Ada orang yang mengira sound horeg itu muncul seperti meteor: tiba-tiba jatuh dari langit, bikin kaget, lalu semua orang heboh. Padahal kalau dipikir pelan-pelan, dentuman itu bukan tamu asing. Ia lebih mirip anak kandung dari tradisi hiburan kita sendiri yang dari dulu memang akrab dengan bunyi keras, getar besar, dan semacam keyakinan tak tertulis bahwa pesta yang terasa hidup adalah pesta yang suaranya sanggup menyeberang gang, sawah, sampai masuk ke ruang tamu tetangga.
Kalau fokusnya Jawa Timur, terutama wilayah yang kultur komunalnya masih tebal, hiburan itu sering tidak dipahami sebagai urusan pribadi. Hiburan adalah peristiwa bersama. Begitu menjadi peristiwa bersama, suaranya pun cenderung ikut membesar. Logikanya sederhana: kalau yang hadir banyak, yang harus mendengar banyak, yang harus merasa ikut juga banyak, maka volume pelan sering dianggap nanggung. Di titik inilah sound horeg bisa dibaca bukan sebagai makhluk baru, tetapi sebagai versi mutakhir dari selera lama: selera akan hiburan yang terasa secara fisik, bukan cuma didengar telinga, tapi juga digetarkan dada, pagar rumah, bahkan gelas di meja.
Jadi, kalau hari ini orang bilang sound horeg terlalu keras, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan cermin kebiasaan kita sendiri. Horeg hanyalah update. Bukan penciptaan dari nol, melainkan akumulasi. Seperti ponsel jadul yang dulu cuma bisa telepon lalu naik kelas jadi smartphone, hiburan bising kita juga mengalami pembaruan. Dari speaker hajatan yang asal bunyi, naik jadi sistem suara yang dirakit serius, lalu menjelma jadi pertunjukan tenaga listrik, tata bass, gengsi, identitas, dan kompetisi antar-kelompok. Bisingnya tetap sama-sama bising, cuma sekarang lebih terorganisasi, lebih niat, lebih estetik menurut penggemarnya, dan tentu saja lebih sanggup mengguncang kampung.
Kalau mau jujur, kita ini sudah lama punya hubungan intim dengan suara keras. Contoh paling gampang tentu speaker volume tinggi saat hajatan. Acara nikahan, sunatan, tasyakuran, atau pentas kampung sering identik dengan pengeras suara yang volumenya dibuka seolah-olah kebahagiaan hanya sah kalau diumumkan ke radius yang cukup jauh. Kadang belum acara inti dimulai, tes mic dan setel musik saja sudah jadi semacam pembukaan paksa bagi seluruh lingkungan. Orang yang lewat tahu ada hajatan bukan karena lihat tarub, tapi karena telinganya duluan ditarik masuk.
Tapi jangan berhenti di situ. Kalau kita urai satu-satu, ada banyak bentuk hiburan bising yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat, terutama dalam ruang sosial yang akrab, cair, dan ramai.
Orkes hajatan dan musik panggung kampung. Ini saudara tua dari sound horeg. Panggung sederhana, keyboard, drum elektrik, penyanyi lokal, kadang ditambah MC yang suaranya tak kalah dominan. Bukan sekadar hiburan, tapi penanda suasana. Semakin terasa gemuruhnya, semakin dianggap meriah.
Patroli sahur. Di banyak tempat, membangunkan orang untuk sahur bukan pakai bisikan lembut, melainkan tabuhan, kentongan, bedug, teriakan, dan iring-iringan bunyi yang setengah ritual setengah festival. Esensinya sama: kebersamaan diekspresikan lewat suara yang menembus tidur.
Takbir keliling. Ada dimensi religius, ada dimensi komunal, tapi pada praktiknya juga sering menjadi peristiwa bunyi. Bedug dipukul, pengeras suara dibawa, kendaraan iring-iringan ikut meraung. Semangatnya bukan sunyi, melainkan gegap gempita.
Karnaval desa. Mobil hias, genset, speaker, musik remix, suara announcer, teriakan penonton. Karnaval itu seperti parade bunyi berjalan. Kadang yang diingat bukan urutan pesertanya, tapi lagu apa yang paling mengguncang ruas jalan.
