Ada godaan besar untuk menceritakan sejarah kampus dengan kalimat yang sederhana: mahasiswa melawan negara, idealisme melawan kekuasaan, kampus melawan partai. Namun untuk kisah Universitas Peking atau Beida pada 1960-an, kenyataannya jauh lebih rumit, lebih tegang, dan justru karena itu lebih menarik. Yang bisa dipastikan dari sumber-sumber kredibel bukanlah bahwa seluruh mahasiswa Beida sepanjang dekade 1960-an bangkit sebagai gerakan anti-Partai Komunis Tiongkok dalam arti liberal-demokratis. Yang lebih akurat adalah ini: terutama pada awal Revolusi Kebudayaan tahun 1966, ada sebagian mahasiswa dan aktivis kampus di Beida yang benar-benar muak terhadap cara aparat partai kampus, pimpinan universitas, dan kelompok kerja dari atas menekan, membatasi, dan mengarahkan hidup politik kampus [3][5].
Kemuakan itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari memori panjang tentang kampus yang sudah lama hidup di bawah pengawasan politik yang menebal. Jika menoleh ke belakang, studi René Goldman tentang kampanye rektifikasi di Universitas Peking pada Mei–Juni 1957 menunjukkan bahwa kampanye tersebut berlangsung setelah Partai Komunis menegakkan apa yang digambarkan sebagai “total control” atas kehidupan politik, ekonomi, dan ideologis [1]. Kalimat itu penting sekali. Sebab ia memberi latar: sebelum ledakan 1966, lingkungan kampus sudah terbiasa dengan disiplin politik yang keras, dengan batas-batas wacana yang dijaga, dan dengan risiko serius bila ekspresi dianggap menyimpang [1]. Jadi ketika pada pertengahan 1960-an muncul rasa jenuh, marah, dan muak, itu bukan ledakan spontan tanpa sejarah. Itu lebih seperti tekanan panjang yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.
Beida sendiri menyimpan ingatan institusional tentang pembungkaman tersebut. Dalam artikel resmi berbahasa Inggris tentang “Triangle”, kampus mengingat bagaimana pada masa Anti-Rightist Movement, ekspresi mahasiswa seperti karya Zhang Yuanxun dibungkam dan didisiplinkan [2]. Ini detail yang tampaknya kecil, tetapi sebenarnya sangat berbicara. Kampus bukan sekadar ruang belajar; ia juga ruang memori. Ketika satu generasi menyaksikan bahwa tulisan, puisi, atau sikap bisa berujung pada hukuman politik, generasi sesudahnya belajar satu hal: kata-kata punya harga. Di lingkungan seperti itu, kejengahan bukan cuma soal tidak setuju. Ia juga soal lelah hidup di tempat yang menuntut kepatuhan ideologis terus-menerus.
Maka, ketika tahun 1966 datang, suasana di Beida bukan seperti halaman putih yang baru ditulisi. Ia lebih mirip ruangan penuh debu, kecurigaan, dan bisik-bisik yang lama terpendam. Lalu pada 25 Mei 1966, sebuah momen yang kini sangat terkenal meledak di pusat kampus: Nie Yuanzi dan enam rekannya memasang dazibao, poster huruf besar, yang menuduh Universitas Peking dikuasai “revisionists” [2][3]. Di permukaan, poster itu berbicara dalam bahasa politik revolusioner khas zamannya. Tetapi jika dibaca sebagai sumber primer, ia juga memuat keluhan yang sangat jelas tentang pengekangan di kampus.
Dalam poster yang kemudian dipublikasikan ulang di Peking Review, penulis menyatakan bahwa di Beida “hasrat revolusioner yang kuat” dari banyak dosen dan mahasiswa telah ditekan, bahwa suasana kampus dibuat menjadi “indifference and deadness”, sikap acuh dan mati rasa, dan bahwa otoritas kampus mendorong agar gerakan dibatasi hanya pada diskusi kecil, bukan poster besar atau mobilisasi massa [3]. Ini penting karena kita tidak sedang menebak-nebak perasaan mahasiswa dari luar. Kita punya jejak tekstual yang eksplisit: ada aktor-aktor di dalam Beida yang merasa gerak mereka ditekan, energi politik mereka dipadamkan, dan ekspresi kolektif mereka disalurkan ke bentuk yang aman bagi otoritas [3].
