Inilah Soe Hok Gie Yang Anti PKI dan Anti Soekarno

← Kembali ke Blogs

Inilah Soe Hok Gie Yang Anti PKI dan Anti Soekarno

Ditulis oleharifrahmawan·
1 unik hari ini 9 unik 7 hari 27 unik 30 hari 27 total unik
Inilah Soe Hok Gie Yang Anti PKI dan Anti Soekarno
Iklan

Kalau sejarah Indonesia itu dibayangkan seperti jalanan kampus habis hujan, penuh kubangan, spanduk kusut, poster setengah copot, dan suara toa yang saling tabrak, maka Soe Hok Gie adalah anak kampus yang memilih berdiri di tengah genangan sambil bilang: “sebentar, ini semua jangan diterima mentah-mentah.” Ia bukan tokoh yang enak dimasukkan ke kotak kardus kecil bertuliskan hitam atau putih. Tapi dari sumber yang kuat, ada dua hal yang cukup terang seperti lampu warung tengah malam: Gie memang keras terhadap Soekarno dan Demokrasi Terpimpin, serta ia juga melancarkan kritik tajam kepada PKI dan dominasi politik-wacananya [1][2][4]. Masalahnya, kalau berhenti di label “anti-PKI” dan “anti-Soekarno” saja, kita malah menyederhanakan seorang tokoh yang pikirannya justru terkenal liar, independen, dan sering melawan arus.


Fakta dasar: Soe Hok Gie hidup pada 17 Desember 1942 sampai 16 Desember 1969. Pemikirannya paling sering dirujuk lewat Catatan Seorang Demonstran, yang dalam indeks Perpustakaan UGM tercatat sebagai terbitan LP3ES 1989 [1]. Untuk konteks akademik yang lebih tebal dan serius, salah satu rujukan penting adalah disertasi PhD John R. Maxwell di Australian National University tahun 1997, setebal 346 halaman, yang secara khusus membahas biografi politik dan intelektual Gie [2]. Jadi, ketika membicarakan Gie, kita sedang bicara soal figur yang punya jejak dokumentasi cukup kuat, bukan tokoh mitos yang cuma hidup dari kutipan kaus dan poster kamar kos.


Fakta utama pertama: menyebut Gie sebagai pengkritik keras Soekarno bukanlah berlebihan. Katalog Perpustakaan UGM merangkum Gie sebagai aktivis yang “menentang kediktatoran berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto” [1]. Rumusan ini penting, karena menunjukkan bahwa oposisi Gie kepada Soekarno bukan sekadar cerewet musiman, melainkan bagian dari sikap politik yang konsisten terhadap kekuasaan yang ia anggap menindas. Maxwell juga menempatkan Gie dalam konteks kelompok kecil “opponents of Sukarno and Guided Democracy”, lalu membahas perannya dalam gerakan mahasiswa sesudah 1 Oktober 1965 serta pembelaannya terhadap pendekatan yang militan dan tak kompromistis terhadap Soekarno dan Orde Lama [2]. Dengan kata lain, Gie tidak cuma berdiri di pinggir lapangan sambil ngomentarin pertandingan; ia ikut masuk ke gelanggang politik mahasiswa pada fase paling panas.


Kalau mau dibikin analogi gaya mahasiswa gondrong: Soekarno pada fase Demokrasi Terpimpin bagi Gie bukan lagi dosen karismatik yang masih bisa diajak debat di koridor, melainkan pusat kekuasaan yang menurutnya sudah terlalu dominan, terlalu menyesakkan ruang kritik, dan terlalu dekat dengan tata politik yang tidak sehat. Itu sebabnya, dari sisi historis, klaim “Gie anti-Soekarno” jauh lebih kokoh pijakannya dibanding banyak slogan sejarah lain yang sering beterbangan tanpa referensi [1][2]. Namun tetap perlu presisi. “Anti-Soekarno” di sini lebih tepat dibaca sebagai anti terhadap garis politik Soekarno pada masa Demokrasi Terpimpin dan terhadap konfigurasi Orde Lama yang ia lawan, bukan kebencian personal yang berdiri tanpa konteks [1][2].


