Jika Anda sedang mencari kerja, pertanyaan yang paling penting saat ini bukan lagi sekadar “lowongan apa yang sedang banyak dibuka”, melainkan “kemampuan apa yang paling dibutuhkan pasar, dan bagaimana saya bisa membuktikannya”. Pasar kerja global dan Indonesia sedang bergerak cepat. Perubahan ini dipengaruhi teknologi, pergeseran ekonomi, faktor demografi, dan transisi menuju model bisnis yang lebih efisien serta berkelanjutan. Dalam situasi seperti ini, pencari kerja perlu membaca arah pasar dengan lebih strategis, bukan hanya mengandalkan ijazah, pengalaman umum, atau asumsi bahwa pekerjaan lama akan selalu dicari.
Dari sudut pandang pencari kerja, kabar baiknya adalah peluang tetap ada. Menurut Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, hingga 2030 diproyeksikan muncul 170 juta pekerjaan baru secara global, sementara 92 juta pekerjaan lain mengalami pergeseran, sehingga hasil bersihnya adalah tambahan 78 juta pekerjaan [1]. Namun, angka ini perlu dibaca dengan hati-hati. Data tersebut merupakan proyeksi berbasis survei perusahaan, bukan jaminan bahwa setiap negara, kota, atau profesi akan mengalami pola yang sama [1]. Artinya, kesempatan memang terbuka, tetapi bentuk pekerjaannya berubah. Karena itu, bagi Anda yang sedang mencari kerja, fokus utamanya sebaiknya bukan hanya mengejar jabatan tertentu, melainkan menyiapkan diri untuk kebutuhan kerja yang sedang tumbuh.
Perubahan pasar kerja juga tidak bisa disederhanakan menjadi narasi bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan semua manusia. Gambaran yang lebih akurat adalah: sebagian pekerjaan akan berubah, sebagian tugas akan diotomatisasi, sebagian profesi baru akan muncul, dan banyak peran lama akan tetap ada tetapi menuntut cara kerja yang berbeda [1][3]. Ini penting dipahami agar Anda tidak terjebak pada dua kesalahan umum: pertama, takut berlebihan seolah semua pekerjaan akan hilang; kedua, terlalu santai seolah perubahan ini tidak berdampak pada karier Anda.
Kalau dilihat dari kebutuhan pasar secara global, pekerjaan yang tumbuh tidak hanya berasal dari sektor teknologi. WEF menunjukkan bahwa peran yang tumbuh pesat secara persentase memang banyak terkait teknologi, seperti spesialis AI dan machine learning, spesialis big data, serta pengembang perangkat lunak dan aplikasi [3]. Namun, jika dilihat dari pertumbuhan secara absolut, kebutuhan juga meningkat pada pekerjaan yang sangat nyata di kehidupan sehari-hari, seperti pekerja pertanian, pengemudi pengiriman, pekerja konstruksi, peran perawatan, dan peran pendidikan [3]. Bagi pencari kerja, ini memberi pesan penting: Anda tidak harus menjadi spesialis AI untuk tetap relevan. Banyak sektor non-teknologi tetap membutuhkan tenaga kerja, tetapi nilai Anda akan jauh lebih tinggi jika Anda mampu menggunakan teknologi secara tepat di bidang tersebut.
Pada saat yang sama, ada kelompok pekerjaan yang menghadapi tekanan lebih besar. WEF mencatat bahwa pekerjaan clerical atau yang banyak berisi tugas rutin, seperti kasir, petugas loket, asisten administrasi, dan sekretaris eksekutif termasuk yang paling tertekan oleh otomatisasi [3]. Ini bukan berarti semua pekerjaan administrasi akan hilang sepenuhnya, tetapi tugas-tugas yang repetitif semakin mudah digantikan oleh perangkat lunak, sistem digital, atau alur kerja otomatis. Maka, jika Anda berasal dari latar belakang administrasi atau pekerjaan rutin lain, strategi yang lebih aman adalah menaikkan level kemampuan: bukan hanya menjalankan tugas, tetapi juga mengolah data, memeriksa akurasi, menyusun laporan, menggunakan alat digital, dan mendukung pengambilan keputusan.