Konvoi motor dengan knalpot nyaring. Memang tidak selalu dibungkus sebagai hiburan resmi, tetapi dalam banyak konteks sosial ia hadir sebagai pertunjukan eksistensi. Ada kesenangan tertentu dalam didengar dari jauh, seolah suara adalah cara termurah untuk berkata, “kami datang.”
Campursari, dangdut keliling, atau hiburan malam pasar rakyat. Pasar malam tanpa kebisingan rasanya seperti mie tanpa kuah. Ada komidi putar, mesin permainan, teriakan pedagang, musik tumpang-tindih dari berbagai penjuru. Telinga dipaksa menerima keramaian sebagai atmosfer.
Lomba 17-an dengan sound maksimal. Acara sederhana seperti jalan sehat, karaoke warga, senam bersama, sampai pembagian hadiah sering dipompa dengan pengeras suara yang volumenya bukan main. Seolah nasionalisme lokal butuh equalizer naik ke kanan.
Pentas drumband dan marching band. Ini bentuk kebisingan yang lebih disiplin. Ada ritme, ada formasi, ada koreografi. Tapi tetap saja intinya sama: suara keras dipakai untuk menciptakan energi kolektif, rasa bangga, dan sensasi hadir di tengah kerumunan.
Jaranan, reog, atau pertunjukan tradisional yang memakai instrumen dominan. Dalam beberapa bentuk kesenian rakyat, bunyi keras bukan gangguan, melainkan elemen daya pikat. Tabuhan, terompet, gong, dan ritme yang menghentak membangun suasana yang bukan sekadar ditonton, tapi dialami tubuh.
Pengumuman keliling dan mobil promosi. Dulu ada mobil lewat kampung bawa speaker untuk promosi toko, sirkus, atau acara tertentu. Kalimatnya mungkin sederhana, tapi metodenya sama: perhatian publik direbut lewat volume.
Kalau ditambah lagi, masih ada suara petasan saat perayaan, sound system turnamen voli kampung, organ tunggal yang dipasang sejak sore sampai malam, sampai karaoke rumahan yang entah kenapa merasa pantas dibagikan ke satu RT. Artinya apa? Artinya kultur mendengar suara keras itu bukan cabang liar yang baru tumbuh. Ia sudah seperti akar yang lama menyusup di bawah rumah-rumah sosial kita.
Maka sound horeg sebetulnya cuma titik lanjut dari proses panjang itu. Ia seperti motor yang dimodifikasi dari mesin standar. Rangka dasarnya sudah ada: kebiasaan komunal, kesukaan pada keramaian, kebanggaan atas kemeriahan, dan toleransi sosial terhadap bunyi yang menonjol. Lalu teknologi datang membawa ampli lebih kuat, susunan speaker lebih rumit, selera visual-auditorial yang lebih bombastis, plus semangat pamer yang lebih terang-terangan. Hasil akhirnya adalah hiburan yang tidak sekadar keras, tapi sengaja dirancang untuk membuat bunyi menjadi tontonan.
Di sini menariknya. Dulu speaker hajatan itu fungsinya terutama praktis: supaya orang dengar lagu, dengar MC, dengar pengumuman. Sekarang, dalam fenomena semacam sound horeg, speaker bukan cuma alat. Ia sudah naik kasta jadi pusat perhatian. Orang datang bukan hanya untuk menghadiri acara, tapi untuk menyaksikan set sound-nya, susunan box-nya, dentuman bass-nya, kualitas goyang tanahnya. Seperti dulu orang beli televisi untuk nonton acara, sekarang ada fase ketika orang justru menikmati televisinya sebagai simbol status: makin besar, makin tipis, makin canggih, makin bangga. Fungsi bertemu prestise. Begitu pula sound horeg.
Kalau mau pakai analogi teknologi, sound horeg terhadap speaker hajatan lama itu mirip smartphone terhadap ponsel senter. Keduanya sama-sama alat komunikasi, tapi pengalaman yang ditawarkan beda kelas. Ponsel senter cukup untuk nelepon dan SMS. Smartphone mengubah telepon menjadi kamera, peta, panggung, dompet, kantor, dan identitas digital. Begitu juga hiburan bising. Dulu cukup asal terdengar. Sekarang tidak. Sekarang harus ada karakter bass, tekanan, tampilan, konfigurasi, bahkan kebanggaan komunitas. Bukan cuma bunyi; ini sudah jadi ekosistem.
