Sound Horeg adalah Pencapaian Tertinggi dalam Seni Memekakkan Telinga

← Kembali ke Blogs

Sound Horeg adalah Pencapaian Tertinggi dalam Seni Memekakkan Telinga

Ditulis oleharifrahmawan·
0 unik hari ini 8 unik 7 hari 28 unik 30 hari 28 total unik
Sound Horeg adalah Pencapaian Tertinggi dalam Seni Memekakkan Telinga
Iklan

Ada satu cara aman untuk membuka pembahasan ini: kalimat "Sound Horeg adalah puncak evolusi hiburan kebisingan" harus dibaca sebagai opini, satire, dan metafora budaya, bukan sebagai fakta ilmiah. Secara riset, tidak ada lembaga ilmu pengetahuan yang menetapkan Sound Horeg sebagai tahap resmi evolusi musik manusia. Yang bisa dikatakan dengan lebih jujur adalah ini: Sound Horeg dapat dibaca sebagai bentuk ekstrem, lokal, dan sangat khas dari kecenderungan lama manusia untuk menyukai ritme, dentuman, getaran, dan pengalaman bunyi yang dirasakan bersama-sama. Fenomena itu terutama menonjol di Jawa Timur dan wilayah Jawa tertentu, bukan otomatis mewakili seluruh Indonesia [2].


Di titik inilah artikel ini mulai menarik. Sebab kalau kita bicara manusia, bunyi bukan sekadar suara. Bunyi itu alat kumpul, alat ritual, alat pesta, alat tanda bahaya, alat pamer tenaga, bahkan alat menunjukkan bahwa sebuah kelompok masih hidup dan ingin dilihat. Kalau cahaya adalah bahasa peradaban malam, maka dentuman adalah bahasa primitif yang tidak pernah benar-benar mati. Ia cuma ganti casing. Dulu batu dipukul ke batu, lalu kayu ke kulit, lalu logam ke logam, lalu membran speaker didorong arus listrik. Beda zaman, beda alat. Tapi ada satu benang merah: manusia suka sensasi ketika bunyi tidak cuma didengar, melainkan juga dirasakan di dada, di perut, di tulang, bahkan di kaca jendela tetangga.


Secara bahasa, kata horeg dalam lema Jawa dijelaskan berarti “bergerak, bergetar” [1]. Ini penting. Sebab inti Sound Horeg memang bukan cuma suara keras dalam pengertian linear. Ia adalah suara yang membuat benda ikut hidup. Lantai terasa bergerak. Seng ikut dengung. Spanduk bergetar. Orang di depan speaker bukan hanya mendengar lagu, tetapi seperti berdiri di depan mesin cuaca. Jadi istilahnya sendiri sudah jujur: ini hiburan yang dicari bukan hanya nada, melainkan efek getar. Dalam logika itu, telinga hanyalah pintu masuk pertama; tubuh adalah ruang konser sesungguhnya.


Kalau mau ditarik jauh ke belakang, manusia modern ternyata memang sudah punya tradisi musikal sangat tua. Bukti arkeologis yang kuat menunjukkan adanya seruling dari wilayah Hohle Fels, Jerman, yang berumur sekitar 35.000 tahun, dan itu menandakan manusia modern awal sudah memiliki tradisi musik yang canggih [5]. Tetapi sains tidak memberi kita izin untuk berkata bahwa manusia purba dari sananya punya misi evolusioner: suatu hari keturunanku harus bikin sound system 135 desibel. Tidak ada dasar seperti itu. Yang lebih masuk akal secara ilmiah adalah bunyi, ritme, dan musik berkaitan dengan ikatan sosial, koordinasi gerak, ritual, komunikasi, dan ekspresi simbolik [5]. Jadi jika kita menggambar garis dari seruling purba ke Sound Horeg, garis itu adalah garis esai budaya, bukan kabel laboratorium.


Namun justru di situlah seninya menulis tentang Sound Horeg. Karena kadang-kadang, kebenaran sosial tidak selalu datang dalam bentuk jurnal, melainkan dalam bentuk pawai yang membuat dada beresonansi. Bayangkan perjalanan hiburan bunyi seperti sejarah transportasi. Pada awalnya manusia berjalan kaki: pelan, dekat, secukupnya. Dalam bunyi, itu seperti tepuk tangan, siul, nyanyian mulut, atau ketukan sederhana. Lalu manusia naik hewan: tenaga lebih besar, jangkauan lebih luas. Dalam bunyi, muncullah genderang, gong, perangkat musik yang lebih keras dan bisa memanggil orang dari kejauhan. Setelah itu manusia menemukan mesin: roda gigi, piston, pembakaran, turbo, roket. Dalam bunyi, kita punya amplifier, speaker, subwoofer, mixer, genset, dan segala rekayasa teknis untuk mengejar satu hal: daya keluaran.