Di titik ini, cerita Beida menjadi ironi sejarah yang tajam. Mereka yang bicara menentang tekanan itu tidak sedang mengajukan manifesto demokrasi kampus ala akhir abad ke-20. Mereka juga tidak sedang berkata, “kami ingin melepaskan diri dari komunisme.” Justru sebaliknya, banyak dari mereka berbicara atas nama revolusi, atas nama garis Mao, dan atas nama kemurnian gerakan [3][5]. Itulah nuansa yang wajib dijaga. Kemarahan terhadap aparat partai kampus tidak otomatis sama dengan penolakan terhadap Partai Komunis Tiongkok secara keseluruhan dalam pengertian modern. Yang tampak adalah konflik internal yang sangat keras: sebagian mahasiswa dan aktivis kampus muak karena merasa aparat partai kampus telah menekan, membatasi, bahkan salah mengarahkan revolusi yang menurut mereka seharusnya lebih bebas dan lebih radikal [3][5].
Kalau dibayangkan sebagai adegan, Beida pada saat itu seperti kampus yang mendadak kehilangan bahasa normalnya. Dinding-dinding menjadi papan pengumuman amarah. Lorong-lorong bukan lagi sekadar jalur menuju kelas, melainkan jalur sirkulasi rumor, tuduhan, dan keberanian yang baru tumbuh. Tetapi keberanian itu segera bertemu dengan tembok lain: kelompok kerja atau work teams yang dikirim dari atas untuk mengendalikan arah gerakan.
Di sinilah riset Andrew Walder sangat membantu untuk memahami apa yang terjadi secara lebih konkret. Dalam studinya tentang asal-usul faksionalisme Red Guard di Beijing, termasuk di Universitas Peking, Walder menunjukkan bahwa pada tahap awal, kelompok kerja di banyak kampus Beijing bisa terlihat permisif. Namun setelah minggu ketiga Juni 1966, sikap mereka mengeras dan mereka menuntut mahasiswa agar tunduk pada otoritas kelompok kerja tersebut [5]. Kalimat ini menjelaskan perubahan atmosfer dengan sangat kuat: dari ruang yang seolah dibuka untuk semangat revolusioner, menjadi ruang yang kembali dipagari otoritas. Seakan-akan mahasiswa diberi isyarat untuk bergerak, tetapi hanya sejauh gerak itu tetap berada dalam rel yang disetujui aparat.
Ketika sebagian mahasiswa menolak tunduk, benturan pun menjadi nyata. Walder mencatat adanya serangan balik terhadap mereka yang menantang kelompok kerja: tuduhan politik, rapat-rapat kecaman, penahanan agar menulis self-criticism, dan stigmatisasi sebagai aktivitas “anti-party” [5]. Di sinilah kata “muak” terasa punya bobot sejarah. Sebab tekanan itu bukan hanya abstrak. Bentuknya konkret, melelahkan, dan memalukan. Bayangkan menjadi mahasiswa yang merasa berbicara demi revolusi, tetapi lalu dipaksa duduk menulis pengakuan salah. Bayangkan suasana ketika perbedaan sikap bukan dijawab dengan debat terbuka, melainkan dengan stempel politik. Bayangkan pula bagaimana cepatnya idealisme kampus berubah menjadi rasa takut.
