Kenapa Korea Selatan dan Indonesia Berjalan ke Arah yang Berbeda Setelah Merdeka? Bukan Cuma Soal Pendidikan

← Kembali ke Blogs

Kenapa Korea Selatan dan Indonesia Berjalan ke Arah yang Berbeda Setelah Merdeka? Bukan Cuma Soal Pendidikan

Ditulis oleharifrahmawan·
1 unik hari ini 2 unik 7 hari 19 unik 30 hari 41 total unik
Iklan

Kalau dua negara diibaratkan dua anak kos yang mulai hidup mandiri pada fase sejarah yang kurang lebih sama, pertanyaannya bukan cuma siapa yang lebih pintar, tapi siapa yang lebih cepat beresin kamar, siapa yang tahu kapan harus nabung, siapa yang punya tetangga rese tapi memaksanya disiplin, dan siapa yang terlalu sering sibuk memadamkan kompor bocor sampai lupa menata masa depan. Di titik ini, membandingkan Korea Selatan dan Indonesia itu menarik justru karena keduanya sama-sama pernah berada dalam kondisi sulit, sama-sama membawa luka sejarah, sama-sama ingin berdiri tegak sebagai bangsa, tapi hasil perjalanannya sekarang terlihat jauh berbeda.


Fakta umumnya begini: Korea Selatan sering dipandang sebagai contoh negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan, terutama dalam industri, teknologi, pendidikan, dan tata kelola ekonomi yang relatif terarah. Indonesia di sisi lain adalah negara besar dengan potensi raksasa, sumber daya alam melimpah, pasar domestik luas, budaya kaya, dan posisi strategis, tetapi perjalanan pembangunannya terasa lebih tambal sulam, seperti motor tua yang mesinnya kuat tapi bautnya suka kendor satu-satu. Ini bukan berarti Indonesia gagal total atau Korea Selatan tanpa cacat. Yang sedang kita bahas adalah kenapa jarak persepsi dan capaian itu bisa tampak lebar.


Kalau ada yang langsung bilang, jawabannya pasti pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, itu tidak sepenuhnya salah. Tapi itu baru seperti melihat puncak gunung dari kejauhan lalu mengira seluruh gunung cuma bagian yang kelihatan. Pendidikan dan SDM memang penting, sangat penting malah, tapi keduanya tidak tumbuh di ruang hampa. Kualitas manusia dibentuk oleh institusi, insentif, budaya kerja, stabilitas kebijakan, arah industri, distribusi kesempatan, dan cara negara mendefinisikan prioritas. Jadi kalau kita mau jujur, pertanyaan yang lebih tajam bukan hanya kenapa pendidikan mereka terasa lebih kuat, tetapi kenapa sistem di sana lebih lama mendorong pendidikan menjadi mesin pembangunan, sementara di sini pendidikan sering seperti penumpang yang diajak naik truk proyek, bukan sopir utamanya.


Secara pengetahuan umum, salah satu perbedaan paling besar adalah fokus pembangunan. Korea Selatan dalam lintasan sejarah modernnya cenderung membangun dengan orientasi yang jelas: memperkuat negara lewat industrialisasi, ekspor, kemampuan manufaktur, dan peningkatan kualitas tenaga kerja. Dalam bayangan sederhana, mereka seperti band yang dari awal sudah sepakat mau main musik apa, latihan berapa jam, target manggung di mana, dan rela hidup seadanya demi beli alat yang bagus. Indonesia sering tampak seperti panggung besar dengan banyak pemain berbakat, tetapi genre musiknya sering berubah tergantung siapa yang pegang mikrofon. Kadang semangatnya industri, kadang komoditas, kadang infrastruktur, kadang birokrasi, kadang konsumsi. Energi besar ada, tapi ritmenya tidak selalu konsisten.