Dalam transportasi, tujuan teknologi sering tampak jelas: lebih cepat, lebih jauh, lebih efisien. Manusia di berbagai belahan dunia membuat mobil balap, kereta cepat, jet tempur, roket luar angkasa. Mereka memelintir alam agar kecepatan tunduk pada rumus. Mereka mengukur dunia dengan satuan kilometer per jam. Nah, dalam pembacaan satiris atas Sound Horeg, orang Jawa tertentu seperti mengambil jalur riset yang berbeda. Kalau yang lain memecahkan rekor kecepatan, mereka seolah sedang memecahkan rekor bunyi: seberapa besar suara bisa didorong sampai bukan cuma terdengar, tapi menghantam. Kalau dunia lain bertanya, “Seberapa cepat kendaraanmu?” maka arena Sound Horeg bertanya, “Seberapa keras sistemmu? Seberapa jauh getarannya? Seberapa banyak dada orang bisa kau pukul tanpa menyentuh mereka?”


Tentu ini sindiran yang harus diletakkan pada rel yang benar. Secara faktual, pemerintah daerah tidak memandang eskalasi volume sebagai kemajuan yang harus dirayakan tanpa batas. Justru yang muncul adalah pembatasan. Surat Edaran Bersama Gubernur Jawa Timur, Kapolda Jawa Timur, dan Pangdam V/Brawijaya tertanggal 6 Agustus 2025 mengatur penggunaan sound system atau pengeras suara. Untuk pertunjukan statis di ruang terbuka maupun tertutup, izin dapat diberikan sampai maksimal 120 dBA. Untuk kegiatan nonstatis atau berpindah seperti karnaval dan unjuk rasa, batasnya maksimal 85 dBA [3]. Jadi negara daerah datang bukan dengan medali, tetapi dengan rem tangan.


Regulasi itu tidak lahir dari ruang hampa. Fenomena Sound Horeg sendiri diterangkan sebagai penggunaan sound system besar dan berdaya tinggi dalam karnaval, hajatan, atau hiburan rakyat, yang berkembang terutama di Jawa Timur [2]. Perkembangannya sudah dapat dilacak setidaknya sejak awal 2000-an, lalu muncul tren adu suara atau battle sound di kota-kota seperti Sidoarjo, Malang, dan Surabaya [2]. Ini penting karena memperjelas konteks: Sound Horeg bukan mitos mendadak yang turun dari langit dengan subwoofer di tangan. Ia tumbuh dari ekosistem hiburan rakyat, dari ruang-ruang komunal, dari perayaan bergerak, dari budaya berkumpul, dari semangat kompetisi, dan dari logika tontonan yang suka pada sesuatu yang makin besar, makin ramai, makin terasa.


Kalau kita mau sedikit nekat, sejarah hiburan bunyi manusia memang bisa dibaca sebagai sejarah pembesaran skala. Mulanya satu orang bernyanyi untuk dirinya. Lalu satu kelompok bernyanyi untuk satu kampung. Lalu satu ansambel memainkan bunyi untuk satu ritual. Lalu satu sistem audio didesain untuk satu lapangan. Dan hari ini, dalam versi ekstremnya, satu rangkaian speaker bisa hadir seperti demonstrasi bahwa teknologi rakyat tidak selalu mencari presisi audiophile, melainkan efek sosial. Dalam dunia tertentu, suara yang “bagus” bukan selalu yang paling jernih. Kadang yang dianggap berhasil adalah yang paling terasa, paling menggoyang tanah, paling bikin orang berkata, “Wah, ini gila.” Sound Horeg berdiri di wilayah selera semacam itu.


Tetapi hati-hati. Di sinilah perlu dibedakan antara fakta, analisis, dan opini. Faktanya: istilah horeg berkaitan dengan getaran [1], fenomena Sound Horeg menonjol di Jawa Timur/Jawa [2], level kebisingannya dalam bentuk ekstrem dilaporkan bisa mencapai 120–135 dB atau lebih menurut data yang dihimpun Komisi Fatwa MUI Jawa Timur [3]. Fakta lain: kajian lapangan yang dikutip MUI Jawa Timur melalui MUI Kabupaten Jember menemukan intensitas lebih dari 100 dB pada jarak 10 meter, sekitar 95 dB pada 15–25 meter, dan 80–90 dB pada 40 meter [3]. Analisisnya: ini menunjukkan bahwa yang dipertontonkan bukan hanya musik, tetapi kapasitas akustik sebagai pertunjukan itu sendiri. Opininya: dalam budaya tertentu, Sound Horeg terasa seperti Formula 1-nya kebisingan rakyat.