Fakta-fakta ini memberi kita gambaran yang lebih jernih tentang jenis tekanan yang dirasakan di Beida. Tekanannya bukan semata sensor dalam arti sempit. Tekanan itu berbentuk pembatasan poster besar dan mobilisasi massa, tuntutan agar gerakan tetap di bawah arahan partai, dan hukuman politik bagi mahasiswa yang melawan garis otoritas [3][5]. Jadi ketika kita mengatakan sebagian mahasiswa Universitas Peking “muak karena ditekan,” kalimat itu bisa dipertahankan secara historis, asalkan dijelaskan dengan tepat bahwa tekanan yang dimaksud datang terutama dari otoritas partai kampus dan kelompok kerja pada momentum awal Revolusi Kebudayaan [3][5].
Ada lapisan psikologis yang juga patut dibayangkan. Kampus adalah tempat orang muda belajar percaya pada pikirannya sendiri. Tetapi di Beida masa itu, berpikir sendiri tidak pernah benar-benar netral. Setiap kalimat bisa dibaca sebagai posisi politik. Setiap keberatan bisa diterjemahkan menjadi kesetiaan atau pengkhianatan. Karena itu, kejengahan mahasiswa bukan sekadar soal kebijakan kampus yang tidak mereka sukai. Ia menyentuh pengalaman sehari-hari yang lebih dalam: perasaan diawasi, diarahkan, dipersempit, dan sewaktu-waktu bisa diseret ke panggung penghukuman publik. Dalam lingkungan seperti itu, muak adalah emosi yang masuk akal.
Namun, justru di titik ini kita harus berhati-hati agar tidak menulis sejarah secara terlalu modern. Akan mudah, dan mungkin terasa memuaskan, jika kisah Beida 1966 dibingkai sebagai semacam proto-demokrasi kampus. Tetapi sumber yang tersedia tidak mendukung penyederhanaan tersebut. Bukti paling kuat justru menunjukkan konflik yang episodik, tajam, dan internal, dengan bahasa politik Maois yang sangat kuat [3][5]. Para aktor mahasiswa atau aktivis yang menentang otoritas kampus pada saat itu sering kali tidak menolak kerangka revolusi. Mereka justru menuduh pimpinan kampus dan aparat partai sebagai pihak yang menekan semangat revolusioner [3]. Jadi, yang terjadi bukan kebangkitan anti-komunis kampus, melainkan pemberontakan dari dalam kosakata resmi revolusi sendiri.
Di sinilah sejarah Beida terasa tragis. Sistem yang mendidik orang untuk berbicara dalam bahasa revolusi juga menciptakan alat bagi mereka untuk menggugat otoritas kampus. Tetapi ketika alat itu dipakai, otoritas merespons dengan mekanisme tekanan yang tidak kalah revolusioner bunyinya: tuduhan anti-partai, sesi kritik, kewajiban koreksi diri, dan pengendalian organisasi [5]. Dengan kata lain, mahasiswa dan aparat sama-sama bergerak dalam semesta politik yang mirip, tetapi dengan akses kekuasaan yang sangat tidak seimbang.
Penting juga dicatat bahwa krisis ini tidak luput dari perhatian struktur partai yang lebih tinggi. Pada 28 Juli 1966, Komite Partai Kota Beijing mengeluarkan keputusan tentang pencabutan kelompok kerja di perguruan tinggi. Dalam keputusan itu dinyatakan bahwa metode penempatan kelompok kerja di perguruan tinggi “sudah tidak lagi sesuai” dengan kebutuhan revolusi saat itu, dan diperintahkan penarikan kelompok kerja serta pembentukan organisasi massa kampus [4]. Ini bukan pengakuan liberal bahwa represi itu salah dalam pengertian hak-hak sipil modern. Tetapi tetap saja, dokumen tersebut merupakan bukti resmi bahwa model kontrol melalui kelompok kerja telah menimbulkan persoalan politik yang serius [4]. Jika tidak ada krisis, tidak akan ada kebutuhan mendesak untuk mencabut mekanisme itu.
Keputusan 28 Juli 1966 itu membantu kita membaca ulang kejengahan mahasiswa dengan lebih hati-hati. Mereka bukan sekadar merasa tertekan menurut kesan subjektif; ada jejak institusional bahwa cara pengendalian yang dipakai memang dianggap bermasalah bahkan oleh otoritas di atasnya [4]. Ini memberi bobot tambahan pada narasi bahwa benturan di kampus bukan gosip atau anekdot, melainkan bagian dari pergolakan politik yang nyata dan terdokumentasi.