Pendidikan lalu masuk sebagai bagian dari desain besar itu. Dalam banyak masyarakat yang berhasil melompat maju, pendidikan tidak sekadar dianggap jalan pribadi untuk cari kerja, melainkan proyek kolektif untuk membentuk tenaga terampil, kelas menengah produktif, birokrat yang kompeten, insinyur, guru, teknisi, dan manajer. Pendidikan dijahit langsung dengan kebutuhan ekonomi. Analogi gampangnya: kampus, sekolah, industri, dan negara main futsal satu tim. Mereka mungkin kadang tabrakan, kadang saling menyalahkan, tapi gawang yang dituju sama. Di Indonesia, hubungan itu sering terasa seperti turnamen antar-kelas. Sekolah jalan sendiri, kampus jalan sendiri, industri mengeluh lulusan tidak siap, negara bikin aturan yang tidak selalu nyambung, lalu masyarakat mendorong anak sekolah tinggi tapi tidak selalu punya ekosistem kerja yang menyerap kemampuan mereka secara optimal.


Tapi menyederhanakan semua ke pendidikan juga bahaya. Sebab pendidikan bagus pun bisa kehilangan tenaga kalau struktur ekonominya tidak menampung. Bayangkan kamu rajin melatih anak-anak jadi pemain gitar hebat, tapi di kota itu panggung musik hampir tidak ada, studio minim, alat mahal, dan semua orang cuma mau dengar satu jenis lagu lama. Lama-lama yang hebat akan pindah kota, yang bertahan akan frustrasi, dan yang baru belajar akan bertanya, buat apa capek-capek? Jadi perbedaan Korea Selatan dan Indonesia juga terkait dengan struktur ekonomi. Negara yang membangun industri bernilai tambah tinggi biasanya memaksa dirinya untuk serius pada kualitas manusia, teknologi, riset, logistik, dan efisiensi. Sebaliknya, negara yang terlalu nyaman dengan bahan mentah atau keuntungan jangka pendek kadang terlena, seperti orang yang punya kebun durian lalu merasa tidak perlu belajar masak karena toh buahnya tetap laku.


Di sini kita masuk ke faktor sumber daya alam, yang sering dianggap berkah tetapi bisa juga seperti kasur empuk yang membuat penghuninya malas bangun pagi. Indonesia dianugerahi kekayaan alam dan pasar besar. Itu potensi luar biasa. Namun dalam analisis banyak pengamat, kelimpahan sumber daya bisa membuat negara kurang terpaksa untuk disiplin secara ekstrem. Ketika alam masih memberi, tekanan untuk merombak sistem, memperkeras standar pendidikan, dan membangun industri berteknologi tinggi kadang terasa tidak mendesak. Korea Selatan justru tidak punya kemewahan itu. Dalam analogi mahasiswa, Indonesia seperti anak rantau yang tiap bulan masih dikirimi beras, mie, dan uang jajan dari kampung, sementara Korea Selatan seperti anak kos yang kulkasnya kosong, jadi ia mau tak mau harus cari cara agar dapurnya hidup. Kekurangan bisa menyakitkan, tapi kadang justru menciptakan fokus yang tajam.


Namun hati-hati, ini bukan puisi romantik yang memuja penderitaan seolah semua kesulitan otomatis melahirkan kemajuan. Tidak sesederhana itu. Banyak negara miskin tetap tertinggal. Jadi bukan kekurangan itu sendiri yang menentukan, melainkan bagaimana elite politik, birokrasi, pelaku usaha, dan masyarakat merespons keterbatasan. Ada negara yang saat terdesak menjadi disiplin, ada yang saat terdesak malah saling sikut. Maka perbedaan penting berikutnya adalah kualitas institusi. Institusi itu ibarat aturan main, kebiasaan bersama, dan pagar pembatas yang membuat kendaraan nasional tidak gampang oleng meski sopirnya berganti. Kalau institusinya kuat, orang bagus tidak harus jadi malaikat untuk menghasilkan hasil lumayan. Kalau institusinya lemah, orang baik pun bisa habis energinya hanya untuk bertahan dari kekacauan.