Analisis: Mengapa oposisi Gie kepada Soekarno begitu menonjol? Dari bahan yang tersedia, jawabannya bukan karena Gie sekadar ingin menjadi oposisi demi terlihat keren. Ia tampak melihat struktur politik saat itu sebagai ruang yang makin sempit bagi kebebasan, perbedaan pendapat, dan kehidupan intelektual yang sehat [1][2]. Buat seorang intelektual muda, situasi seperti itu ibarat perpustakaan yang raknya masih ada, bukunya masih banyak, tetapi semua halaman sudah diberi garis merah oleh penguasa. Orang masih bisa membaca, tapi tidak lagi bebas berpikir. Dalam lanskap seperti itulah kritik Gie menjadi keras.


Fakta utama kedua: ada dasar kuat untuk mengatakan bahwa Gie juga bersikap anti terhadap PKI, setidaknya dalam arti menolak garis politiknya, mengkritik dominasi wacananya, dan curiga terhadap keuntungan politik yang diperoleh PKI dalam situasi kacau. Jurnal dari Universitas Lampung yang menganalisis tulisan Gie “Penilaian PKI Sekarang terhadap Kaum Tengah” menyimpulkan adanya “kritik substantif terhadap monopoli wacana PKI” pada era Demokrasi Terpimpin [4]. Ini penting, karena menunjukkan bahwa kritik Gie pada PKI bukan karikatur emosional, melainkan bersifat argumentatif dan menyasar cara sebuah kekuatan politik berusaha mendominasi ruang berpikir publik.


Masih dari jejak yang diringkas dalam bahan terkait Catatan Seorang Demonstran, ada pandangan Gie bahwa dalam situasi “chaos” di Jakarta, “PKI yang untung” [1]. Kalimat seperti ini memperlihatkan kecurigaan politik Gie terhadap cara kekacauan bisa dimanfaatkan. Ia membaca politik bukan seperti poster kampanye yang rapi, tapi seperti gang sempit yang kabel listriknya semrawut: siapa yang paling siap, paling terorganisasi, atau paling lihai memanfaatkan gelap, dialah yang bisa mengambil keuntungan. Kecurigaan ini menegaskan bahwa Gie tidak netral terhadap PKI sebagai kekuatan politik dominan.


Bahkan Benedict Anderson dalam tulisan memorialnya mencatat bahwa skripsi Gie mengenai Madiun 1948 “trenchantly criticized the Communist leadership of that period” [3]. Bobot informasi ini besar. Artinya, kritik Gie terhadap kepemimpinan komunis tidak semata lahir karena suasana pasca-1965. Kritik itu juga muncul dalam pembacaan historisnya terhadap peristiwa Madiun 1948 [3]. Jadi, kalau ada yang bilang sikap Gie terhadap komunisme atau PKI cuma reaksi sesaat dari turbulensi politik, sumber memorial Anderson justru menunjukkan akar kritik itu lebih dalam.


Fakta yang harus dijaga supaya tidak bengkok: menyebut Gie “anti-PKI” tanpa konteks kemanusiaan itu menyesatkan. Ini bagian yang sering dipotong orang karena sejarah memang sering diperlakukan seperti video pendek: yang panjang, rumit, dan bikin mikir dibuang; yang tinggal slogan diputar terus. Anderson menulis bahwa walaupun Gie berkontribusi pada kampanye mahasiswa yang membantu menjatuhkan rezim Soekarno dan walau ia mengkritik keras kepemimpinan komunis, ia juga adalah orang pertama yang menulis secara publik tentang ribuan tahanan politik tanpa pengadilan, keputusasaan istri mereka, dan nasib anak-anak mereka [3]. Ini bukan catatan pinggiran. Ini pusat dari watak moral Gie.


