Kenapa dengan Builder.ai? Dari Janji AI Canggih Hingga Skandal Finansial 2025

← Kembali ke Blogs

Kenapa dengan Builder.ai? Dari Janji AI Canggih Hingga Skandal Finansial 2025

Ditulis olehkukuhtw·
0 unik hari ini 6 unik 7 hari 20 unik 30 hari 147 total unik
Kenapa dengan Builder.ai? Dari Janji AI Canggih Hingga Skandal Finansial 2025
Iklan

Halo, sobat muda! Pernah nggak sih dengar soal Builder.ai? Startup yang awalnya hype banget, janjiin bikin aplikasi pakai AI semudah pesan pizza, tapi kok ending-nya malah ribet dan penuh kontroversi? Yuk, kita kulik bareng kenapa Builder.ai jadi bahan perbincangan hangat di dunia teknologi dan finansial tahun 2025 ini.


1. Latar Singkat & Pendanaan
Builder.ai didirikan di London tahun 2016 oleh dua sosok keren, Sachin Dev Duggal dan Saurabh Dhoot. Mereka bawa konsep platform no-code/low-code dengan asisten AI yang dinamai Natasha. Ide gila? Nggak juga, soalnya konsep no-code itu emang lagi naik daun buat permudah orang bikin aplikasi tanpa harus jago coding.

Gak heran kalau Builder.ai sukses dapetin pendanaan gede-gedean, total lebih dari US$450 juta! Yang paling heboh, di Mei 2023 mereka dapat suntikan dana Series D sebesar US$250 juta dari Qatar Investment Authority (QIA), plus dukungan dari raksasa seperti Microsoft, SoftBank, dan beberapa venture capital top lain. Valuasi mereka sempat nyentuh angka sekitar US$1,5 miliar, alias status unicorn yang bikin banyak startup iri.


2. “AI” yang Ternyata Manual
Tapi, di balik gemerlap itu, ada fakta yang cukup bikin kaget. Sejak 2019, Wall Street Journal udah mengungkap kalau teknologi AI Builder.ai sebenarnya nggak sepenuhnya otomatis. Mereka malah mengandalkan ratusan programmer di India yang kerja manual untuk ngebantu bikin aplikasi. Jadi, klaim “AI murni” itu agak berlebihan dan lebih ke strategi marketing yang catchy aja.


3. Kebobrokan Laporan Keuangan
Masalah makin serius saat laporan keuangan mereka ketahuan nggak jujur. Builder.ai ngaku pendapatan mereka tahun 2024 mencapai US$220 juta di presentasi untuk investor, tapi kenyataannya cuma sekitar US$55 juta. Gila, selisihnya sampai hampir 300%! Ini bikin lender Viola Credit bertindak tegas dengan nyita dana kas sebesar US$37 juta, yang akhirnya bikin perusahaan ini terjebak krisis likuiditas dan harus siap-siap mengajukan insolvensi pada Mei 2025.

Bahkan, Jaksa Federal di Southern District of New York (SDNY), Amerika Serikat, ikut turun tangan dengan melayangkan subpoena alias permintaan dokumen resmi terkait keuangan Builder.ai sebelum pengajuan kebangkrutan. Ini menandakan potensi masalah hukum serius yang bisa jadi pidana.


4. Skema “Round-Tripping” dengan VerSe Innovation
Belum selesai, ada bocoran dokumen yang nunjukin Builder.ai dan VerSe Innovation—perusahaan induk DailyHunt—terlibat dalam praktek round-tripping. Mereka saling mengeluarkan tagihan jasa fiktif dari 2021 sampai 2024 dengan nominal hampir sama, tujuannya buat nggelembungin angka revenue supaya terlihat lebih keren di mata investor. Media besar seperti Bloomberg dan Economic Times sempat mengungkap ini, walau VerSe membantah dan kasusnya masih dalam investigasi.


5. “700 Engineer Menyamar Jadi AI”
Kalau kamu pikir AI Builder.ai itu beneran canggih, coba pikir lagi. Penyelidikan Times of India menunjukkan ada sekitar 700 engineer di India yang diam-diam nulis kode untuk proyek klien mereka, tapi hasilnya diklaim sebagai output dari AI. Jadi, AI-nya cuma branding aja, sementara tenaga manusianya yang kerja keras di balik layar.


6. Runtuhnya Sang Unicorn
Dengan kondisi keuangan yang kritis, Builder.ai punya kas tersisa kurang dari US$10 juta tapi utang cloud ke Microsoft dan Amazon mencapai lebih dari US$115 juta! Akhirnya, mereka resmi masuk proses insolvensi di Inggris dan AS pada Mei 2025. Dampaknya? Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, proyek klien terbengkalai, dan tentu saja investor yang dulu percaya bisa rugi ratusan juta dolar. Sedih banget, kan?


7. Pelajaran bagi Ekosistem AI
Kasus Builder.ai ini jadi peringatan penting buat dunia teknologi dan startup:

  • Audit Teknologi: Demo keren nggak cukup, perlu penilaian independen dan code-walk biar tahu sistem AI-nya beneran berfungsi atau cuma gimmick.
  • Transparansi Pendapatan: Jangan sampai ada praktik gelap seperti reseller bayangan atau round-tripping yang bikin angka pendapatan palsu.
  • Tata Kelola Perusahaan: Dominasi pendiri tanpa pengawasan memudahkan manipulasi dan penyimpangan.
  • Realistis soal Otomatisasi: Platform no-code/low-code harus punya fondasi proses yang jelas dan jujur. Menyembunyikan tenaga manusia di balik label AI cuma bikin kepercayaan pasar hancur.

