Jahatnya Doni Salmanan, Indra Kenz, Timothy Ronald dan scammer lainnya

← Kembali ke Blogs

Jahatnya Doni Salmanan, Indra Kenz, Timothy Ronald dan scammer lainnya

Ditulis oleharifrahmawan·
0 unik hari ini 5 unik 7 hari 26 unik 30 hari 26 total unik
Jahatnya Doni Salmanan, Indra Kenz, Timothy Ronald dan scammer lainnya
Iklan

Ada jenis kejahatan yang wajahnya tidak seram. Ia tidak datang dengan golok, tidak mencongkel jendela tengah malam, tidak memakai topeng hitam. Ia datang dengan kamera bening, mobil kinclong, jam mahal, bahasa motivasi, dan senyum yang dilatih agar tampak meyakinkan. Ia tidak berteriak, “Saya mau merugikanmu.” Ia justru berbisik, “Bro, ini peluang. Ini jalan pintas. Ini cara supaya hidup lo naik kelas.” Nah, justru di situlah letak jahatnya: kejahatan yang dibungkus mimpi lebih licin daripada kejahatan yang datang sambil membawa ancaman.


Kalau ada manusia yang tahu di depan ada jurang mematikan, lalu dia dibayar setiap kali ada orang melompat ke sana, lalu dia bikin panggung, pasang lampu, sewa MC, bikin testimoni, dan berteriak bahwa jurang itu adalah gerbang kesuksesan, maka manusia itu bukan sekadar salah. Ia jahat. Bukan karena semua orang yang melompat pasti langsung tamat saat itu juga, tetapi karena ia sengaja mengubah bahaya menjadi tampak seperti harapan. Ia memperdagangkan ilusi. Ia menjual keberanian orang lain untuk ditukar dengan komisi bagi dirinya sendiri.


Analogi jurang ini penting, karena banyak orang masih suka salah paham. Ada yang berkata, “Kan orang dewasa, pilihan masing-masing.” Kalimat ini sepintas terdengar dewasa, padahal sering dipakai untuk mencuci tangan. Memang benar orang punya pilihan. Tapi pilihan yang dibuat di bawah pengaruh promosi menyesatkan, citra sukses palsu, dan informasi yang timpang, itu bukan pilihan yang benar-benar merdeka. Itu seperti mengajak orang masuk hutan malam-malam sambil menyembunyikan fakta bahwa peta yang dipakai sudah dibakar dari awal.


Dalam konteks Indonesia, promosi binary option seperti Binomo dan Quotex bukan isu abu-abu yang cuma diperdebatkan netizen warung kopi. Ada dasar resmi dari otoritas. Satgas Waspada Investasi OJK pada 17 Februari 2022 menyatakan binary option dan broker ilegal yang tidak terdaftar di Bappebti berpotensi merugikan masyarakat. Dalam keterangan itu juga dijelaskan bahwa praktik tersebut ilegal karena bersifat judi, tidak ada barang yang diperdagangkan, dan hanya untung-untungan. Pada rilis yang sama, SWI menyebut telah memanggil sejumlah afiliator atau influencer, termasuk Indra Kesuma dan Doni Muhammad Taufik, yang diduga memfasilitasi promosi Binomo, Quotex, dan platform sejenis [1]. Jadi ini bukan semata soal “konten edukasi finansial” yang gagal dipahami publik. Ini soal promosi atas aktivitas yang oleh otoritas sudah dipandang ilegal dan merugikan [1].


Bappebti juga punya jejak penindakan resmi yang bikin argumen moral ini makin tegas. Pada 8 Januari 2020, Bappebti/Kementerian Perdagangan menyatakan telah memblokir 54 situs entitas ilegal di bidang perdagangan berjangka, termasuk Binomo; total domain yang diblokir sepanjang 2019 disebut 253 domain [2]. Sumber resmi Bappebti yang dirujuk dalam riset juga menunjukkan pada 2021 ada 92 domain binary option yang diblokir [2]. Artinya apa? Artinya pagar peringatan itu sudah dipasang. Lampu merahnya sudah menyala. Tulisan “jangan masuk” sudah ada. Kalau setelah itu masih ada orang yang berdiri di depan gerbang sambil bilang, “Tenang bro, masuk aja, gue juga lewat sini,” maka ia tidak bisa pura-pura jadi penunjuk jalan yang polos.