Historia juga merangkum episode ketika Gie memprotes pembantaian di Bali dan mengecam seruan untuk membunuh orang-orang PKI [5]. Di titik ini, posisi Gie jadi jauh lebih jelas: ia bisa keras terhadap PKI sebagai kekuatan politik dan ideologis tertentu, tetapi tetap menolak pembunuhan massal, penahanan sewenang-wenang, serta dehumanisasi terhadap mereka yang dituduh komunis [3][5]. Jadi, Gie bukan tipe orang yang menganggap lawan politik otomatis kehilangan hak untuk diperlakukan sebagai manusia. Buat dia, politik mungkin medan benturan, tetapi kemanusiaan bukan sandal jepit yang boleh ditinggal di depan pintu rapat.


Analisis: Di sinilah banyak pembacaan terhadap Gie terpeleset. Ada yang suka memajangnya sebagai ikon anti-Soekarno dan anti-PKI secara mutlak, seolah semua garis pikirnya lurus tanpa belokan. Padahal dari sumber yang tersedia, justru yang tampak adalah independensi yang galak. Ia menentang Soekarno dan Orde Lama [1][2], mengkritik PKI dan dominasi wacananya [3][4], ikut dalam atmosfer gerakan mahasiswa 1965–1966 [2][3], tetapi setelah itu juga mengkritik kekerasan anti-komunis serta nasib para tahanan politik [3][5]. Ini bukan inkonsistensi; ini justru tanda bahwa ia tidak mau menyerahkan akal sehat kepada kubu mana pun.


Kalau politik Indonesia masa itu adalah panggung musik yang ampli-nya pecah dan semua orang merasa paling revolusioner, Gie adalah penonton sekaligus pemain yang masih berani mematikan satu speaker ketika suaranya mulai berubah jadi deru kebencian. Ia bisa bilang sebuah rezim salah, tetapi juga bisa bilang pembalasan membabi buta itu salah. Ia bisa menganggap PKI problematis, namun tetap melihat bahwa istri tahanan politik dan anak-anak mereka adalah manusia yang tak boleh dilempar ke jurang hanya karena cap politik [3]. Ini membuat posisi Gie lebih susah dipakai sebagai stiker propaganda, tapi justru lebih bernilai bagi pembacaan sejarah yang jujur.


Fakta: sumber-sumber yang ada memang lebih kuat untuk menopang klaim “anti-Soekarno” daripada slogan sederhana “anti-PKI” [1][2][4]. Pada Soekarno, posisi oposisional Gie terdokumentasi terang dalam ringkasan katalog dan pembacaan akademik Maxwell [1][2]. Pada PKI, bukti-buktinya kuat bahwa ia mengkritik kepemimpinan komunis dan dominasi wacana politik PKI [3][4], serta menunjukkan kecurigaan politik terhadap keuntungan PKI dalam situasi chaos [1]. Namun pada saat yang sama, sumber kredibel juga memperlihatkan penolakannya terhadap pembantaian dan ketidakadilan pada orang-orang yang dituduh komunis [3][5]. Karena itu, kalau mau jujur secara historis, kalimat yang lebih aman adalah: Gie menentang Soekarno dan Demokrasi Terpimpin, mengkritik PKI serta dominasi politiknya, tetapi menolak kekerasan anti-komunis dan pelanggaran HAM sesudahnya [1][2][3][4][5].


Opini berbasis sumber: Justru di sini Gie terasa paling “mahasiswa” dalam makna terbaik. Bukan mahasiswa yang sibuk jadi gema pengeras suara kekuasaan, melainkan mahasiswa yang masih mau repot memelihara nurani. Ia tidak menyukai penindasan ketika datang dari rezim Soekarno [1][2]. Ia juga tidak memeluk mentah-mentah garis politik PKI [3][4]. Tetapi ia tak rela ketika negara dan masyarakat berubah menjadi mesin penghukum massal [3][5]. Sikap semacam ini jarang nyaman bagi semua kubu. Pendukung rezim akan terganggu. Pendukung balas dendam juga kesal. Tapi mungkin memang begitulah harga dari independensi: tidak punya banyak tempat duduk empuk.


