Istilah SaaSpocalypse terdengar dramatis, seolah-olah industri software berbasis langganan akan runtuh dalam waktu dekat. Namun bila disederhanakan, inti persoalannya bukan bahwa software akan lenyap, melainkan bahwa cara software dibuat, digunakan, dan dijual sedang berubah cepat karena kemajuan AI. Dalam bahasa yang mudah dipahami, AI tidak sedang “membunuh” software. AI sedang mengambil alih sebagian pekerjaan yang sebelumnya mengharuskan manusia membuka aplikasi, menekan tombol, memindahkan data, lalu menyusun tindak lanjut secara manual.
Perubahan inilah yang membuat banyak perusahaan software mulai gelisah pada 2026. Di satu sisi, investor dan pelaku industri melihat risiko bahwa banyak aplikasi lama bisa kehilangan daya tarik jika tugas-tugas administratif dapat dikerjakan oleh AI agent. Di sisi lain, data pasar justru menunjukkan belanja software global masih bertumbuh besar. Karena itu, pembahasan yang paling tepat bukan “SaaS mati”, melainkan “SaaS sedang dipaksa berevolusi”.
Agar mudah dipahami, kita perlu melihatnya secara kronologis.
Pada 2021, industri SaaS berada di puncak optimisme. Model bisnisnya dianggap sangat menarik: perusahaan membuat aplikasi, menjual langganan bulanan atau tahunan, lalu menikmati pendapatan berulang. Investor menyukai model ini karena lebih mudah diprediksi dibanding bisnis perangkat lunak lama yang hanya menjual lisensi sekali beli. Banyak perusahaan teknologi saat itu dihargai sangat tinggi karena diyakini akan terus tumbuh selama dunia kerja semakin digital.
Salah satu simbol era tersebut adalah Airtable. Pada 13 Desember 2021, Airtable mengumumkan pendanaan sebesar US$735 juta dengan valuasi pra-uang sekitar US$11 miliar [4]. Angka ini penting bukan hanya karena besar, tetapi karena mencerminkan suasana zaman: pasar percaya software berbasis cloud, kolaborasi, dan langganan akan terus naik nilainya. Di mata banyak orang, SaaS saat itu seperti mesin pertumbuhan modern.
Namun memasuki 2026, suasananya mulai bergeser. AI generatif berkembang dari sekadar alat bantu menulis atau merangkum menjadi sistem yang mulai mampu menjalankan instruksi kerja. Perubahannya tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Dulu manusia harus membuka CRM, membaca riwayat pelanggan, membuat email tindak lanjut, memperbarui jadwal, lalu memasukkan data kembali ke sistem. Sekarang muncul gagasan baru: bagaimana jika manusia cukup memberi tujuan, lalu AI yang membuka aplikasi-aplikasi itu dan menyelesaikan rangkaian pekerjaan?
Dalam model lama, software dirancang dengan asumsi bahwa manusia adalah operator utama. Nilai sebuah aplikasi sangat bergantung pada antarmuka pengguna, tombol, menu, formulir, dan dashboard yang rapi. Dalam model baru, AI agent mulai diposisikan sebagai operator. Manusia memberi perintah seperti, “Tindak lanjuti semua prospek yang kemungkinan besar tutup transaksi bulan ini,” lalu AI memeriksa CRM, email, kalender, basis data, dan saluran komunikasi lain untuk mengerjakan langkah-langkah operasional. Jika pola ini meluas, maka pusat nilai software bisa bergeser dari tampilan antarmuka menuju data, integrasi, izin akses, konteks kerja, dan kemampuan mengeksekusi tindakan.