8. Kronologi Ringkas

Tahun/BulanPeristiwa KunciSumber
Jul 2019Wall Street Journal ungkap “AI” Builder.ai dibantu developer manualWSJ
Mei 2023Series D US$250 juta, valuasi sekitar US$1,5 miliarInvestor Presentation
Mei 2025 (awal)Viola Credit menyita kas, revenue diduga dilebihkan 300%Financial Report & News
Mei 2025 (akhir)Bloomberg bongkar skema round-tripping dengan VerSeBloomberg
Jun 2025Times of India: 700 engineer “menyamar” sebagai AITimes of India

Catatan: Tautan lengkap tersedia di setiap referensi terintegrasi (silakan klik atau ketuk nomor referensi).


Jadi, buat kamu yang tertarik sama dunia startup dan teknologi AI, kasus Builder.ai ini jadi contoh nyata bahwa nggak semua yang kelihatan canggih dan menjanjikan itu benar-benar transparan dan jujur. Penting banget buat kita selalu kritis dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, apalagi saat berurusan dengan investasi dan teknologi yang katanya "revolusioner".


Keep curious, keep learning, dan jangan lupa untuk selalu cek fakta sebelum percaya hype, ya!

Summary Interaktif

Jawaban:
Builder.ai didirikan di London pada tahun 2016 oleh Sachin Dev Duggal dan Saurabh Dhoot dengan konsep platform no-code/low-code yang dibantu asisten AI bernama Natasha untuk memudahkan pembuatan aplikasi tanpa coding. Startup ini berhasil mendapatkan pendanaan lebih dari US$450 juta, termasuk suntikan dana Series D sebesar US$250 juta pada Mei 2023 dari Qatar Investment Authority (QIA), serta dukungan dari Microsoft, SoftBank, dan venture capital lainnya. Valuasi Builder.ai sempat mencapai sekitar US$1,5 miliar, mengantar mereka ke status unicorn.

Jawaban:
Klaim Builder.ai sebagai platform AI murni dianggap menyesatkan karena sejak 2019 Wall Street Journal mengungkap bahwa teknologi AI mereka tidak sepenuhnya otomatis. Builder.ai mengandalkan ratusan programmer di India yang bekerja manual untuk membuat aplikasi, sehingga prosesnya bukan sepenuhnya berbasis AI. Hal ini menunjukkan klaim AI murni lebih merupakan strategi pemasaran daripada kenyataan teknis.

Jawaban:
Builder.ai mengklaim pendapatan sebesar US$220 juta pada tahun 2024 dalam presentasi untuk investor, tetapi kenyataannya pendapatan mereka hanya sekitar US$55 juta, dengan selisih hampir 300%. Karena ketidakjujuran ini, lender Viola Credit menyita dana kas sebesar US$37 juta, menyebabkan perusahaan mengalami krisis likuiditas dan memicu proses insolvensi pada Mei 2025. Selain itu, Jaksa Federal di Southern District of New York mengeluarkan subpoena terkait dokumen keuangan, menandakan potensi masalah hukum serius.

Jawaban:
Skema round-tripping yang melibatkan Builder.ai dan VerSe Innovation adalah praktek saling mengeluarkan tagihan jasa fiktif dari tahun 2021 hingga 2024 dengan nominal hampir sama. Tujuannya adalah untuk menggelembungkan angka pendapatan agar terlihat lebih menarik di mata investor. Skema ini terungkap oleh media seperti Bloomberg dan Economic Times, meskipun VerSe membantah dan kasusnya masih dalam tahap investigasi.

Jawaban:
Investigasi Times of India mengungkap bahwa sekitar 700 engineer di India secara diam-diam menulis kode untuk proyek klien Builder.ai, namun hasil kerja mereka diklaim sebagai output dari AI. Dengan kata lain, AI Builder.ai hanyalah label branding, sementara tenaga manusia sebenarnya yang mengerjakan pembuatan aplikasi.

Jawaban:
Pada tahun 2025, Builder.ai menghadapi kondisi keuangan kritis dengan kas tersisa kurang dari US$10 juta dan utang cloud lebih dari US$115 juta kepada Microsoft dan Amazon. Akibatnya, perusahaan resmi memasuki proses insolvensi di Inggris dan AS, menyebabkan ribuan karyawan kehilangan pekerjaan, proyek klien terbengkalai, dan kerugian besar bagi investor yang telah menanamkan modal ratusan juta dolar.

Jawaban:
Pelajaran penting dari kasus Builder.ai antara lain: perlunya audit teknologi yang independen dan code-walk untuk memastikan sistem AI benar-benar berfungsi; transparansi pendapatan agar menghindari praktik manipulasi seperti reseller bayangan atau round-tripping; tata kelola perusahaan yang baik untuk mencegah dominasi pendiri tanpa pengawasan; serta sikap realistis terhadap otomatisasi, dengan jujur mengungkap peran tenaga manusia di balik platform no-code/low-code agar kepercayaan pasar tetap terjaga.

Jawaban:
Kronologi penting Builder.ai adalah: Juli 2019 Wall Street Journal mengungkap bahwa AI Builder.ai dibantu developer manual; Mei 2023 mendapatkan pendanaan Series D sebesar US$250 juta dengan valuasi sekitar US$1,5 miliar; awal Mei 2025 Viola Credit menyita kas akibat pendapatan yang dilebihkan hampir 300%; akhir Mei 2025 Bloomberg membongkar skema round-tripping dengan VerSe Innovation; dan Juni 2025 Times of India melaporkan sekitar 700 engineer 'menyamar' sebagai AI dalam proyek Builder.ai.
Artikel lain dari penulis ini
Iklan