Yang menarik, Gie juga tidak bisa secara mudah dipasangkan dengan klaim “pro militer sepenuhnya”. Catatan riset justru mengingatkan agar klaim absolut seperti itu dihindari, sebab sumber-sumber menunjukkan posisi yang independen dan kemudian berkembang menjadi kritis juga terhadap Orde Baru [1][2]. Ini selaras dengan ringkasan UGM yang menyebut ia menentang “kediktatoran berturut-turut” dari Soekarno dan Soeharto [1]. Jadi kalau ada upaya menyeret Gie menjadi maskot tunggal bagi satu rezim atau satu blok politik, itu seperti memaksa awan masuk ke botol air mineral: bentuknya jadi rusak, isi sejarahnya juga bocor.


Analisis lebih jauh: Mengapa nuansa soal anti-PKI ini penting? Karena tanpa nuansa, sejarah gampang jatuh jadi pentungan. Ketika seseorang disebut “anti-PKI”, publik bisa salah paham seolah ia otomatis mendukung semua tindakan anti-komunis, termasuk pembunuhan massal dan penahanan tanpa proses hukum. Dalam kasus Gie, itu jelas keliru menurut sumber yang ada [3][5]. Kritik politiknya terhadap PKI tidak menghapus keberpihakannya pada nilai kemanusiaan. Ia tampak mampu membedakan antara melawan sebuah ideologi atau kekuatan politik dengan membenarkan pembasmian manusia. Pembedaan ini sangat mendasar, dan justru terasa langka di zaman ketika politik sering memperlakukan manusia seperti pion catur yang boleh disapu dari papan.


Di sisi lain, menyebut Gie “anti-Soekarno” juga perlu ketepatan. Ia bukan sekadar tokoh yang alergi pada nama besar Soekarno. Yang dilawannya adalah struktur dan arah politik Demokrasi Terpimpin serta Orde Lama sebagaimana tercermin dalam keterlibatannya di lingkungan oposisi mahasiswa dan pendekatan keras terhadap Soekarno pada masa krisis 1965–1966 [2]. Jadi fokusnya ada pada rezim, model kekuasaan, dan konsekuensinya bagi kehidupan politik-intelektual. Analogi kasarnya: ia bukan sedang membenci papan nama gedung, melainkan mempersoalkan fondasi bangunannya yang dianggap sudah retak dan membahayakan.


Fakta yang bisa ditarik secara hati-hati dari keseluruhan sumber:

  • Gie adalah intelektual-aktivis muda yang menentang Soekarno dan Demokrasi Terpimpin/Orde Lama, dengan dukungan bukti yang kuat dari katalog UGM dan disertasi Maxwell [1][2].
  • Ia mengkritik PKI, terutama dominasi wacana politiknya, dan memiliki pembacaan kritis terhadap kepemimpinan komunis, termasuk dalam skripsinya tentang Madiun 1948 [3][4].
  • Ia terlibat dalam atmosfer gerakan mahasiswa pasca 1 Oktober 1965 dan mendukung sikap keras terhadap Soekarno serta Orde Lama pada fase itu [2].
  • Ia juga tampil membela para tahanan politik, keluarga mereka, dan memprotes pembantaian anti-komunis, termasuk di Bali [3][5].
  • Karena itu, pelabelan sederhana seperti “anti-PKI total” atau “pro militer sepenuhnya” tidak akurat menurut bahan yang tersedia [1][2][3][5].

Opini: Kalau Gie dibaca dengan benar, ia seperti kaca spion buat bangsa yang hobi ngebut sambil lupa rem. Ia mengingatkan bahwa melawan satu otoritarianisme tidak otomatis membuat orang kebal dari godaan otoritarianisme berikutnya. Menjatuhkan satu poros kekuasaan tidak berarti semua tindakan setelahnya jadi suci. Mengkritik komunis tidak berarti setuju dengan pembunuhan komunis. Menentang Soekarno tidak berarti menutup mata pada kekerasan setelah Soekarno melemah. Dalam bahasa yang lebih sederhana: Gie mengajari bahwa integritas bukan soal berdiri di kubu yang benar sekali untuk selamanya, tapi soal tetap menjaga nurani ketika kubu sendiri mulai gelap.