Analogi Formula 1 itu menurut saya cukup pas. Dalam balapan, orang tidak naik mobil F1 untuk pergi beli cabai. Mesin yang sangat bising, aerodinamika ganas, dan kecepatan sinting itu tidak lahir dari kebutuhan sehari-hari, melainkan dari hasrat akan batas. Sound Horeg juga begitu. Ia sering tidak masuk akal bila diukur dengan standar kenyamanan ruang tamu. Tapi ia masuk akal bila dibaca sebagai panggung kompetisi simbolik: siapa paling kuat, siapa paling niat, siapa paling total, siapa paling menggetarkan kampung. Di sinilah teknologi berhenti menjadi alat netral, lalu berubah menjadi identitas.


Semua peradaban punya cara masing-masing untuk memuliakan intensitas. Ada bangsa yang memuliakan tinggi gedung. Ada yang memuliakan cepatnya kereta. Ada yang memuliakan akurasi teleskop. Ada yang memuliakan sunyi perpustakaan. Dan di sebagian ruang budaya Jawa Timur, ada momen ketika yang dimuliakan justru ledakan bunyi kolektif. Ini tidak berarti orang Jawa itu anti-intelektual atau alergi teknologi halus. Bukan. Justru sebaliknya: Sound Horeg adalah bukti bahwa kecerdikan teknis juga hidup di bawah, di bengkel, di lapangan, di acara rakyat. Hanya saja arah kecerdikannya tidak selalu menuju kehalusan, melainkan menuju kedahsyatan.


Masalahnya, kedahsyatan punya biaya. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, memperkirakan lebih dari satu miliar orang muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat praktik mendengar yang tidak aman dari perangkat audio pribadi dan paparan suara rekreasional atau venue hiburan [4]. WHO juga menetapkan standar global pendengaran aman untuk venue dan acara, dengan target operasional paparan setara 100 dB LAeq selama 15 menit bagi orang dewasa, dan lebih ketat untuk anak-anak yaitu 90 dB LAeq selama 15 menit [4]. Jika bentuk ekstrem Sound Horeg berada pada kisaran 120–135 dB seperti yang disebutkan dalam data yang dihimpun MUI Jawa Timur [3], maka jelas ini jauh melampaui batas aman rekreasional yang dibicarakan WHO [4]. Dengan kata lain: dalam lomba memekakkan telinga, yang jadi taruhan bukan cuma gengsi, tapi juga sel-sel rambut halus di telinga dalam yang tidak punya nyawa cadangan.


Di sini artikel ini sengaja tidak pura-pura netral dingin. Saya paham kenapa Sound Horeg memesona. Karena manusia selalu punya hubungan ambigu dengan hal yang berlebihan. Kita takut petir, tapi kagum pada petir. Kita takut ombak besar, tapi mengejar ombak besar. Kita bilang suara terlalu keras, tapi ketika bass jatuh di momen yang tepat, sebagian tubuh kita justru berkata: lagi. Ada sesuatu yang sangat purba dalam dentuman berulang. Ia menertibkan gerak, menyamakan langkah, menghapus jeda antarindividu. Dalam dentuman yang sinkron, manusia merasa menjadi bagian dari massa yang punya denyut sama. Itu sebabnya bunyi kolektif begitu kuat dalam ritual, perayaan, bahkan politik.


Mungkin nenek moyang kita tidak mengejar desibel, tetapi mereka sangat mungkin mengerti kuasa ritme. Dari seruling purba yang menandakan tradisi musik sangat tua [5], kita belajar bahwa manusia tidak hidup dari makan dan tidur saja. Ia juga butuh pola, gema, pengulangan, ekspresi, tanda untuk berkumpul, tanda untuk berduka, tanda untuk berpesta. Maka Sound Horeg bisa dibaca sebagai anak liar dari sejarah panjang itu: bukan kelanjutan ilmiah yang lurus, melainkan mutasi budaya. Seolah-olah semua kebutuhan purba akan kebersamaan dan gebukan ritme bertemu dengan listrik, kompetisi lokal, pasar hiburan, serta ego teknologis rakyat. Hasilnya bukan orkestra kamar, melainkan tembok speaker yang berjalan.