Dari sini terlihat bahwa kebutuhan kerja paling mendesak bukan sekadar orang yang bisa memakai alat, melainkan orang yang bisa menyelesaikan masalah kerja nyata. Menurut WEF, keterampilan teknologi yang tumbuh paling cepat mencakup AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi [2]. Namun, keterampilan manusia tetap sangat penting, seperti berpikir analitis, berpikir kreatif, ketahanan, fleksibilitas, kepemimpinan, rasa ingin tahu, dan kemauan belajar sepanjang hayat [2]. Bagi pencari kerja, maknanya cukup jelas: perusahaan tidak hanya mencari orang yang bisa menekan tombol pada aplikasi tertentu, tetapi orang yang bisa menggunakan alat digital, menilai apakah hasilnya benar, lalu menjelaskan manfaatnya kepada tim atau atasan.
Jika Anda bertanya, “skill minimum apa yang sekarang wajib saya punya, meskipun saya bukan orang IT?”, jawabannya dapat dibagi menjadi beberapa lapisan. Pertama adalah literasi digital dasar. Ini mencakup kemampuan menggunakan perangkat dan layanan digital, mengelola file dan data dengan rapi, memahami keamanan dasar akun dan kata sandi, mengenali penipuan digital, serta terbiasa menggunakan aplikasi kerja. Kedua adalah kemampuan bekerja dengan informasi, misalnya membaca data sederhana, membuat ringkasan, memeriksa kesalahan, dan menyusun laporan yang mudah dipahami. Ketiga adalah kemampuan memakai teknologi untuk meningkatkan mutu kerja, termasuk menggunakan AI secara hati-hati untuk membantu riset awal, menyusun draf, meringkas dokumen, atau membuat ide awal, lalu tetap memverifikasi hasilnya.
Di level yang lebih tinggi, pasar juga semakin membutuhkan kemampuan profesional yang lebih dalam, seperti analisis data, pemrograman, komputasi awan, keamanan siber, penerapan AI, dan otomasi proses [2]. Namun, penting untuk jujur bahwa tidak semua pencari kerja harus mengejar seluruh bidang itu sekaligus. Pendekatan yang lebih realistis adalah memilih kombinasi skill yang paling dekat dengan target pekerjaan Anda. Seseorang yang ingin masuk pemasaran tidak harus mendalami semua cabang keamanan siber. Sebaliknya, ia lebih terbantu jika menguasai analisis kampanye, pengolahan data pelanggan dasar, penggunaan alat digital pemasaran, dan kemampuan menyajikan temuan secara meyakinkan. Demikian juga seseorang yang ingin bekerja di operasional atau logistik akan lebih relevan jika memahami spreadsheet, pelacakan data, pemetaan proses, dan pemanfaatan aplikasi kerja.
Dari sisi Indonesia, gambaran ini menjadi semakin penting karena pasar kerjanya besar dan sangat beragam. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada Agustus 2025 Indonesia memiliki 154 juta orang dalam angkatan kerja dan 146,54 juta orang bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka tercatat 4,85 persen, sedangkan rata-rata upah buruh sebesar Rp3,33 juta per bulan [4]. Data ini memberi dua pelajaran penting bagi pencari kerja. Pertama, pasar kerja Indonesia tidak sempit; skalanya besar dan menyebar ke banyak sektor. Kedua, rata-rata nasional tidak otomatis menggambarkan kondisi setiap daerah, sektor, atau tingkat pendidikan. Karena itu, Anda perlu menilai peluang kerja secara lebih spesifik sesuai bidang dan lokasi yang Anda incar, bukan hanya membaca angka nasional lalu menarik kesimpulan umum.
Konteks Indonesia juga menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja tidak boleh dibayangkan hanya berada di sektor perkantoran modern atau startup teknologi. BPS mencatat adanya kenaikan pekerja besar pada sektor seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan [4]. Ini mengingatkan bahwa struktur pasar kerja Indonesia masih sangat dipengaruhi sektor-sektor esensial. Bagi pencari kerja, pesannya sederhana tetapi penting: kesempatan kerja nasional tetap luas di sektor besar yang menopang ekonomi sehari-hari. Jika Anda tidak bekerja di bidang teknologi murni, Anda tetap bisa meningkatkan daya saing dengan menambahkan keterampilan digital dasar yang relevan dengan sektor tersebut.