Sebagai pembaca hari ini, godaan terbesar adalah menjadikan Gie alat pembenaran. Kelompok yang benci PKI bisa mengambil sisi kritiknya pada PKI [3][4], lalu pura-pura lupa bahwa ia menulis tentang nasib tahanan politik dan menolak pembantaian [3][5]. Kelompok yang memuja kebebasan sipil bisa mengangkat sisi kemanusiaannya, tapi kadang mengaburkan bahwa ia memang berada dalam arus oposisi keras terhadap Soekarno dan Orde Lama [1][2]. Padahal Gie tidak pas dipakai setengah-setengah. Ia harus diterima utuh, lengkap dengan ketajaman, keberpihakan moral, dan kontradiksi zaman yang ia hadapi.


Keterbatasan data: artikel ini sengaja tidak melangkah lebih jauh ke klaim-klaim yang tidak tersedia dalam bahan riset. Misalnya, tidak ada dasar dalam materi yang diberikan untuk menyimpulkan secara absolut bahwa Gie “anti-PKI total”, “pro militer sepenuhnya”, atau memiliki posisi yang seragam sepanjang hidupnya terhadap setiap aktor politik. Yang tersedia justru menunjukkan spektrum yang lebih kompleks: oposisi keras pada Soekarno/Orde Lama [1][2], kritik pada PKI dan kepemimpinan komunis [3][4], serta keberatan mendalam pada pembunuhan massal dan penahanan sewenang-wenang [3][5]. Jadi, di titik ini kejujuran lebih penting daripada sensasi.


Kesimpulan: ya, judul “Inilah Soe Hok Gie Yang Anti PKI dan Anti Soekarno” masih bisa dipertahankan sebagian, asal pembacanya tidak berhenti di permukaan. Gie memang dapat diposisikan sebagai pengkritik keras Soekarno dan Demokrasi Terpimpin [1][2]. Ia juga jelas mengkritik PKI, terutama sebagai kekuatan politik dan dominasi wacana pada zamannya [3][4]. Tetapi, kalau kita ingin akurat dan tidak menistakan sejarah dengan simplifikasi murahan, maka harus ditambahkan satu kalimat yang menentukan segalanya: Gie juga membela kemanusiaan korban penahanan tanpa pengadilan dan mengecam pembantaian anti-komunis [3][5].


Jadi potret Gie yang paling masuk akal bukanlah poster hitam-putih dengan dua kata besar. Ia lebih mirip coretan tajam di dinding kampus: sedikit berantakan, susah dijinakkan, kadang bikin penguasa sewot, kadang bikin kawan sendiri tak nyaman, tetapi justru karena itu ia hidup. Ia anti terhadap pemujaan kekuasaan yang menyesakkan. Ia kritis pada PKI sebagai kekuatan politik dan ideologis tertentu. Ia keras pada Soekarno dan Orde Lama. Namun ia juga menolak ketika politik berubah jadi rumah jagal bagi manusia [1][2][3][4][5]. Di situlah Gie berdiri: bukan sebagai tukang sorak kubu, melainkan sebagai intelektual-aktivis yang mencoba menjaga akal dan nurani tetap menyala, bahkan ketika seluruh kota sedang keranjingan memilih obor atau golok.


Sumber Referensi

  1. Soe Hok Gie : Catatan seorang demonstran - Perpustakaan UGM
  2. Soe Hok-Gie : a biography of a young Indonesian intellectual - Australian National University
  3. IN MEMORIAM: SOE HOK-GIE - Benedict Anderson / Cornell eCommons
  4. ANALISIS TEKS ARTIKEL KORAN MAHASISWA INDONESIA PENILAIAN PKI SEKARANG TERHADAP KAUM TENGAH OLEH SOE HOK GIE DENGAN MENGGUNAKAN TEORI JURGEN HABERMAS - Saka Bahasa, Universitas Lampung
  5. Pembantaian di Bali dan Protes Soe Hok Gie - Historia
Artikel lain dari penulis ini
Iklan