Inilah latar yang membuat Gartner pada 30 Maret 2026 menggunakan judul webinar resmi “SaaSpocalypse” dan menyatakan sekitar US$234 miliar belanja enterprise application software akan terekspos pada apa yang mereka sebut sebagai agentic arbitrage [1]. Maknanya perlu dijelaskan dengan hati-hati. “Terekspos” bukan berarti uang itu otomatis hilang seluruhnya. Maksudnya, sebagian besar pengeluaran perusahaan untuk aplikasi enterprise berpotensi mengalami tekanan, pergeseran nilai, atau perubahan model karena AI agent bisa mengambil alih tugas yang dulu terkunci di aplikasi berbasis antarmuka pengguna.
Bagi pembaca awam, gambaran sederhananya seperti ini. Selama ini perusahaan membeli banyak software karena pegawainya harus memakai masing-masing aplikasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Jika suatu hari AI bisa menjadi “pegawai digital” yang mengoperasikan banyak aplikasi sekaligus, maka perusahaan tidak lagi hanya bertanya, “Aplikasi apa yang harus kami beli?” Mereka mulai bertanya, “Pekerjaan apa yang bisa langsung diselesaikan?” Pertanyaan ini terlihat sepele, tetapi secara bisnis mengubah cara produk dinilai.
Dari sinilah muncul pergeseran dari menjual tools menuju menjual hasil. Model SaaS tradisional biasanya berbunyi: perusahaan menyediakan software untuk sejumlah pengguna, lalu pelanggan membayar per kursi atau per seat. Contohnya, 100 agen layanan pelanggan berarti 100 lisensi. Dalam model yang dipengaruhi AI, penawaran bisa berubah menjadi: kirimkan pertanyaan pelanggan Anda ke sistem kami, lalu bayar berdasarkan jumlah masalah yang berhasil diselesaikan. Di sini yang dijual bukan lagi alat, melainkan outcome. Dalam beberapa kasus, software bahkan mulai menyerupai tenaga kerja digital.
Pergeseran itu membuat pertanyaan strategis bagi perusahaan software menjadi jauh lebih berat. Dulu banyak pendiri perusahaan bertanya, “Fitur apa lagi yang harus kami tambahkan?” Sekarang pertanyaannya berubah menjadi, “Kalau fitur kami dapat ditiru atau dibangun ulang dengan sangat cepat menggunakan AI, mengapa pelanggan harus tetap memakai produk kami?”
Pertanyaan ini penting karena biaya pembuatan software memang semakin turun. Alat pengembangan modern, layanan cloud, komponen siap pakai, integrasi otomatis, dan asisten coding berbasis AI membuat banyak aplikasi lebih cepat dibuat dibanding beberapa tahun lalu. Konsekuensinya, fitur yang dangkal makin sulit dijadikan keunggulan jangka panjang. Bila nilai produk hanya sebatas formulir, dashboard, notifikasi, atau lapisan antarmuka di atas model AI umum, maka produk itu lebih rentan disalin oleh pesaing baru.
Karena itu, pembeda yang kini dianggap lebih kuat bukan lagi sekadar jumlah fitur. Yang lebih sulit ditiru biasanya adalah:
- data historis yang unik dan kaya konteks,
- workflow yang sudah tertanam dalam proses organisasi,
- integrasi ke banyak sistem internal dan eksternal,
- kepercayaan pelanggan,
- pemahaman domain industri,
- distribusi pasar, komunitas, dan ekosistem.
Dengan kata lain, AI menekan SaaS yang nilainya dangkal, tetapi tidak otomatis melemahkan semua software. Justru aplikasi yang menyimpan data penting, memegang alur kerja kritis, atau menjadi simpul integrasi perusahaan dapat tetap kuat, bahkan mungkin lebih penting, karena AI membutuhkan fondasi itu untuk bekerja.
Di tengah kekhawatiran tersebut, ada satu fakta yang sering terlewat: pasar software secara keseluruhan belum menunjukkan tanda runtuh. Dalam rilis 3 Februari 2026, Gartner memproyeksikan belanja software global pada 2026 mencapai sekitar US$1,43 triliun, naik 14,7% dibanding 2025 [2]. Angka ini sangat penting karena menjadi penyeimbang terhadap narasi panik. Jika software benar-benar sedang “mati”, seharusnya kita melihat penurunan belanja besar-besaran. Yang terjadi justru sebaliknya: pengeluaran tetap tumbuh, hanya saja bentuk kebutuhannya mulai bergeser.