Di titik ini, kita harus bedakan antara fakta hukum dan penilaian moral. Fakta hukumnya: ada platform binary option yang sudah diperingatkan dan diblokir regulator [1][2]. Fakta hukumnya lagi: perkara Indra Kenz sudah sampai Mahkamah Agung. Direktori Putusan MA mencatat Putusan Nomor 2029 K/Pid.Sus/2023 atas nama Indra Kesuma alias Indra Kenz, diputus 21 Juni 2023, dengan amar “Tolak Terdakwa” dan status berkekuatan hukum tetap [3]. Untuk Doni Salmanan, dasar resminya juga jelas. Siaran pers Kejaksaan menyebut lelang barang rampasan negara milik terpidana Doni Salmanan senilai Rp9,8 miliar dilakukan berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3692 K/Pid.Sus/2023 tanggal 15 Agustus 2023 yang telah inkracht [4]. Sementara untuk Timothy Ronald, kita wajib hati-hati. Dari sumber yang tersedia, statusnya masih sebatas dugaan/laporan yang sedang diusut. Portal resmi Polri berbahasa Inggris menulis pada 13 Januari 2026 bahwa Polda Metro Jaya sedang menyelidiki laporan dugaan penipuan terkait trading kripto yang melibatkan Timothy Ronald sebagai founder Crypto Academy; laporan diterima 9 Januari 2026 dan agenda awalnya pemeriksaan pelapor atau saksi [5]. Jadi menyamakan status hukum semua nama adalah ngawur. Dua nama pertama punya jejak putusan yang jelas [3][4], sedangkan nama terakhir masih berada pada tahap dugaan yang sedang diselidiki [5].


Tapi artikel ini tidak sedang main sulap istilah hukum. Fokusnya adalah mengapa perbuatan semacam itu tampak begitu jahat secara moral. Sebab kejahatannya bukan cuma bohong. Bohong itu satu lapis. Yang lebih gelap adalah asimetri informasi. Si promotor tahu, atau setidaknya patut tahu, bahwa barang yang dipromosikannya sudah diperingatkan regulator. Sementara penonton datang bukan dengan data lengkap, melainkan dengan rasa percaya. Mereka melihat rumah mewah, mobil mewah, gaya hidup mewah, lalu mengira itu adalah bukti bahwa jalannya benar. Padahal kemewahan sering dipakai seperti umpan pancing: bukan untuk menjelaskan sistem, melainkan untuk melumpuhkan nalar.


Bayangkan seorang pemandu wisata tahu jembatan gantung ke air terjun sudah putus di tengah. Ia tahu. Tapi ia tetap jual tiket, tetap pasang poster pemandangan indah, tetap bilang, “Saya sudah sering ke sana.” Bahkan ia rekam video dari sisi jembatan yang masih utuh supaya orang lupa bahwa bagian tengahnya bolong. Nah, kejahatan promosi skema cuan semu mirip begitu. Yang dijual bukan cuma produk atau platform. Yang dijual adalah rasa aman palsu. Dan ketika rasa aman palsu dijual kepada orang yang sedang ingin memperbaiki hidup, dosanya terasa lebih pekat.


Analogi lain: seperti sopir bus yang tahu remnya blong, tapi justru memamerkan kecepatan sebagai tanda kehebatan. Penumpang terpukau karena bus melaju kencang. Mereka pikir kecepatan adalah skill. Mereka tidak tahu bahwa yang disebut skill itu sebenarnya sedang menunggangi kegagalan sistem. Ketika kecelakaan terjadi, baru semua sadar: dari awal ini bukan kendaraan aman, hanya kendaraan yang sempat tampak keren. Dalam banyak promosi skema semu, kekayaan instan dipakai seperti pedal gas yang bikin penonton lupa bertanya tentang rem, izin, pengawasan, dan risiko nyata.


Ada juga analogi bandar permainan. Bandar selalu tahu satu hal yang pemain tidak mau dengar: rumah hampir selalu menang. Namun agar pemain terus duduk, dibuatlah narasi bahwa kalau kalah berarti kurang sabar, kurang ilmu, kurang mental, atau kurang berani. Sistemnya yang miring disamarkan sebagai kekurangan pribadi korban. Ini licik sekali. Karena korban yang rugi akhirnya bukan hanya kehilangan uang, tapi juga diajak menyalahkan diri sendiri. Seolah-olah kalau ia lebih jago sedikit, ia pasti menang. Padahal mungkin dari awal papan permainannya memang disusun agar mayoritas orang menjadi bahan bakar keuntungan segelintir pihak.