Di sisi lain, Indonesia memang menghadapi kebutuhan besar atas talenta digital. BPSDM Komdigi menyebut proyeksi kebutuhan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030, atau rata-rata sekitar 600 ribu orang per tahun [5]. Namun angka ini perlu dipahami sebagai proyeksi kebutuhan, bukan jumlah lowongan pasti yang muncul setiap tahun [5]. Jadi, akan kurang tepat jika angka tersebut dibaca seolah-olah semua orang yang belajar digital pasti langsung mendapat pekerjaan. Yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai sinyal bahwa kemampuan digital semakin dibutuhkan lintas profesi, dan kesenjangan antara kebutuhan serta ketersediaan talenta masih menjadi tantangan [5]. Bagi Anda sebagai pencari kerja, sinyal ini cukup kuat untuk dijadikan dasar upskilling, tetapi tetap harus diterjemahkan secara realistis sesuai bidang yang Anda pilih.
Pelajaran penting lain datang dari World Bank untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. Lembaga ini menjelaskan bahwa teknologi memang membantu menciptakan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas secara total, tetapi manfaatnya lebih banyak dinikmati pekerja terampil. Sebaliknya, pekerja dengan tugas manual dan rutin lebih rentan terdorong ke sektor informal atau terdampak otomatisasi [7]. Untuk pencari kerja di Indonesia, implikasinya sangat jelas. Mengandalkan pekerjaan yang tugasnya sepenuhnya repetitif menjadi semakin berisiko. Yang lebih aman adalah membangun kombinasi antara skill kerja inti, kemampuan digital dasar, dan kesiapan beradaptasi. Dengan begitu, Anda tidak hanya bergantung pada satu jenis tugas yang mudah digantikan sistem.
Kalau diterjemahkan ke keputusan karier sehari-hari, kebutuhan kerja paling mendesak saat ini dapat dipahami sebagai kebutuhan atas orang yang mampu menghasilkan kerja yang dapat dipercaya. Perusahaan butuh karyawan yang bisa memakai teknologi tanpa bergantung buta pada teknologi. Mereka butuh orang yang bisa membaca konteks, memeriksa hasil, menjaga data sensitif, dan mengambil keputusan yang masuk akal [2]. Ini berlaku di banyak bidang: administrasi, pemasaran, keuangan, logistik, layanan pelanggan, pendidikan, kesehatan, manufaktur, bahkan sektor lapangan. Dengan kata lain, yang dicari bukan hanya “pengguna tools”, tetapi pekerja yang menggabungkan alat, pengetahuan bidang, dan penilaian manusia.
Karena itu, jika Anda sedang mencari kerja sekarang, ada baiknya menghindari target belajar yang terlalu luas seperti “saya mau belajar semua tentang AI” atau “saya harus jago coding total dulu baru bisa melamar”. Pendekatan seperti itu sering membuat proses belajar terasa berat dan tidak selesai. Strategi yang lebih efektif adalah mulai dari satu kebutuhan kerja yang nyata. Misalnya, Anda ingin melamar posisi admin operasional. Maka kebutuhan nyatanya bisa berupa kemampuan membuat laporan mingguan dari data transaksi, merapikan data di spreadsheet, membuat ringkasan, dan memeriksa kesalahan. Jika Anda ingin masuk bidang pemasaran, kebutuhannya bisa berupa membaca performa kampanye, menyusun ringkasan insight pelanggan, dan membuat presentasi hasil. Kalau Anda mengincar pekerjaan entry level di teknologi, kebutuhannya bisa berupa membuat proyek sederhana yang benar-benar berjalan dan bisa dijelaskan.
Langkah praktis pertama adalah meninjau beberapa lowongan yang benar-benar ingin Anda lamar. Catat keterampilan yang paling sering muncul. Biasanya Anda akan melihat pola: ada skill wajib, skill tambahan, dan skill yang sebenarnya dapat dipelajari sambil bekerja. Dari sini, Anda bisa menyusun prioritas. Fokuslah pada kemampuan yang paling sering diminta dan paling mungkin dibuktikan dalam waktu dekat. Ini jauh lebih efektif dibanding belajar terlalu banyak topik yang tidak terhubung dengan target kerja Anda.
Langkah kedua adalah belajar dasar-dasarnya secara terstruktur, tetapi jangan berhenti pada teori. Kursus, dokumentasi, modul, atau pelatihan memang berguna sebagai fondasi. Namun bagi pencari kerja, yang lebih menentukan adalah bukti kemampuan. Karena itu, setelah memahami dasar, segera praktikkan. Kerjakan latihan, gunakan data atau kasus yang relevan, dan buat proyek kecil. Proyek ini tidak harus besar. Yang penting, proyek tersebut memperlihatkan bahwa Anda bisa memakai pengetahuan untuk menyelesaikan tugas yang masuk akal di dunia kerja.