Ini berarti dua hal bisa benar pada saat bersamaan. Pertama, sebagian belanja software memang terekspos perubahan akibat AI agent [1]. Kedua, pasar software total tetap membesar [2]. Jadi, problem utamanya bukan lenyapnya software, melainkan redistribusi nilai di dalam industri software itu sendiri.
Perubahan sentimen ini menjadi lebih mudah dipahami melalui kasus Airtable. Seperti telah disebutkan, Airtable pada 2021 menjadi salah satu simbol kejayaan valuasi SaaS dengan pendanaan US$735 juta dan valuasi pra-uang US$11 miliar [4]. Namun pada 4 Agustus 2026, Axios melaporkan bahwa Bending Spoons setuju mengakuisisi Airtable dengan nilai transaksi sekitar US$1,29 miliar tunai, dengan implied equity value sekitar US$2,25 miliar jika memperhitungkan kas dan setara kas [5].
Bagi pembaca awam, angka-angka ini tidak harus dibaca sebagai bukti bahwa Airtable “gagal” atau bahwa software “tidak laku”. Lebih tepat bila dibaca sebagai simbol perubahan cara pasar memberi harga pada perusahaan software. Di era euforia, investor bersedia membayar sangat mahal untuk pertumbuhan dan narasi digitalisasi. Di era AI, investor mulai lebih keras bertanya: seberapa kuat keunggulan produk ini bila antarmuka dan fitur-fiturnya bisa ditantang oleh AI agent, otomatisasi, atau pesaing baru yang membangun lebih cepat?
Karena itu, akuisisi Airtable lebih tepat dipandang sebagai tanda repricing, bukan sebagai bukti kematian industri. Pasar sedang menilai ulang apa yang benar-benar bernilai dalam software. Nilai yang semula melekat pada “aplikasi bagus dengan model langganan” mulai berpindah ke “sistem yang punya data, workflow, integrasi, dan posisi kuat dalam operasi bisnis”.
Di saat yang sama, penting juga untuk tidak terseret hype berlebihan. Banyak pembicaraan tentang AI agent memberi kesan bahwa pada 2026 sistem semacam ini sudah mampu menggantikan hampir semua pekerjaan digital. Fakta teknisnya belum seperti itu. Paper SaaS-Bench yang terbit di arXiv pada Mei 2026 menguji AI agent pada 23 sistem SaaS nyata, mencakup 6 domain profesional dan 106 tugas kerja. Hasilnya, model terbaik hanya mampu menyelesaikan kurang dari 4% alur kerja kompleks secara penuh dari awal sampai akhir [3].
Temuan ini sangat penting karena memberi landasan yang lebih realistis. AI agent memang menjanjikan, tetapi reliabilitasnya untuk workflow profesional yang rumit masih rendah. Banyak kendala yang belum beres, antara lain perencanaan jangka panjang, pengelolaan konteks, pelacakan status, koordinasi antar-aplikasi, pemulihan kesalahan, izin akses, keamanan, dan kecenderungan menghasilkan jawaban yang keliru [3].
Artinya, skenario yang paling masuk akal dalam waktu dekat bukanlah “AI menggantikan seluruh software”, melainkan:
- AI mengambil alih sebagian pekerjaan rutin,
- AI membantu menavigasi banyak aplikasi,
- manusia tetap mengawasi keputusan penting,
- software tetap ada sebagai infrastruktur inti.