Di sinilah jahatnya para promotor semacam ini: mereka menggeser fokus dari struktur yang bermasalah ke psikologi korban. Yang mestinya dibahas adalah legalitas, model bisnis, sifat spekulatif, dan peringatan regulator [1][2]. Tapi yang ditonjolkan justru aura: “mindset pemenang”, “mental kaya”, “yang penting berani”, “yang rugi berarti belum paham.” Bahasa-bahasa seperti ini sering terdengar seperti motivasi, padahal dalam konteks tertentu ia bekerja seperti kabut. Ia menutupi jurang sambil membuat orang merasa pengecut kalau tidak melompat.


Kalau mau pakai analogi kampus: ini seperti senior yang tahu skripsi palsu itu jebakan, tapi tetap menjual jasa instan ke adik tingkat sambil bilang, “Tenang, semua juga gini.” Ia dapat duit. Adik tingkat dapat masalah. Tapi karena yang dijual adalah harapan lulus cepat, banyak orang rela menutup mata pada risiko. Dalam skema cuan semu, yang dijual juga sering bukan transaksi, melainkan shortcut. Orang capek hidup susah. Lalu datang tokoh yang menawarkan jalan pintas dengan bahasa meyakinkan. Di saat itu, promotor sedang bermain bukan cuma dengan uang orang, tapi dengan kelelahan sosial mereka.


Makanya saya bilang, jahatnya bukan hanya pada hasil akhir, tapi pada cara memanfaatkan titik paling rapuh dari manusia: harapan. Calo obat palsu itu jahat bukan sekadar karena botolnya palsu, tetapi karena yang dijual adalah keyakinan pasien. Penjual payung robek di tengah badai itu jahat bukan cuma karena dagangannya jelek, tetapi karena ia menjual rasa aman pada orang yang sedang takut kehujanan. Promotor platform bermasalah juga begitu. Mereka tahu audiensnya sering datang dengan hasrat memperbaiki nasib. Dan justru pada saat itulah ilusi dibungkus rapi lalu dipasarkan seperti solusi.


Ada pembelaan lain yang juga sering muncul: “Kan dia cuma promosi, bukan maksa.” Ini pembelaan tipis seperti tisu kehujanan. Dalam dunia nyata, promosi bukan tindakan netral. Influencer, afiliator, dan figur publik hidup dari pengaruh. Kalau pengaruh itu dipakai untuk mendorong orang masuk ke aktivitas yang sudah diperingatkan atau diblokir regulator, maka klaim “saya cuma merekomendasikan” jadi terdengar seperti orang yang mendorong temannya ke kolam berlumpur lalu bilang, “Saya cuma kasih ide nyemplung.” Pengaruh adalah alat. Dan alat yang dipakai untuk menormalkan bahaya bukan benda polos.


Secara distributif, kebusukan ini juga terasa. Segelintir orang mendapat komisi, afiliasi, popularitas, engagement, dan gaya hidup mewah. Banyak pengikut menanggung risiko dan kerugian. Yang di atas naik panggung. Yang di bawah menanggung jatuhnya. Ini seperti konser yang tiketnya dibayar penonton, tapi yang roboh justru tribun tempat penonton berdiri, sementara artis dan panitia sudah punya akses keluar darurat. Ketimpangan moralnya mencolok: keuntungan dikumpulkan privat, tetapi risikonya disebar ke massa.


Poin penting lain: kemewahan itu sendiri sering dipakai sebagai argumen palsu. Seolah-olah kalau seseorang sukses secara visual, maka cara dia sampai ke sana otomatis sahih secara moral. Padahal logika itu cacat dari akar. Lampu neon di toko tidak membuktikan barang di dalamnya asli. Cat kinclong pada kapal tidak membuktikan lambungnya tidak bocor. Banyak orang tertipu bukan oleh data, tapi oleh estetika keberhasilan. Dan para promotor paham sekali kekuatan estetika ini. Mereka tahu satu foto di mobil sport bisa mengalahkan sepuluh halaman penjelasan regulasi di mata publik yang sedang lapar akan simbol naik kelas.


Fakta hukum terhadap Indra Kenz dan Doni Salmanan memberi pelajaran keras bahwa ini bukan sekadar drama konten. Untuk Indra Kenz, perkara pidananya telah berujung pada putusan kasasi Mahkamah Agung yang menolak upaya terdakwa [3]. Untuk Doni Salmanan, status terpidana berkekuatan hukum tetap juga tampak dari proses lelang barang rampasan negara yang didasarkan pada putusan MA yang telah inkracht [4]. Dua fakta ini penting karena menunjukkan bahwa urusannya sudah keluar dari wilayah rumor media sosial dan masuk ke wilayah putusan negara [3][4]. Ketika negara melalui otoritas dan lembaga peradilan sudah bergerak sejauh itu, publik sebenarnya mendapat pesan yang cukup terang: ini bukan permainan biasa.


