matematika, dan membaca itu bukan aktivitas yang cocok hidup di tengah perhatian yang koyak-koyak. Begitu fokus mudah pecah, pemahaman susah tumbuh. Begitu pemahaman susah tumbuh, pelajaran makin terasa asing. Lalu ketika pelajaran terasa asing, muncullah pembenaran: “ah nggak penting juga.”
Jadi kalau ada anak yang bilang rumus fisika nggak kepake, bisa jadi yang sedang bicara bukan pemahaman tentang pasar kerja, tapi pengalaman sekolah yang gagal membuat rumus itu terasa masuk akal. Kita sering terlalu cepat membawa argumen “dunia kerja” untuk membenarkan anti-intelektualisme. Padahal banyak hal yang dipelajari di sekolah tidak cuma soal dipakai mentah-mentah di pekerjaan tertentu. Membaca melatih ketahanan fokus dan kemampuan memahami gagasan. Matematika melatih struktur berpikir. Sains melatih cara bertanya, menguji, dan tidak gampang percaya begitu saja. Semua itu relevan jauh melampaui nama profesi.
Masalahnya, kalau pengalaman belajar yang diterima siswa hanya berupa hafalan, tekanan nilai, dan rasa takut salah, maka manfaat itu tidak terasa. Anak akhirnya melihat pelajaran hanya sebagai isi ujian. Begitu ujian lewat, ya lewat juga nilainya. Ini yang bikin ilmu tampak seperti benda asing yang numpang lewat, bukan alat untuk membaca dunia.
Di sisi lain, kita juga nggak boleh jatuh ke jebakan romantisasi. Tidak semua siswa anti-ilmu. Tidak semua anak yang suka hiburan itu otomatis menolak literasi. Dan tidak semua sekolah punya budaya yang sama. Data yang ada justru mengingatkan kita untuk nggak overgeneralisasi [1][2][3]. Banyak siswa tetap merasa belong di sekolah [1]. Masalahnya adalah performa, motivasi, dan kedalaman relasi dengan belajar masih bermasalah secara umum [1][2]. Jadi artikel ini bukan tuduhan ke semua anak muda, melainkan ajakan buat melihat kenapa jarak dengan ilmu bisa terbentuk di tengah lingkungan yang seharusnya mendekatkan mereka pada ilmu.
Kalau dirangkum, ada beberapa lapisan masalah yang saling menguatkan:
- Fondasi membaca, matematika, dan sains banyak siswa masih lemah, sehingga pelajaran terasa sulit sejak dasar [1].
- Motivasi intrinsik untuk belajar hal baru di sekolah hanya dimiliki sekitar setengah siswa, dan kebiasaan bertanya atau menghubungkan materi belum kuat [2].
- Ekosistem digital sehari-hari lebih banyak mengarahkan anak ke sosial dan hiburan daripada ke eksplorasi ilmu [3].
- Tekanan teman sebaya bisa membuat usaha akademik punya biaya sosial, sehingga anak memilih terlihat santai daripada terlihat serius [4].
- Rasa memiliki di sekolah tidak otomatis berarti rasa memiliki terhadap budaya belajar; dukungan teman, guru, orang tua, dan rasa aman sangat berpengaruh [5].
- Gangguan perhatian dari perangkat digital juga bisa mempersulit pelajaran yang menuntut fokus panjang seperti membaca, matematika, dan sains [2].
Kalau semua lapisan itu ketemu, hasilnya ya seperti yang sering kita lihat. Ilmu pengetahuan terasa jauh bukan karena sekolah tidak ada, tapi karena pengalaman sehari-hari tidak cukup membangun rasa mampu, rasa aman, dan rasa relevan. Anak bukan cuma butuh ruang kelas. Mereka butuh kultur yang bikin belajar terasa manusiawi.
Kultur itu seperti apa? Pertama, kultur yang tidak mempermalukan usaha. Anak yang rajin jangan dijadikan bahan olok-olok, baik oleh teman maupun oleh suasana kelas yang secara halus memuja sikap masa bodoh. Kedua, kultur yang memberi ruang untuk tidak langsung paham. Banyak anak menjauh dari sains bukan karena benci, tapi karena capek merasa bodoh. Ketiga, kultur yang menghubungkan ilmu dengan realitas. Bukan dalam arti semua rumus harus diterjemahkan jadi profesi tertentu, tapi dalam arti siswa dibantu melihat bahwa sains itu cara memahami dunia, bukan sekadar isi buku paket.
Keempat, kultur yang menghargai perhatian. Kita hidup di zaman ketika fokus jadi barang mahal. Jadi jangan heran kalau membaca buku tebal atau memahami konsep fisika terasa makin berat. Bukan semata karena anaknya lemah, tapi karena lingkungan mereka sangat kompetitif dalam merebut perhatian. Kalau sekolah tidak sadar bahwa perhatian adalah medan perang, maka pelajaran yang butuh konsentrasi panjang akan selalu kalah start.