Dalam praktiknya, masa depan kemungkinan lebih mirip kombinasi antara AI, software, dan tata kelola manusia. Seorang manajer tidak harus membuka sepuluh aplikasi berbeda setiap hari. Ia cukup memberi tujuan, lalu AI menyiapkan rekomendasi, draft tindakan, atau rangkaian langkah yang perlu disetujui. Namun di belakang layar, CRM, sistem billing, email, database, kalender, dan ERP tetap berjalan. Jadi software tidak hilang; software justru turun satu lapisan menjadi mesin operasional yang lebih sering “dipakai” AI daripada dipakai langsung manusia.
Di titik ini, kita bisa melihat mengapa istilah SaaSpocalypse terasa menakutkan sekaligus menyesatkan. Ia tepat bila dipakai untuk menggambarkan tekanan besar pada model SaaS lama, terutama yang terlalu bergantung pada antarmuka pengguna dan penjualan per lisensi pengguna. Tetapi istilah itu menyesatkan bila dipahami sebagai akhir dari semua bisnis software.
Perusahaan yang paling rentan umumnya memiliki ciri-ciri berikut:
- nilai produk hanya berupa formulir, CRUD, dashboard, dan notifikasi,
- diferensiasi utamanya sekadar kemudahan antarmuka,
- lapisan AI yang dipakai hanya tambahan di atas model umum,
- tidak memiliki data unik, integrasi dalam, atau ketergantungan workflow pelanggan.
Sebaliknya, perusahaan yang cenderung lebih tahan biasanya memiliki:
- data yang kaya dan sulit dipindahkan,
- integrasi ke banyak sistem penting,
- kepercayaan tinggi dari pelanggan,
- kepatuhan, audit, dan kontrol akses yang matang,
- penguasaan proses bisnis yang spesifik dan sulit direplikasi.
Inilah sebabnya mengapa dalam beberapa tahun ke depan kita mungkin melihat perubahan besar pada model harga software. Model lama yang mengandalkan per pengguna bisa menghadapi tekanan ketika satu tim manusia mampu dibantu banyak agent. Jika jumlah pengguna manusia berkurang, pendapatan per kursi menjadi kurang ideal. Karena itu, arah eksperimen harga kemungkinan bergerak ke penggunaan, tindakan, workflow, atau bahkan hasil akhir. Logikanya sederhana: pelanggan semakin ingin membayar karena pekerjaan selesai, bukan semata-mata karena mereka diberi akses ke sebuah aplikasi.
Dari sisi bisnis, perubahan ini sangat mendasar. Pada era software tradisional, nilai utama adalah kepemilikan alat. Pada era SaaS, nilai utamanya bergeser menjadi akses berlangganan. Pada era AI, nilai dapat bergerak ke kombinasi antara kecerdasan, data, workflow, dan tindakan. Pelanggan tidak terlalu peduli teknologi apa yang dipakai di belakang layar. Mereka lebih peduli apakah penjualan naik, masalah pelanggan selesai, risiko churn turun, atau operasi menjadi lebih efisien.
Karena itu, bagi pendiri dan pengelola perusahaan software, pertanyaan penting saat ini bukan sekadar “bagaimana menambahkan AI ke produk kami?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Jika AI menjadi operator utama aplikasi kami, seperti apa produk kami seharusnya?” Lalu pertanyaan yang lebih tajam lagi: “Jika coding dan kecerdasan semakin murah, apa yang tetap sulit ditiru dari bisnis kami?”
Jawaban yang paling masuk akal bukan source code semata. Yang lebih mungkin menjadi benteng adalah data, distribusi, workflow, integrasi, ekosistem, kepercayaan, serta pengetahuan domain. Dengan kata lain, kompetisi software ke depan bisa menjadi kurang soal “siapa punya fitur terbanyak” dan lebih soal “siapa memiliki posisi paling kuat di dalam operasi nyata pelanggan”.