Sementara itu, dalam menyebut Timothy Ronald, kita harus menjaga disiplin berpikir. Dari sumber yang ada, yang bisa dikatakan baru sebatas ada laporan dugaan penipuan terkait trading kripto yang sedang diusut polisi [5]. Belum ada putusan pengadilan dalam catatan riset yang disediakan. Jadi, kalau nama itu masuk dalam diskusi, posisinya harus sebagai contoh penting tentang bagaimana publik perlu kritis pada pola promosi, janji cuan, dan asimetri informasi, tanpa melompati proses hukum [5]. Ini justru pelajaran penting buat kita semua: semangat mengkritik jangan sampai berubah jadi fitnah. Kritik yang kuat itu bukan yang liar, tapi yang presisi.


Dan presisi itu bikin argumen moral kita malah lebih tajam. Kita tidak perlu mengarang angka korban, tidak perlu melebih-lebihkan seolah semua pelaku “membunuh” secara literal, dan tidak perlu mengubah dugaan menjadi vonis. Cukup pegang yang sudah terang: ada praktik yang oleh otoritas dinilai ilegal dan merugikan [1]; ada platform yang diblokir [2]; ada pihak-pihak tertentu yang telah berujung pada putusan berkekuatan hukum tetap [3][4]; ada pula dugaan kasus lain yang masih diselidiki [5]. Dari situ saja sudah kelihatan betapa busuknya pola yang berulang: menjual mimpi, menutupi risiko, lalu menikmati hasil dari ketidaktahuan orang lain.


Kalau mau dibuat lebih sederhana lagi, ini seperti makelar rumah yang tahu fondasinya retak, tahu atapnya mau roboh, tahu surat-suratnya bermasalah, tapi tetap bikin video sinematik dengan musik haru sambil berkata, “Rumah impian keluarga muda.” Orang beli bukan cuma tembok. Orang beli masa depan. Ketika masa depan dijadikan alat transaksi oleh orang yang tahu ada kerusakan mendasar, di situ ada unsur kebejatan moral yang susah dibantah.


Masalahnya, masyarakat kita gampang terhipnotis oleh narasi “dari nol ke miliaran.” Bukan karena bodoh, tapi karena realitas ekonomi memang keras. Ketika kerja jujur terasa lambat, tawaran jalan cepat tampak seperti oase. Para promotor skema semu paham psikologi ini. Mereka masuk seperti pedagang air di padang pasir, padahal yang dijual kadang cuma fatamorgana dalam botol. Dari jauh mengilap. Dari dekat tidak menghilangkan haus. Tetapi karena orang sudah telanjur berharap, botol kosong pun bisa diperebutkan.


Di sinilah publik perlu belajar membedakan edukasi dan teatrikal. Edukasi mengajak orang paham risiko, legalitas, mekanisme, batasan, serta kemungkinan rugi dengan bahasa jernih. Teatrikal mengajak orang silau oleh hasil, cepat oleh tempo, dan tumpul oleh emosi. Edukasi tidak takut pada pertanyaan sulit. Teatrikal justru menenggelamkan pertanyaan sulit dalam lautan gimmick. Edukasi menjelaskan. Teatrikal memukau. Dan dalam urusan uang, hal yang paling memukau justru sering yang paling berbahaya.


Kalau seseorang tahu regulator sudah memberi peringatan, tahu platform sudah diblokir, tahu ada problem mendasar pada skema yang dipromosikan, lalu tetap mengajak orang masuk sambil memoles citra sukses, maka secara moral ia sedang melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar salah analisis. Ia sedang memanfaatkan kepercayaan publik sebagai tambang. Orang-orang dijadikan sumber referral, sumber komisi, sumber trafik, sumber legitimasi. Mereka bukan diperlakukan sebagai manusia yang perlu dilindungi, tapi sebagai angka yang bisa dikonversi.


Dan jangan lupakan satu lapisan lagi: normalisasi. Kejahatan model begini berbahaya karena kalau dibiarkan, ia mengubah standar moral publik. Anak muda bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa kaya cepat lebih penting daripada kaya benar. Bahwa selama tampil meyakinkan, detail legalitas bisa dikesampingkan. Bahwa korban yang rugi cukup disuruh “belajar lagi.” Ini seperti membiarkan asap tipis memenuhi ruangan sedikit demi sedikit. Orang tidak langsung pingsan. Justru itu bahayanya. Lama-lama semua terbiasa bernapas dalam udara yang rusak.