Kalau ditarik ke belakang lagi, dari 1966 menuju 1957, garis ceritanya menjadi lebih utuh. Pada 1957, Beida sudah mengalami kampanye rektifikasi dalam suasana kontrol politik dan ideologis yang kuat [1]. Pada masa Anti-Rightist, ekspresi mahasiswa bisa dibungkam dan didisiplinkan [2]. Lalu pada 1966, ketika semangat revolusioner dibuka dan diperebutkan, sebagian mahasiswa justru mengatakan bahwa hasrat revolusioner mereka ditekan, kampus dibuat mati rasa, dan gerakan mereka dibatasi [3]. Setelah itu, kelompok kerja memperkeras disiplin, menuntut ketaatan, dan menghukum yang menantang [5]. Akhirnya, otoritas tingkat kota menarik kelompok kerja karena metodenya dianggap tidak sesuai lagi [4]. Jika rangkaian ini dibaca bersama, terlihat pola yang jelas: Beida adalah ruang yang selama bertahun-tahun bergulat dengan kontrol, pembungkaman, dan ledakan perlawanan internal.
Tetapi kita tetap wajib jujur pada keterbatasan bukti. Tidak ada dasar kuat dalam catatan riset yang diberikan untuk mengatakan bahwa “mahasiswa Universitas Peking pada 1960-an” secara keseluruhan, seragam, dan sepanjang satu dekade penuh, muak terhadap Partai Komunis Tiongkok. Klaim seperti itu terlalu luas. Fokus waktu yang paling kuat justru Mei sampai Juli 1966 [3][4][5]. Fokus aktor yang paling aman adalah “sebagian mahasiswa/aktivis kampus” [3][5]. Dan fokus sasaran kemuakan mereka adalah otoritas partai kampus, pimpinan universitas, serta kelompok kerja, bukan formulasi sederhana bahwa semua mahasiswa Beida melawan seluruh PKT [3][5].
Keterbatasan ini bukan kelemahan artikel; justru ia adalah cara paling bertanggung jawab dalam menulis sejarah. Kisah nyata sering kali lebih sempit dari slogan, tetapi justru lebih kuat. Mengatakan “pada awal Revolusi Kebudayaan 1966, sebagian mahasiswa dan aktivis Beida memberontak terhadap kontrol dan pengekangan aparat partai kampus” jauh lebih akurat daripada slogan besar yang menyapu semuanya [3][5]. Dan akurasi penting, terutama ketika topik ini mudah dipakai untuk kepentingan politik masa kini.
Ada satu detail lagi yang layak direnungkan dari bahasa poster 25 Mei 1966. Ketika penulisnya mengeluhkan suasana “indifference and deadness” di kampus [3], itu terdengar seperti lebih dari sekadar slogan politik. Kalimat itu menangkap atmosfer mental sebuah universitas yang terlalu lama hidup dalam tekanan. Kampus yang sehat biasanya gaduh oleh argumen, penuh rasa ingin tahu, dan kadang berantakan oleh kebebasan berpikir. Sebaliknya, kampus yang dibuat “mati rasa” adalah kampus yang kehilangan denyut. Mungkin itulah salah satu inti kemuakan mahasiswa Beida: bukan cuma karena mereka ditahan untuk tidak bergerak, tetapi karena mereka merasakan kampus mereka sendiri dibikin beku.
Dari sudut pandang bercerita, ini seperti melihat kawah yang lama dipadatkan dari atas. Permukaannya tampak tertib. Instruksi berjalan. Hierarki jelas. Bahasa resmi mendominasi. Tetapi di bawahnya ada akumulasi kejengahan: memori pembungkaman, pengalaman diawasi, dan frustrasi karena energi politik hanya boleh hidup jika disetujui penjaga gerbangnya. Ketika retakan muncul pada 1966, yang keluar bukan bahasa kebebasan universal, melainkan bahasa revolusi yang marah karena merasa direm oleh birokrasi partai sendiri [3][5].