Analogi lain: warung kopi dan kafe modern. Secara dasar, sama-sama tempat minum kopi. Tapi kafe datang membawa pencahayaan, konsep interior, mesin khusus, istilah-istilah baru, dan pengalaman nongkrong yang terasa lebih “naik kelas”. Sound horeg bekerja seperti itu. Ia mengambil bahan lama—keramaian, musik keras, kumpul warga—lalu mengemasnya dengan rasa baru: lebih teknis, lebih performatif, lebih Instagrammable kalau meminjam bahasa sekarang, meski esensinya tetap sama-sama mencari ramai.
Atau bayangkan evolusi dari sepeda ontel ke motor modifikasi kontes. Keduanya alat bergerak. Tapi yang satu murni fungsi, yang satu lagi fungsi plus gaya plus identitas plus komunitas. Nah, sound horeg itu sudah berada di fase “fungsi plus-plus”. Ia bukan sekadar pengeras suara untuk mendukung acara, tetapi medium untuk menunjukkan selera, solidaritas kelompok, kemampuan teknis, bahkan kadang adu gengsi halus antar-penyelenggara.
Dalam kebudayaan juga begitu. Banyak tradisi tidak hilang, melainkan berganti bentuk. Dongeng sebelum tidur bergeser jadi video pendek. Ronda malam yang dulu sunyi penuh obrolan kadang berubah jadi pos ronda dengan televisi keras atau musik menemani. Pengumuman lisan di gardu bergeser jadi grup pesan singkat, tapi semangat komunalnya tetap. Jadi ketika hiburan bising berubah jadi sound horeg, itu bukan penyimpangan mutlak. Itu lebih mirip translasi kultur lama ke perangkat baru.
Masalahnya, setiap upgrade hampir selalu membawa dua hal sekaligus: efisiensi dan ekses. Smartphone memudahkan hidup, tapi juga bikin orang sulit lepas dari layar. Motor kencang mempersingkat perjalanan, tapi juga menggoda orang ngebut. Media sosial memperluas komunikasi, tapi juga mempercepat keributan. Begitu pula sound horeg. Ia memberi wadah ekspresi, hiburan, kebanggaan teknis, dan pengalaman kolektif yang intens. Namun di saat yang sama, ia juga memperbesar potensi gangguan, gesekan antartetangga, kelelahan pendengaran, dan konflik soal batas ruang bersama.
Di sinilah kita perlu bedakan antara fakta umum, analisis, dan opini. Fakta umumnya: masyarakat di banyak tempat memang lama akrab dengan hiburan yang mengandalkan suara keras. Analisisnya: sound horeg muncul karena ada kesinambungan budaya dengan hiburan-hiburan bising sebelumnya, lalu diperkuat oleh teknologi audio yang semakin mudah dirakit dan dipamerkan. Opininya: apakah ini perkembangan yang keren atau justru keterlaluan, itu tergantung sudut pandang, pengalaman, dan kepentingan masing-masing orang.
Bagi penggemarnya, sound horeg itu bukan sekadar bunyi. Ia adalah adrenalin. Dentuman bass itu dirasakan seperti ombak yang menghantam badan. Ada sensasi kolektif yang sulit didapat dari mendengarkan musik sendirian pakai earphone. Mirip bedanya nonton pertandingan di stadion dengan lihat siaran di kamar. Secara teknis sama-sama menonton, tapi atmosfer sosialnya beda jauh. Dalam sound horeg, tubuh jadi ikut menonton. Tulang rusuk jadi semacam kursi penonton paling depan.
Bagi yang terganggu, tentu ceritanya lain. Tidak semua orang menganggap keras itu meriah. Ada yang memaknai rumah sebagai ruang istirahat, ada yang butuh tenang untuk bekerja, belajar, merawat bayi, menemani orang tua, atau sekadar menyelamatkan kepala dari penat harian. Dalam sudut pandang ini, sound horeg bisa terasa seperti tamu yang masuk tanpa mengetuk, lalu duduk di ruang tengah sambil berteriak. Maka kritik terhadapnya bukan berarti anti-hiburan, tapi bentuk tuntutan agar ruang bersama tetap punya rem.