Dan tembok speaker yang berjalan itu punya dramaturgi sendiri. Ia tidak sekadar memutar lagu. Ia membawa iring-iringan visual, massa, rasa hadir, rasa terdorong mengikuti, dan rasa bahwa sebuah peristiwa benar-benar sedang terjadi. Dalam banyak tradisi rakyat, hiburan selalu berkaitan dengan keramaian. Keramaian perlu tanda. Tanda yang paling efisien adalah bunyi keras. Cahaya bisa tertutup tikungan, spanduk bisa luput dibaca, tapi suara besar menyelonong lebih dulu. Ia datang sebelum rombongan terlihat. Ia mengumumkan eksistensi. Dari kejauhan saja orang sudah tahu: ada acara, ada gerak, ada pusat gravitasi sosial sedang lewat.


Karena itu, kalau ada yang bertanya, “Kenapa orang suka Sound Horeg?” jawaban jujurnya tidak bisa tunggal. Bukan semata karena musik. Bukan semata karena ingin bising. Bukan semata karena teknologinya. Ada campuran faktor: sensasi fisik, identitas lokal, kompetisi gengsi, solidaritas keramaian, ritual pesta, dan kenikmatan melihat batas didorong sedikit lebih jauh. Dalam bahasa mahasiswa gondrong: ini bukan cuma soal telinga, bro, ini soal pengalaman eksistensial ketika tubuhmu dijadikan membran tambahan.


Tetapi justru karena ini pengalaman tubuh, kritik kesehatan tidak boleh dianggap cerewet. Pada titik tertentu, kritik itu bukan moralitas rewel, melainkan peringatan biologis. WHO tidak sedang bilang manusia tak boleh bersenang-senang. WHO justru mengakui venue dan acara hiburan sebagai bagian dari hidup, tetapi mendorong praktik mendengar aman, pemantauan level suara, informasi kepada pengunjung, area tenang, dan pelindung telinga [4]. Jadi pembelajarannya bukan “matikan semua bunyi”, melainkan “kalau bunyi sudah jadi teknologi massal, maka tanggung jawabnya juga harus naik kelas.” Kekuatan tanpa kendali adalah romantisme yang mahal bayarnya.


Itu juga tercermin dalam aturan resmi di Jawa Timur. Surat Edaran Bersama 2025 bukan hanya menetapkan ambang level suara, tetapi juga mengatur agar sound dimatikan ketika melintasi tempat ibadah pada waktu ibadah, rumah sakit, ambulans, prosesi pemakaman, dan lingkungan pendidikan saat pembelajaran [3]. Bagi saya, aturan ini menarik secara filosofis. Ia seperti bilang: ya, bunyi adalah bagian dari kebudayaan, tetapi kebudayaan bukan alasan untuk meniadakan ruang hidup orang lain. Horeg boleh, asal tahu kapan semesta memerlukan jeda.


Jeda ini penting, karena peradaban bukan cuma soal kemampuan membuat sesuatu semakin besar, tetapi juga kemampuan menempatkannya secara proporsional. Kita bisa membuat kendaraan sangat cepat, tapi tetap ada lampu merah, trotoar, zona sekolah, dan rem. Kita bisa membuat suara sangat keras, tetapi tetap harus ada etika ruang, etika pendengaran, dan etika kebersamaan. Tanpa itu, teknologi berubah dari alat pesta menjadi alat dominasi. Dari sini kelihatan bahwa perdebatan tentang Sound Horeg pada dasarnya bukan perang antara tradisi dan modernitas. Ini perdebatan tentang bagaimana teknologi rakyat dinegosiasikan di tengah hak sosial yang saling bertabrakan.


Dan di situlah Sound Horeg menjadi cermin yang lucu sekaligus serius. Lucu, karena ia tampak seperti obsesi lokal yang absurd: ketika sebagian dunia berlomba membuat kendaraan melesat, sebagian ruang di Jawa seperti berlomba membuat atmosfer bergetar. Serius, karena di balik absurditas itu ada pelajaran besar tentang selera, teknologi, kelas sosial, ruang publik, kesehatan, dan identitas budaya. Fenomena ini membuktikan bahwa modernitas tidak selalu datang dengan wajah laboratorium putih dan presentasi PowerPoint. Kadang ia datang dengan bak truk, kabel menjuntai, genset meraung, dan speaker setinggi ambisi panitia.


Kalau artikel ini ditarik ke satu tesis utama, maka tesis itu kira-kira begini: Sound Horeg bukan puncak evolusi musik manusia dalam arti ilmiah, tetapi dapat dibaca sebagai puncak ekstremisasi lokal atas kecenderungan lama manusia menyukai bunyi kolektif, ritme, getaran, dan pertunjukan intensitas. Ia adalah metafora bahwa setiap masyarakat punya jalur eksperimen teknologinya sendiri. Ada yang mengejar kecepatan. Ada yang mengejar efisiensi. Ada yang mengejar presisi. Dan ada yang, setidaknya dalam momen budaya tertentu, mengejar dentuman yang bisa membuat kata “horeg” kembali ke makna asalnya: bergerak, bergetar [1].