Dalam pengertian itu, Beida pada 1966 memberi pelajaran yang lebih rumit daripada sekadar “mahasiswa versus negara.” Kadang-kadang, ketegangan paling tajam justru lahir di dalam sistem yang sama, ketika orang-orang muda yang dididik untuk bersemangat secara ideologis tiba pada satu titik dan berkata: kami sudah terlalu ditekan, terlalu diarahkan, terlalu dibatasi. Mereka tidak keluar dari panggung revolusi; mereka mencoba merebut panggung itu dari otoritas kampus yang dianggap memonopoli tafsir dan kendali [3][5].
Apakah itu berarti mereka bebas dari kontradiksi? Tentu tidak. Sejarah awal Revolusi Kebudayaan penuh paradoks. Perlawanan terhadap kontrol partai kampus dapat dengan cepat berubah menjadi bagian dari dinamika yang juga keras dan menghukum pihak lain. Itu sebabnya cerita ini tidak cocok dipoles menjadi dongeng hitam-putih. Namun justru dalam kerumitannya, kita bisa melihat dengan jelas bahwa rasa muak itu nyata. Bukan mitos, bukan kesan semata, melainkan sesuatu yang tercermin dalam poster primer, riset akademik, ingatan institusional, dan dokumen resmi [2][3][4][5].
Jika harus diringkas dalam satu gambar, maka Beida 1966 adalah kampus yang mendadak bersuara setelah lama dibiasakan berbicara dalam batas. Suara itu pecah bukan di luar kosakata negara, tetapi dari dalamnya. Ia berkata bahwa semangat mahasiswa ditekan, bahwa kampus dibuat mati, bahwa gerakan dibatasi, dan bahwa otoritas partai kampus terlalu jauh mengendalikan [3]. Lalu ketika suara itu menolak tunduk, datanglah tuduhan, kecaman, dan paksaan untuk mengaku salah [5]. Tidak heran bila di sana lahir rasa muak yang tajam.
Jadi, benarkah mahasiswa Universitas Peking pada 1960-an pernah muak karena ditekan Partai Komunis Tiongkok? Jawaban yang paling jujur adalah: ya, ada dasar kuat untuk mengatakan bahwa pada awal Revolusi Kebudayaan tahun 1966, sebagian mahasiswa dan aktivis kampus di Beida menunjukkan kejengahan dan perlawanan terhadap tekanan dari aparat partai kampus, pimpinan universitas, dan kelompok kerja [3][5]. Tetapi tidak akurat bila itu digeneralisasi sebagai gerakan seragam seluruh mahasiswa Beida sepanjang dekade 1960-an, atau dibaca sebagai gerakan anti-CCP dalam arti liberal-demokratis [3][5]. Sejarah yang paling kuat justru berbicara dalam nuansa: ini adalah ledakan perlawanan internal, lahir dari kampus yang terlalu lama hidup dalam kontrol, dan meletus ketika sebagian orang muda merasa bahwa bahkan revolusi pun sedang dicekik oleh penjaganya sendiri [1][2][3][5].
Pada akhirnya, mungkin itulah yang membuat kisah Beida 1966 terus memikat. Ia bukan hanya cerita tentang ideologi, tetapi juga tentang suasana batin sebuah kampus. Tentang bagaimana tekanan politik yang lama mengendap bisa berubah menjadi amarah terbuka. Tentang bagaimana universitas, yang seharusnya menjadi ruang berpikir, bisa terasa sesak ketika semua pikiran harus melewati sensor kekuasaan. Dan tentang bagaimana, di satu musim panas yang genting, sebagian mahasiswa Universitas Peking menunjukkan bahwa bahkan di jantung sistem, kejengahan terhadap penekanan tetap bisa menemukan suara [1][2][3][4][5].