Maka alasan mengapa praktik seperti ini terasa begitu jahat adalah karena ia merusak di banyak lapis sekaligus:


  • Ia merusak individu, karena mendorong orang masuk ke aktivitas ilegal atau berisiko tinggi yang oleh otoritas dinilai merugikan masyarakat [1].
  • Ia merusak nalar publik, karena kemewahan dipakai untuk menggantikan argumen.
  • Ia merusak rasa percaya, karena figur publik yang mestinya bisa mengedukasi malah menyesatkan.
  • Ia merusak moral sosial, karena komisi pribadi diletakkan di atas keselamatan finansial banyak orang.
  • Ia merusak standar diskusi, karena kritik dibalas dengan glorifikasi “mindset” alih-alih penjelasan fakta.


Kalau ada yang masih bertanya, “Memangnya separah itu?” saya akan balik dengan analogi paling sederhana: bayangkan ada orang berdiri di tepi jurang. Ia tahu jurang itu dalam. Ia tahu tanah di pinggirnya rapuh. Ia tahu banyak yang di belakangnya tidak bisa melihat langsung. Lalu ia pasang spanduk, “Ini jalan menuju puncak.” Ia bagikan brosur. Ia rekam testimoni dari dua orang yang kebetulan belum jatuh. Ia dapat bayaran tiap kali ada yang melangkah mendekat. Apakah kita akan menyebut dia sekadar kreator yang salah promosi? Atau kita akan mengakui bahwa ada kebejatan moral ketika keselamatan orang lain ditukar dengan keuntungan pribadi?


Buat saya, jawabannya jelas. Jahatnya bukan karena mereka punya uang. Bukan juga karena mereka terkenal. Jahatnya adalah ketika uang dan ketenaran dipakai untuk mendorong publik masuk ke arena yang pagar pengamannya sudah dicabut, lalu ilusi kemenangan dijual seolah itu nasihat tulus. Itulah sebabnya kritik terhadap promosi binary option dan skema cuan semu perlu terus dinyalakan. Bukan demi drama. Bukan demi kebencian personal. Tapi demi menjaga kewarasan publik agar tidak lagi mengira lampu panggung adalah matahari.


Pelajaran akhirnya sederhana, meski pahit: tidak semua yang tampak sukses layak dipercaya, tidak semua yang viral layak diikuti, dan tidak semua yang bicara cuan sedang bicara kebenaran. Dalam kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan, jejak hukum resminya sudah berbicara [3][4]. Dalam kasus dugaan yang melibatkan Timothy Ronald, proses hukum masih berjalan sehingga publik wajib kritis tanpa sembrono [5]. Tetapi terlepas dari perbedaan status hukum itu, ada benang merah yang harus kita lawan bersama: budaya memoles bahaya jadi peluang, budaya menjual harapan tanpa tanggung jawab, dan budaya menjadikan ketidaktahuan orang lain sebagai mesin uang.


Kalau dunia finansial adalah jalan raya, maka promotor skema semu adalah orang-orang yang mengecat jurang menjadi seperti tol baru. Tugas kita bukan tepuk tangan pada catnya yang rapi, melainkan memastikan orang-orang tahu bahwa di balik warna mengilap itu tidak ada jalan, hanya jatuh. Dan ketika ada yang sudah tahu itu jurang tapi tetap menyuruh orang meloncat karena ada komisi menunggu di belakang, ya mari kita sebut apa adanya: itu bukan sekadar keliru. Itu jahat.


Sumber: [1] OJK/Satgas Waspada Investasi; [2] Bappebti/Kemendag; [3] Direktori Putusan Mahkamah Agung; [4] Siaran pers Kejaksaan tentang lelang barang rampasan negara terpidana Doni Salmanan; [5] Portal resmi Polri mengenai penyelidikan laporan dugaan penipuan kripto yang melibatkan Timothy Ronald.


Sumber Referensi

  1. SWI Minta Masyarakat Waspadai Penawaran Binary Option dan Broker Ilegal
  2. BERITA PERDAGANGAN — Lindungi Masyarakat dari Investasi Ilegal, Kemendag Blokir 54 Domain Entitas Ilegal Termasuk Binomo
  3. Putusan MAHKAMAH AGUNG Nomor 2029 K/Pid.Sus/2023 — INDRA KESUMA alias INDRA KENZ
  4. Badan Pemulihan Aset Lelang Barang Rampasan Negara Terpidana Doni Salmanan Senilai Rp9,8 Miliar
  5. Police to Investigate the Alleged Crypto Scam Involving Known Public Figure


Artikel lain dari penulis ini
Iklan