Karena itu, pembacaan paling matang terhadap fenomena ini sebaiknya tidak berhenti pada kalimat, “ini tradisi rakyat, biarkan saja,” atau sebaliknya, “ini pasti buruk, hilangkan saja.” Dua-duanya terlalu malas untuk berpikir. Yang lebih jujur adalah mengakui bahwa sound horeg lahir dari rahim budaya yang memang menyukai kebisingan komunal, tetapi setiap bentuk budaya tetap bisa ditanya ulang soal proporsi, etika, konteks, waktu, dan dampaknya.
Kalau diperas lebih dalam, ada beberapa unsur yang membuat sound horeg terasa seperti muara sementara dari sejarah panjang hiburan bising di Jawa Timur dan sekitarnya.
Pertama, unsur komunal. Masyarakat yang masih kuat tradisi berkumpulnya cenderung menyukai penanda suasana yang bisa dirasakan bersama. Suara keras bekerja efektif sebagai pemanggil massa sekaligus perekat atmosfer.
Kedua, unsur pamer teknologi. Begitu perangkat audio makin mudah diakses, orang tidak puas hanya memakai; mereka ingin menunjukkan. Sama seperti lampu hias, modifikasi kendaraan, atau dekor panggung, sound jadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.
Ketiga, unsur kompetisi simbolik. Ada kebanggaan ketika acara dianggap paling meriah, paling ramai, paling “nendang”. Ini bukan selalu kompetisi resmi, tapi semacam adu wibawa sosial yang sering hidup dalam masyarakat.
Keempat, unsur adaptasi selera generasi. Generasi lebih muda tumbuh dengan musik digital, remix, bass tebal, dan budaya visual yang cepat. Hiburan tradisional yang tidak ikut bertransformasi akan dianggap kurang menggigit.
Kelima, unsur ekonomi dan komunitas. Di sekitar sound horeg biasanya tumbuh jaringan perakit, penyewa, operator, kru, penikmat, sampai komunitas pengikut. Jadi fenomenanya tidak tunggal; ada ekosistem sosial yang ikut hidup.
Mengapa saya menyebutnya “muara sementara”? Karena budaya tidak pernah benar-benar berhenti. Hari ini mungkin sound horeg terasa sebagai puncak, besok bisa muncul bentuk lain yang lebih ekstrem atau justru lebih canggih. Bisa saja nanti hiburan komunal bergerak ke arah sound yang tetap kuat tapi lebih terukur. Bisa juga bergeser ke pertunjukan audiovisual yang lebih imersif, lebih rapi, lebih artistik. Sejarah budaya selalu seperti sungai: yang kita lihat sebagai ujung hari ini sering cuma tikungan.
Bandingannya gampang. Dulu orang foto pakai kamera film; prosesnya lambat dan hasilnya ditunggu. Lalu kamera digital datang, lalu kamera ponsel mengambil alih, lalu sekarang orang bukan cuma memotret tapi langsung menyunting, membagikan, dan mengejar efek tertentu. Aktivitas dasarnya sama: menangkap momen. Tapi perangkat dan gaya mengubah pengalaman total. Hiburan bising juga begitu. Dasarnya tetap ingin ramai, ingin seru, ingin merasa hidup bersama. Hanya saja perangkat modern membuat “ramai” tampil dalam bentuk yang lebih padat tenaga.
Kalau memakai analogi kuliner, sound horeg itu seperti sambal yang resep dasarnya sudah lama ada di rumah-rumah. Cabai, garam, bawang: semua orang kenal. Tapi lalu muncul versi baru yang level pedasnya ditingkatkan, tampilannya dibuat lebih menggoda, namanya dibikin khas, lalu penggemarnya bangga kalau bisa menahan ledakannya. Apakah itu benar-benar makanan baru? Tidak juga. Ia adalah eskalasi dari selera lama yang didorong lebih jauh.
Begitu juga dengan budaya hiburan. Masyarakat yang sejak lama memaklumi speaker hajatan keras, pasar malam riuh, pawai berisik, dan pertunjukan tabuhan menghentak, pada dasarnya sedang memelihara fondasi psikologis dan sosial bagi lahirnya fenomena seperti sound horeg. Bukan berarti semua orang setuju, tetapi ambang toleransinya memang sudah terbentuk sejak lama. Karena itu, sound horeg lebih tepat dibaca sebagai buah, bukan benih.