Dalam pengetahuan umum, Korea Selatan dikenal memiliki birokrasi dan arah kebijakan ekonomi yang relatif lebih terkoordinasi pada fase-fase penting pembangunannya. Artinya, negara tidak cuma bicara mimpi, tapi menyiapkan jalur agar mimpi itu punya rel. Ada dorongan untuk membentuk perusahaan kuat, meningkatkan kemampuan produksi, memperluas pasar luar negeri, dan menaikkan standar kualitas. Indonesia memiliki tantangan yang lebih berlapis. Wilayahnya sangat luas, masyarakatnya sangat beragam, pusat dan daerah punya dinamika berbeda, dan kebijakan sering harus bernegosiasi dengan realitas geografis, politik, dan sosial yang jauh lebih kompleks. Mengatur negara kepulauan besar itu bukan seperti merapikan meja belajar, tapi seperti mengelola konser di banyak pulau dengan cuaca berubah-ubah dan sebagian kabel sound system masih dipinjam.


Geografi sering diremehkan dalam diskusi semacam ini. Padahal ia bukan dekorasi peta, melainkan ongkos nyata. Negara yang lebih kompak secara wilayah cenderung lebih mudah membangun infrastruktur, menyatukan pasar, mengirim barang, menyebar layanan publik, dan menstandardisasi sistem pendidikan. Indonesia punya tantangan logistik yang jauh lebih rumit. Sekolah di pusat kota dan sekolah di wilayah terpencil berhadapan dengan realitas yang bisa sangat berbeda. Distribusi guru, kualitas fasilitas, akses internet, kesehatan dasar, semua punya medan masing-masing. Jadi ketika kita berkata SDM Indonesia tertinggal, kita juga sedang bicara tentang ketimpangan kesempatan membentuk SDM itu. Bukan hanya soal anak mau belajar atau tidak, tapi apakah lapangannya rata atau penuh lubang.


Ada juga faktor budaya kerja dan ekspektasi sosial. Ini wilayah yang sensitif, jadi harus dibahas dengan hati-hati. Bukan berarti satu bangsa rajin dan bangsa lain malas. Generalisasi seperti itu malas berpikir. Yang lebih masuk akal adalah setiap masyarakat membangun kebiasaan kolektif berdasarkan sejarah, tekanan ekonomi, sistem penghargaan, dan teladan institusi. Kalau sistem memberi imbalan kepada kompetensi, ketepatan, mutu, dan kerja serius, lama-lama budaya itu mengeras. Kalau sistem lebih sering menghadiahi kedekatan, keluwesan tanpa standar, atau kemampuan bermanuver di sela aturan, maka orang rasional akan menyesuaikan diri. Bukan karena moral mereka jelek, tapi karena manusia membaca insentif seperti tanaman membaca arah cahaya.


Jadi ya, pendidikan penting, tetapi pendidikan sendirian seperti drummer keren tanpa band. Ia bisa jago gebuk, tapi musik tidak jadi lagu kalau bass fals, gitaris telat, dan vokalis sibuk selfie. Korea Selatan terlihat berhasil bukan semata karena sekolahnya lebih serius, melainkan karena pendidikan dipertemukan dengan industri, disiplin organisasi, kebijakan yang relatif konsisten, dan tuntutan hidup yang tinggi. Indonesia sering mengalami putus sambung antara sekolah, dunia kerja, birokrasi, dan pasar. Hasilnya, energi banyak keluar tapi tidak selalu menjadi daya dorong yang terakumulasi.


Faktor sejarah politik juga tak bisa diabaikan. Setiap negara lahir bukan dari ruang steril. Ada konflik, pergantian arah, ancaman keamanan, tarik menarik ideologi, dan fase konsolidasi kekuasaan. Dalam sejarah modern banyak negara, ancaman dari luar atau rasa genting yang terus terasa bisa menciptakan semacam mentalitas darurat: negara merasa tidak punya pilihan selain menjadi efektif. Mentalitas ini punya sisi positif dan negatif. Positifnya, masyarakat bisa lebih rela menerima disiplin kolektif, pengorbanan jangka pendek, dan target nasional yang keras. Negatifnya, ia bisa melahirkan tekanan sosial berlebihan atau ruang kebebasan yang sempit. Di sisi lain, Indonesia tumbuh dengan tantangan menjaga persatuan dalam keragaman yang sangat luas. Itu pekerjaan historis yang luar biasa berat. Kadang energi besar bangsa tersedot untuk memastikan rumah tidak retak, sehingga renovasi dapur dan bengkel datang belakangan.


Kalau dibahas dari sisi ekonomi-politik, ada pertanyaan penting: siapa yang diuntungkan dari arah pembangunan tertentu? Ini pertanyaan yang sering luput. Sebab suatu negara tidak bergerak seperti robot netral. Ia bergerak melalui kepentingan. Bila elite ekonomi dan politik melihat keuntungan pada pembangunan industri jangka panjang, mereka akan mendorong pelatihan, efisiensi, standar mutu, dan ekspor. Bila keuntungan lebih mudah diperoleh lewat rente, konsesi, perdagangan bahan mentah, atau kedekatan dengan kekuasaan, maka insentif membangun SDM unggul secara merata bisa melemah. Dalam bahasa tongkrongan kampus: kenapa capek bikin band latihan tiap malam kalau ternyata yang laku justru jual tiket parkir? Selama parkir lebih untung dan lebih gampang, banyak orang akan memilih jadi juru parkir daripada belajar harmoni musik.


Hal lain adalah kesinambungan kebijakan. Negara maju biasanya tidak harus selalu punya pemimpin jenius. Yang penting, ketika satu kabinet turun dan yang lain naik, rel keretanya tidak dibongkar cuma karena warna cat gerbong berubah. Indonesia sering menghadapi persoalan kebijakan yang semangatnya bagus di atas kertas tetapi berubah ritme dalam pelaksanaan, tumpang tindih, atau terlalu administratif sehingga kehilangan nyawa. Pendidikan misalnya, mudah sekali dijadikan slogan karena semua orang setuju itu penting. Tetapi mengubah kualitas guru, kurikulum, budaya belajar, tata kelola sekolah, dan hubungan dengan dunia kerja adalah pekerjaan maraton. Ini bukan poster seminar, ini seperti merawat sawah bertahun-tahun: air harus ada, tanah harus dijaga, benih harus cocok, hama harus dikendalikan, dan panen tidak datang minggu depan.


Dari sisi masyarakat, ada juga soal orientasi waktu. Pembangunan besar menuntut kemampuan menunda kenikmatan. Negara harus rela menanam banyak sebelum memanen. Keluarga harus melihat sekolah bukan sekadar tempat mendapatkan ijazah, tapi investasi jangka panjang. Perusahaan harus mau meningkatkan kualitas, bukan cuma mengejar margin cepat. Politisi harus sanggup menjual hasil yang mungkin baru terlihat setelah masa jabatannya lewat. Masalahnya, sistem politik modern sering mendorong hasil cepat dan simbol yang kelihatan. Maka proyek fisik lebih gampang dipamerkan daripada budaya belajar, kapasitas riset, atau reformasi birokrasi yang hasilnya lambat tapi mendalam. Ini bukan masalah satu negara saja, tetapi dampaknya terasa besar di negara berkembang.


Apakah berarti Indonesia tidak bisa mengejar? Tentu bisa. Potensinya besar sekali. Tapi syaratnya adalah berhenti mencari jawaban tunggal. Tidak ada tombol rahasia bernama pendidikan yang kalau dipencet semua langsung beres. Pendidikan harus dibarengi kesehatan publik yang baik, gizi yang layak, keluarga yang stabil, transportasi yang mendukung, birokrasi yang tidak menguras tenaga, industri yang menyerap talenta, hukum yang relatif pasti, dan budaya merit yang makin kuat. SDM unggul itu bukan hasil ceramah motivasi. Ia hasil ekosistem. Seperti kopi enak, bukan cuma soal biji. Air, suhu, alat giling, tangan peracik, dan kebersihan gelas juga menentukan.


Kalau kita bedakan secara jelas, fakta umum yang luas diketahui adalah: Korea Selatan dikenal berhasil membangun ekonomi industri dan kualitas manusia secara konsisten dalam jangka panjang, sedangkan Indonesia berkembang tetapi dengan tantangan pemerataan, produktivitas, dan konsistensi yang lebih kompleks. Analisisnya: perbedaan itu lahir dari kombinasi institusi, arah kebijakan, struktur ekonomi, geografi, budaya insentif, sejarah politik, dan kualitas pendidikan. Opininya, menurut saya, Indonesia sering terlalu sibuk memperdebatkan gejala sambil lupa membenahi mesin. Kita suka bertanya kenapa lulusan kurang siap, tetapi kurang menanyakan ekosistem kerja seperti apa yang menunggu mereka. Kita sering mengeluh daya saing rendah, tapi masih terlalu toleran pada proses yang berbelit, standar yang longgar, dan keputusan yang tidak konsisten.


Ada juga dimensi psikologis bangsa. Negara yang sering dipaksa bertanding di pasar global sejak awal akan membentuk refleks berbeda dengan negara yang punya pasar domestik besar. Kalau pasar lokal sudah cukup menghidupi, rasa mendesak untuk jadi paling efisien di dunia bisa melemah. Bukan hilang, tapi melemah. Korea Selatan seperti musisi indie yang dari awal sadar kalau mau hidup ia harus tur keluar kota, jadi kualitas panggung, lagu, dan manajemen harus rapi. Indonesia kadang seperti band yang sudah punya penonton kampung sendiri sangat banyak, jadi bisa tetap hidup meski suara monitor kadang pecah. Ini keuntungan sekaligus jebakan. Pasar besar memberi bantalan, tetapi bantalan bisa membuat lompatan terasa tidak terlalu mendesak.


Lalu bagaimana dengan karakter masyarakat? Lagi-lagi, jangan terjebak stereotip. Yang perlu dilihat bukan watak bawaan bangsa, melainkan kebiasaan yang diproduksi sistem. Kalau antrean dihargai, orang belajar antre. Kalau ketepatan waktu memengaruhi karier, orang belajar tepat waktu. Kalau kualitas kerja dihukum saat buruk dan diapresiasi saat baik, standar naik. Dalam jangka panjang, budaya bukanlah batu yang jatuh dari langit. Ia lebih mirip tanah liat yang dibentuk berulang oleh hukum, pendidikan, pasar, dan contoh pemimpin. Karena itu, menyalahkan rakyat sebagai malas atau tidak disiplin sering kali cuma cara malas untuk menghindari pembicaraan tentang desain sistem.


Dalam konteks pendidikan, saya kira yang paling penting bukan sekadar menambah lama sekolah atau mengganti istilah kurikulum, melainkan memperbaiki pengalaman belajar. Apakah anak dilatih berpikir, bekerja sama, tekun, dan menyelesaikan masalah? Apakah guru punya dukungan untuk mengajar dengan bermakna? Apakah sekolah menjadi ruang pembentukan karakter kerja, bukan pabrik administrasi? Apakah perguruan tinggi berhubungan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri tanpa kehilangan kebebasan intelektualnya? Bila jawaban-jawaban ini makin baik, SDM akan ikut terkerek. Tetapi sekali lagi, hasilnya baru kuat kalau ekonomi memberi panggung. Percuma melatih pelari kalau lintasannya becek dan garis finisnya pindah-pindah.


Sering juga ada pertanyaan, apakah Korea Selatan maju karena masyarakatnya lebih nasionalis atau lebih patuh? Menurut saya itu pertanyaan yang terlalu sempit. Nasionalisme tanpa kompetensi bisa berubah jadi slogan keras dengan isi tipis. Kepatuhan tanpa koreksi bisa berubah jadi barisan rapi menuju jurang. Yang lebih penting adalah apakah ada kesepakatan sosial bahwa kualitas itu penting, bahwa negara harus efektif, bahwa pendidikan bukan formalitas, dan bahwa masa depan dibangun lewat kerja panjang yang kadang membosankan. Bangsa maju bukan bangsa yang setiap hari pidatonya paling menggelegar, tetapi bangsa yang mampu mengubah kebiasaan kecil menjadi performa besar secara konsisten.


Indonesia punya satu tantangan tambahan: skala. Mengubah kebiasaan di negara besar itu seperti menyetel ribuan radio sekaligus agar menangkap frekuensi yang sama. Satu daerah mungkin melesat, daerah lain tertinggal. Satu sektor cemerlang, sektor lain mandek. Karena itu, rasa frustasi sering muncul: kok kemajuan ada, tapi kenapa tidak terasa merata? Jawabannya ya karena skala besar membuat kemajuan mudah tertelan ketimpangan. Sementara negara yang lebih kecil dan lebih terpusat kadang bisa mengonsolidasikan hasil lebih cepat. Ini bukan alasan untuk menyerah, justru alasan untuk lebih realistis dalam merancang perubahan.


Kalau harus dijawab singkat, mengapa sekarang jauh beda? Karena satu negara lebih berhasil menjahit pendidikan, industri, disiplin institusional, dan orientasi jangka panjang menjadi satu mesin yang nyambung. Sementara negara lain masih sering punya komponen bagus tetapi kabel antar-komponennya belum rapi. Pendidikan dan SDM memang inti, tapi inti itu tidak bisa menyala kalau aki kebijakan soak, bensin industrinya campur air, dan setir institusinya longgar. Jadi ini bukan pertarungan antara penjelasan pendidikan melawan penjelasan lain. Ini soal pendidikan sebagai bagian dari sistem yang lebih besar.


Opini pribadi saya, Indonesia tidak kekurangan otak. Kita banyak orang cerdas, kreatif, adaptif, dan tahan banting. Yang sering kurang adalah sistem yang membuat kecerdasan itu bertemu dengan kesempatan secara luas dan adil. Kita punya terlalu banyak kisah individu hebat yang berenang melawan arus, padahal yang dibutuhkan negara besar adalah sungai yang mengalir benar, bukan pahlawan renang yang jumlahnya segelintir. Kalau sistem makin meritokratis, pendidikan makin relevan, birokrasi makin waras, dan industri makin serius naik kelas, jarak itu bisa dipersempit. Mungkin tidak instan, mungkin tidak secepat konten motivasi bilang, tapi sangat mungkin.


Pada akhirnya, membandingkan Korea Selatan dan Indonesia seharusnya bukan untuk minder atau untuk menyembah negara lain seperti fans garis keras yang lupa band lokal juga punya lagu bagus. Perbandingan itu berguna kalau dipakai sebagai cermin, bukan altar. Cermin itu bilang: kemajuan bukan sulap, bukan takdir murni, bukan juga hadiah dari langit untuk bangsa tertentu. Kemajuan adalah hasil dari fokus panjang, keberanian membangun institusi, kesediaan menata pendidikan dengan serius, dan kemampuan menghubungkan talenta manusia dengan arah ekonomi yang jelas. Kalau salah satu hilang, mesin pincang. Kalau semua nyambung, laju negara bisa berubah drastis.


Jadi, apakah perbedaan sekarang karena pendidikan dan SDM? Ya, tetapi bukan hanya itu. Pendidikan dan SDM adalah buah. Akarnya adalah institusi, kebijakan, budaya insentif, sejarah, geografi, dan arah ekonomi. Kalau kita cuma memoles buah tanpa merawat akar, hasilnya paling banter kinclong sebentar lalu busuk. Tetapi kalau akar dibenahi, tanah dipupuk, air dijaga, dan cahaya cukup, pohon akan tumbuh lebih sehat. Indonesia masih punya hutan kemungkinan yang luas. Tinggal pertanyaannya: kita mau terus kagum pada pohon tetangga, atau mulai serius membenahi kebun sendiri?

Artikel lain dari penulis ini
Iklan