Jadi apakah Sound Horeg itu puncak pencapaian? Sebagai fakta ilmiah: tidak bisa dibilang begitu [2][5]. Sebagai opini budaya: bisa, kalau yang dimaksud adalah puncak dalam cabang olahraga tak resmi bernama hiburan kebisingan. Sebagai satire: jelas iya. Ia seperti roket rakitan imajinasi rakyat yang tidak terbang ke langit, melainkan meledak di udara dekat telinga. Ia bukan simfoni yang meminta kita menutup mata demi menangkap detail. Ia adalah kebalikannya: pengalaman yang memaksa tubuh sadar bahwa ia punya batas.


Dan mungkin di situlah paradoks paling jujur dari Sound Horeg. Manusia menciptakan teknologi untuk memperluas kemampuan tubuhnya. Kendaraan memperpanjang kaki. Kran memperpanjang tangan. Mikrofon memperpanjang suara. Speaker memperpanjang daya jangkau bunyi. Tetapi dalam versi ekstrem, teknologi juga mengingatkan keterbatasan tubuh itu sendiri. Telinga punya ambang. Saraf punya toleransi. Ruang sosial punya kesabaran. Maka Sound Horeg berdiri di ujung yang ganjil: ia adalah perayaan daya cipta manusia sekaligus pengingat bahwa tidak semua yang bisa diperkeras harus diperkeras.


Barangkali itulah cara paling waras untuk menutup pembahasan ini. Kita tidak perlu sok suci dan pura-pura tidak mengerti daya tariknya. Tapi kita juga tidak perlu sok heroik dan menganggap volume berlebihan sebagai peradaban tingkat tinggi. Sound Horeg menarik justru karena ia memperlihatkan manusia apa adanya: makhluk yang sejak puluhan ribu tahun lalu sudah akrab dengan musik [5], makhluk yang suka berkumpul dalam ritme, makhluk yang senang mendorong batas teknologi, dan makhluk yang sering baru sadar soal risiko setelah kaca rumah bergetar dan telinga berdenging. Dalam tafsir mahasiswa gondrong, Sound Horeg adalah anak sah dari dua orang tua besar bernama naluri purba dan listrik modern. Yang satu mewariskan hasrat berkumpul di bawah dentuman, yang satu lagi memberi amplifier.


Maka bila seseorang menyebut Sound Horeg sebagai “puncak evolusi hiburan kebisingan”, kita bisa menjawab: secara ilmiah, kalimat itu kebablasan; secara budaya, kalimat itu ada benarnya sebagai kiasan; secara satiris, itu telak; dan secara kesehatan, sebaiknya sambil menyediakan pelindung telinga. Karena pada akhirnya, sejarah bunyi manusia mungkin memang panjang, tetapi gendang telinga tetap tipis [3][4][5].


  • Fakta utama: Sound Horeg adalah fenomena sound system besar/berdaya tinggi yang menonjol di Jawa Timur/Jawa, berkembang dalam konteks karnaval, hajatan, dan hiburan rakyat [2].
  • Fakta bahasa: “Horeg” dalam lema Jawa berarti bergerak, bergetar [1].
  • Fakta sejarah musik manusia: bukti seruling purba menunjukkan tradisi musik manusia modern sudah sangat tua, sekitar 35.000 tahun lalu [5].
  • Fakta kesehatan: paparan suara rekreasional yang tidak aman berisiko bagi pendengaran; WHO memberi acuan 100 dB LAeq selama 15 menit untuk orang dewasa di venue/acara [4].
  • Fakta regulasi: Jawa Timur membatasi penggunaan sound system, termasuk maksimum 120 dBA untuk pertunjukan statis dan 85 dBA untuk kegiatan berpindah [3].
  • Opini artikel ini: menyebut Sound Horeg sebagai “puncak evolusi” lebih tepat dibaca sebagai metafora budaya dan kritik satiris, bukan kebenaran ilmiah.

Sumber Referensi

  1. horeg - Kamus Bahasa Jawa-Indonesia KBJI
  2. Siapa Penemu Sound Horeg, Asal-usul, dan Kontroversinya
  3. Surat Edaran Bersama tentang Penggunaan Sound System/Pengeras Suara di Wilayah Jawa Timur (6 Agustus 2025)
  4. WHO Global standard for safe listening venues and events
  5. New flutes document the earliest musical tradition in southwestern Germany


Artikel lain dari penulis ini
Iklan