Jika ditarik ke level yang lebih luas, pergeseran ini juga membantu menjelaskan mengapa suasana pasar tampak kontradiktif. Ada headline yang menggambarkan ancaman AI terhadap aplikasi enterprise [1], ada simbol penurunan valuasi SaaS lewat kasus Airtable [4][5], tetapi ada pula data makro bahwa pengeluaran software global tetap naik [2]. Semua itu bisa benar bersamaan karena yang sedang berubah adalah struktur nilainya. Sebagian software akan kehilangan kemewahan penilaian tinggi. Sebagian lain akan memperoleh peran baru sebagai fondasi bagi era software yang lebih agentic.
Maka, apakah SaaS benar-benar akan mati? Jawaban yang paling hati-hati adalah: tidak, tetapi bentuk lamanya sedang diuji keras. SaaS yang hanya menjual akses ke fitur-fitur dangkal berisiko besar tertekan. SaaS yang mampu berubah menjadi sistem berbasis outcome, automasi, dan integrasi justru bisa menemukan pertumbuhan baru. Dalam arti ini, 2026 bukan sekadar masa kiamat software, melainkan masa seleksi alam bagi bisnis software.
Kesimpulan akhirnya sederhana. AI datang bukan untuk menghapus kebutuhan akan software. AI datang untuk mengubah siapa yang memakai software, bagaimana software memberi nilai, dan bagaimana pelanggan ingin membayarnya. Dulu orang memakai software. Kini orang mulai memberi tujuan kepada AI, lalu AI yang memakai software untuk mereka. Selama perusahaan software memahami perubahan ini, ancaman SaaSpocalypse juga bisa dibaca sebagai kesempatan besar untuk membangun generasi produk berikutnya.
Jadi, istilah yang lebih akurat mungkin bukan “SaaS apocalypse”, melainkan “SaaS evolution”. Industri ini tidak sedang berakhir. Industri ini sedang dipaksa naik kelas.
Referensi
- [1] Gartner Webinar, SaaSpocalypse - $234B of Enterprise Apps Spending Will be Exposed to Agentic Arbitrage: https://www.gartner.com/en/webinar/844664/1853733-saaspocalypse-234b-of-enterprise-apps-spending-will-be-exposed-to-agentic-arbitrage
- [2] Gartner Press Release, Forecasts Worldwide IT Spending to Grow 10.8% in 2026, Totaling $6.15 Trillion: https://www.gartner.com/en/newsroom/press-releases/2026-02-03-gartner-forecasts-worldwide-it-spending-to-grow-10-point-8-percent-in-2026-totaling-6-point-15-trillion-dollars
- [3] arXiv, SaaS-Bench: Can Computer-Use Agents Leverage Real-World SaaS to Solve Professional Workflows?: https://arxiv.org/abs/2605.15777
- [4] Airtable Newsroom, Airtable secures $735M to invest in its connected apps platform: https://www.airtable.com/newsroom/series-f
- [5] Axios, Bending Spoons agrees to buy Airtable: https://www.axios.com/2026/08/04/bending-spoons-airtable
Catatan penting: Artikel ini membedakan fakta dan analisis. Fakta utama tentang proyeksi belanja software, risiko belanja aplikasi enterprise, studi kemampuan AI agent, pendanaan Airtable 2021, dan akuisisi Airtable 2026 mengacu pada sumber [1] sampai [5]. Sementara itu, penjelasan mengenai implikasi bisnis, perubahan pusat nilai software, dan arah evolusi model SaaS merupakan analisis yang disusun dari fakta-fakta tersebut agar mudah dipahami pembaca awam.
Sumber Referensi
- Gartner webinar: SaaSpocalypse - $234B of Enterprise Apps Spending Will be Exposed to Agentic Arbitrage
- Gartner press release: Forecasts Worldwide IT Spending to Grow 10.8% in 2026, Totaling $6.15 Trillion
- arXiv paper: SaaS-Bench: Can Computer-Use Agents Leverage Real-World SaaS to Solve Professional Workflows?
- Airtable newsroom: Airtable secures $735M to invest in its connected apps platform
- Axios: Bending Spoons agrees to buy Airtable