Contohnya, jika Anda ingin bekerja di bidang administrasi, Anda bisa membuat contoh laporan stok atau laporan penjualan sederhana dari data mentah. Jika Anda ingin masuk bidang pemasaran, Anda bisa menyusun studi kasus kampanye kecil, menganalisis hasilnya, lalu menjelaskan rekomendasi berikutnya. Jika Anda ingin bekerja di bidang pengembangan perangkat lunak, Anda bisa membangun aplikasi sederhana yang menyelesaikan kebutuhan dasar, lalu menjelaskan fitur, logika, dan cara pengujiannya. Jika target Anda adalah analisis data, Anda bisa menampilkan proses membersihkan data, membuat visualisasi, menarik kesimpulan, dan menulis batasan analisis.
Dalam proses belajar ini, AI memang dapat membantu sebagai pendamping. Anda bisa memanfaatkannya untuk meminta penjelasan konsep, membuat latihan, memberi ide struktur laporan, membantu draf awal, atau mensimulasikan tanya jawab wawancara. Namun, hasil dari AI tetap harus diperiksa. Ini penting terutama untuk informasi teknis, analisis data, kebijakan kerja, atau keputusan yang berisiko. Sudut pandang yang paling aman adalah menganggap AI sebagai asisten belajar, bukan sumber kebenaran tunggal. Sikap ini juga sejalan dengan kebutuhan pasar: perusahaan menghargai orang yang dapat menggunakan teknologi secara efektif sekaligus kritis terhadap hasilnya [2].
Selanjutnya, Anda perlu membangun bukti skill yang mudah ditinjau orang lain. Banyak pencari kerja berhenti pada sertifikat, padahal sertifikat hanya menunjukkan bahwa pelatihan pernah diikuti. Dalam banyak kasus, perekrut lebih tertarik pada bukti bahwa Anda bisa mengerjakan sesuatu. Bentuk buktinya bisa berupa portofolio proyek, contoh analisis, presentasi, ringkasan studi kasus, dokumentasi pekerjaan, repositori kode, atau bahkan tulisan yang menjelaskan cara Anda memecahkan masalah. Bukti semacam ini membuat Anda terlihat lebih siap kerja dibanding pelamar yang hanya mencantumkan daftar skill tanpa contoh.
Komunikasi juga merupakan bagian dari kebutuhan kerja yang mendesak. Banyak pelamar sebenarnya memiliki kemampuan yang cukup, tetapi gagal menjelaskannya dengan jelas. Padahal, perusahaan membutuhkan orang yang tidak hanya bisa mengerjakan tugas, tetapi juga mampu menjelaskan masalah, langkah kerja, hasil, dan batasan secara masuk akal. Maka, setiap kali Anda membuat proyek atau latihan, biasakan menjawab empat pertanyaan ini: apa masalahnya, apa yang Anda lakukan, apa hasilnya, dan apa batasannya. Struktur sederhana ini sangat membantu saat menulis CV, portofolio, atau menjawab pertanyaan wawancara.
Jika diringkas dari data dan tren yang ada, kebutuhan kerja paling mendesak bagi pencari kerja saat ini dapat dipetakan ke dalam beberapa kelompok. Pertama, skill digital dasar yang hampir wajib lintas profesi. Kedua, skill teknologi yang permintaannya naik, seperti AI/data, keamanan siber, dan literasi teknologi [2]. Ketiga, skill manusia yang tetap penting, seperti berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, komunikasi, dan kemauan belajar [2]. Keempat, pengetahuan bidang yang spesifik sesuai sektor target Anda. Kombinasi keempat hal inilah yang membuat seorang pelamar terlihat lebih siap menghadapi pasar kerja yang berubah.
- Jika Anda menargetkan pekerjaan non-teknis, fokuslah pada literasi digital, pengolahan informasi, komunikasi, dan pemahaman proses kerja.
- Jika Anda menargetkan pekerjaan yang dekat dengan data, prioritaskan spreadsheet, kebersihan data, analisis dasar, visualisasi, dan kemampuan menyusun insight.