Tentu ada yang bertanya: kalau begitu, apakah kita harus menerima saja? Ya tidak juga. Mengerti asal-usul budaya bukan berarti menyerah total pada semua akibatnya. Kita bisa paham bahwa kebiasaan ini punya akar panjang, sambil tetap mendorong kedewasaan baru. Misalnya, membedakan konteks acara, memperhatikan waktu, menjaga jarak dengan permukiman padat, atau menata penggunaan sound agar kemeriahan tidak otomatis berarti menyapu hak orang lain atas ketenangan.
Dalam bahasa yang lebih santai: tidak semua yang bisa digas harus digas pol. Mobil punya pedal rem bukan karena pembuatnya pesimis, tapi karena kendaraan yang sehat memang tahu kapan melaju dan kapan menahan diri. Budaya pun begitu. Kalau sound horeg adalah hasil upgrade dari hiburan bising masa lalu, maka upgrade berikutnya semestinya bukan cuma soal makin keras, tetapi juga makin dewasa. Makin paham situasi. Makin presisi. Makin tahu bedanya ruang pesta dan ruang hidup bersama.
Justru di situlah tantangannya. Banyak orang masih mengukur kesuksesan hiburan dari kerasnya volume. Ini ukuran yang gampang, instan, dan terasa nyata. Padahal kemeriahan tidak selalu identik dengan kebisingan tak terkendali. Sama seperti film bagus tidak harus selalu penuh ledakan, musik enak tidak harus selalu mentok gain, dan obrolan berkesan tidak harus selalu paling ribut di tongkrongan. Kadang yang dibutuhkan bukan menambah tenaga, tapi menambah selera.
Namun sekali lagi, jangan naif. Sound horeg tidak akan dipahami hanya dengan nasihat moral. Ia hidup karena memenuhi hasrat sosial tertentu: hasrat untuk terlihat, terdengar, berkumpul, bergoyang, dan merasa menjadi bagian dari momen besar. Selama hasrat itu ada, bentuk-bentuk hiburan bising akan terus mencari medium baru. Hari ini speaker rakitan besar, besok bisa format lain. Yang tetap sama adalah dorongan manusianya.
Maka membaca sound horeg secara lebih jernih berarti melihatnya sebagai cermin perjalanan budaya populer kita. Dari kentongan ke ampli, dari panggung terpal ke set audio yang dipikir serius, dari sekadar pengiring acara menjadi pusat pertunjukan. Ini perjalanan yang logis, meski tidak bebas masalah. Dan seperti semua perjalanan budaya, ia membawa warisan lama di punggungnya sambil mengenakan kostum baru di tubuhnya.
Pada akhirnya, kerasnya dentuman sound horeg memang tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan panjang masyarakat yang akrab dengan hiburan bising: speaker hajatan, orkes kampung, patroli sahur, takbir keliling, karnaval desa, pasar malam, drumband, pertunjukan tradisional bertabuh kuat, konvoi berisik, sampai karaoke warga yang merasa seluruh dunia harus tahu lagu favoritnya. Semua itu seperti anak-anak sungai yang mengalir ke satu arah. Muaranya, setidaknya untuk sementara, adalah sound horeg.
Kalau mau menyikapinya dengan kepala dingin, kita tidak perlu pura-pura kaget seolah fenomena ini jatuh dari planet lain. Ia lahir dari rumah kita sendiri, dari kebiasaan yang kita rawat, dari definisi meriah yang kita wariskan, dari teknologi yang kita adopsi, dan dari selera sosial yang terus mencari bentuk paling heboh. Pertanyaan pentingnya bukan lagi “kok bisa ada?”, melainkan “mau dibawa ke mana?” Karena pada titik tertentu, setiap kebudayaan diuji bukan hanya oleh kemampuannya menciptakan gebyar, tapi juga oleh kematangannya mengatur daya ledak agar tetap manusiawi.
Singkatnya, sound horeg adalah versi turbo dari kegemaran lama kita pada hiburan bersuara besar. Ia bukan petir di siang bolong, melainkan pengeras suara sejarah yang knop volumenya diputar makin kanan. Dan seperti semua alat yang suaranya bisa membesarkan pesta sekaligus memperbesar masalah, ia menunggu satu hal yang paling menentukan: kedewasaan penggunanya.