Kelima, kultur yang membuat rasa ingin tahu kelihatan keren. Ini mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya sangat besar dampaknya. Dalam banyak kelompok remaja, status sosial sering dibentuk oleh apa yang dianggap keren. Kalau yang keren adalah cuek, sinis, dan anti-serius, maka anak yang sebenarnya ingin belajar akan menahan diri. Tapi kalau yang keren adalah bisa mikir, bisa menjelaskan, bisa bikin pertanyaan bagus, dan bisa bangga baca buku tanpa malu, atmosfernya akan beda total.
Tentu, membangun kultur seperti itu tidak gampang. Apalagi kalau fondasi belajarnya sudah lama rapuh. Kita juga harus jujur bahwa dari data yang ada, kita belum punya sumber primer nasional Indonesia yang secara langsung meneliti fenomena “anak rajin diejek karena baca buku/fisika/matematika” dalam konteks sekolah Indonesia secara nasional. Mekanisme peer pressure memang didukung kuat oleh eksperimen, tapi eksperimennya berbasis Amerika Serikat [4]. Data UNICEF mendukung dominannya penggunaan internet untuk sosial dan hiburan, tetapi tidak membuktikan secara langsung bahwa platform tertentu menyebabkan penolakan terhadap sains [3]. Jadi, kesimpulan yang paling aman adalah: kondisi belajar di Indonesia memang rapuh, dan ada bukti kuat dari riset internasional bahwa norma teman sebaya bisa membuat investasi akademik terasa mahal secara sosial [1][2][4].
Justru karena itu, kita harus berhenti menyalahkan satu kambing hitam tunggal. Bukan “salah TikTok” saja. Bukan “salah anak-anak sekarang” saja. Bukan juga “salah guru” atau “salah kurikulum” saja. Fenomena ini lebih mirip hasil dari ekosistem: fondasi lemah, motivasi rapuh, perhatian tercerai-berai, dan budaya sosial yang kadang menertawakan keseriusan.
Dan ya, ironi itu nyata: di lingkungan pendidikan, justru pendidikan bisa terasa jauh dari mereka. Tapi mungkin kalimat yang lebih tepat adalah ini: yang jauh bukan ilmunya, melainkan jembatan menuju ilmunya. Bukunya ada. Gurunya ada. Sekolahnya ada. Internetnya ada. Tapi jembatan emosional, sosial, dan kognitif untuk sampai ke sana sering rapuh.
Akhirnya, kalau kita mau menjawab pertanyaan “kenapa generasi kita takut pada sains, membaca, literasi?”, jawabannya bukan karena generasi ini lebih bodoh atau lebih malas. Jawabannya: karena terlalu banyak anak mengalami ilmu sebagai sesuatu yang sulit, tidak intim, tidak aman secara sosial, dan kalah bersaing dengan bentuk hiburan yang memberi hadiah instan. Ketika fondasi literasi-sains lemah [1], motivasi intrinsik hanya dimiliki sekitar separuh siswa [2], ruang digital lebih dominan untuk sosial dan hiburan [3], dan norma teman sebaya memberi biaya sosial pada usaha akademik [4], maka di dalam sekolah pun ilmu bisa terasa seperti berada di tempat terjauh.
Bukan sainsnya yang menjauh. Bukan buku yang pindah tempat. Bukan matematika yang kabur dari kelas. Yang terjadi adalah budaya sehari-hari belum cukup membuat siswa merasa mampu, aman, dan pantas untuk dekat dengan ilmu [2][4][5]. Dan selama itu belum dibereskan, kita akan terus melihat pemandangan yang sama: anak rajin diejek, anak yang suka baca dianggap aneh, dan sekolah yang penuh aktivitas pendidikan tapi miskin kedekatan dengan pengetahuan.
Kalau ada harapan, harapannya ada di sini: begitu kita paham bahwa masalahnya bukan sekadar malas, kita bisa mulai membangun solusi yang lebih waras. Bukan dengan ceramah panjang bahwa belajar itu penting, tapi dengan menciptakan lingkungan di mana belajar tidak terasa memalukan, tidak terasa asing, dan tidak terasa sendirian. Karena pada akhirnya, anak tidak akan dekat dengan ilmu hanya karena disuruh. Mereka akan dekat kalau ilmu terasa mungkin untuk dipahami, aman untuk didekati, dan layak untuk dibanggakan.
Sumber Referensi
- OECD — PISA 2022 Results (Volume I and II) Country Notes: Indonesia
- OECD Education GPS — Indonesia, PISA 2022: student engagement and motivation indicators
- UNICEF Indonesia — Online knowledge and practice of children in Indonesia: A baseline study 2023
- J-PAL / Poverty Action Lab — Peer Pressure and Educational Investments in the United States
- NCES / Regional Educational Laboratory Midwest — The Importance of Student Sense of Belonging