- Jika Anda menargetkan pekerjaan teknologi, siapkan fondasi teknis yang jelas, proyek yang bisa diuji, serta kemampuan menjelaskan solusi dan keterbatasannya.
- Jika Anda menargetkan sektor operasional dan lapangan, tambahkan kemampuan menggunakan aplikasi kerja, pelacakan data, dokumentasi, dan pemanfaatan alat digital dasar agar produktivitas Anda terlihat lebih tinggi.
Dari sudut pandang strategi karier, pekerjaan yang relatif lebih aman bukanlah pekerjaan yang sama sekali tidak tersentuh teknologi, melainkan pekerjaan yang nilainya meningkat ketika digabungkan dengan teknologi. Misalnya, staf administrasi yang bisa mengelola data dengan rapi dan memeriksa hasil AI akan lebih bernilai dibanding staf yang hanya mengetik ulang informasi. Staf pemasaran yang bisa membaca data kampanye akan lebih kuat dibanding yang hanya mengikuti rutinitas posting. Tenaga operasional yang mampu mendokumentasikan proses dan memanfaatkan aplikasi pelacakan akan lebih menonjol dibanding yang hanya menjalankan instruksi tanpa perbaikan. Intinya, teknologi tidak selalu menggantikan Anda; sering kali teknologi mengubah standar minimum kompetensi Anda.
Hal lain yang perlu dijaga adalah ekspektasi. Data global dari WEF memberi arah, tetapi bukan prediksi pasti untuk setiap negara [1]. Proyeksi kebutuhan talenta digital di Indonesia juga bukan jumlah lowongan riil tahunan [5]. Rata-rata upah nasional dari BPS pun tidak bisa diperlakukan sebagai acuan tunggal karena kondisi tiap provinsi, sektor, dan tingkat pendidikan berbeda [4]. Karena itu, keputusan Anda sebaiknya tidak dibangun dari satu angka saja. Gunakan data makro untuk membaca arah besar, lalu padukan dengan pengamatan lowongan aktual, kebutuhan sektor, dan kemampuan yang paling mungkin Anda bangun dalam waktu dekat.
Bagi pencari kerja, pertanyaan yang paling berguna adalah “bagaimana saya menjadi kandidat yang tetap berguna ketika pekerjaan berubah”. Jawabannya terlihat cukup konsisten dari berbagai sumber: kuasai dasar digital, pahami kebutuhan bidang kerja yang Anda incar, latih kemampuan analitis dan komunikasi, gunakan teknologi secara tepat, lalu tunjukkan hasil kerja yang bisa diperiksa [1][2][3][4][5][7].
Dengan cara pandang seperti ini, proses mencari kerja menjadi lebih terarah. Anda tidak perlu panik menghadapi perubahan pasar, tetapi juga tidak bisa pasif. Pilih satu arah pekerjaan, petakan skill yang paling sering diminta, pelajari dasarnya, bangun proyek kecil, minta umpan balik, dan perbaiki hasilnya. Dalam pasar kerja global dan Indonesia yang berubah cepat, kebutuhan paling mendesak bukan hanya tenaga kerja yang tahu teori, melainkan orang yang bisa belajar ulang, beradaptasi, dan mengubah keterampilan menjadi hasil nyata yang dapat dipercaya.
Sumber data:
[1] World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025: Press Release.
[2] World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025: Skills Outlook.
[3] World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025: Jobs Outlook.
[4] Badan Pusat Statistik, Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2025.
[5] BPSDM Komdigi, publikasi terkait kebutuhan talenta digital Indonesia hingga 2030.
[7] World Bank, Future Jobs: Robots, Artificial Intelligence, and Digital Platforms in East Asia and Pacific.
Sumber Referensi
- Future of Jobs Report 2025: 78 Million New Job Opportunities by 2030 but Urgent Upskilling Needed to Prepare Workforces > Press releases | World Economic Forum
- 3. Skills outlook - The Future of Jobs Report 2025 | World Economic Forum
- 2. Jobs outlook - The Future of Jobs Report 2025 | World Economic Forum
- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,85 persen. Rata–rata upah buruh sebesar 3,33 juta rupiah. - Badan Pusat Statistik Indonesia
- Upaya DTS Kominfo RI Meningkatkan Skill Talenta Digital untuk 2.500 Peserta bersama Google Indonesia - Digital Talent Scholarship - Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia