Anthropic baru aja ngeluarin riset super keren tentang apa sih yang sebenernya diinginkan sama 81.000 orang dari AI. Jadi, selama satu minggu di Desember 2025, mereka wawancara pengguna Claude.ai dari 159 negara dalam 70 bahasa. Bayangin, hampir 81 ribu orang kasih pendapat mereka soal AI!

Data segede itu dianalisis pake Claude juga buat ngeklasifikasi percakapan. Dari situ, ketauan nih apa aja harapan dan kekhawatiran orang tentang AI. Yuk, kita kulik bareng-bareng!
Apa yang Orang Inginkan dari AI?
Ketika ditanya, "Kalo punya tongkat ajaib, apa yang pengen AI lakuin buat kamu?" Jawabannya dibagi jadi 9 kategori utama:
- Keunggulan Profesional (18,8%) - Orang pengen AI ngurusin tugas-tugas ngebosenin biar bisa fokus ke hal penting dan bermakna. Seperti petugas kesehatan di AS yang bilang dokumentasi pake AI bikin dia lebih sabar ke pasien.
- Transformasi Pribadi (13,7%) - Mulai dari AI sebagai partner berpikir, bantuan kesehatan mental, sampai koneksi romantis sama AI.
- Manajemen Kehidupan (13,5%) - Khususnya di negara maju, AI dipake buat ngatur beban administratif. Orang dengan ADHD ngerasa AI kaya "perancah" buat bantu perencanaan dan ingatan.
- Kebebasan Waktu (11,1%) - Awalnya sih ngomongin produktivitas, tapi ujung-ujungnya pengen punya waktu lebih buat keluarga. Contohnya pekerja di Kolombia yang bisa masak bareng ibunya karena AI.
- Kemandirian Finansial (9,7%) - AI dipake buat keluar dari tekanan ekonomi, terutama di negara berkembang.
- Transformasi Sosial (9,4%) - Harapan AI bisa bantu deteksi kanker lebih awal, percepat penemuan obat, dan kasih akses pendidikan berkualitas ke semua orang.
- Kewirausahaan (8,7%) - Kuat di Afrika, Asia Selatan & Tengah, dan Amerika Latin. AI jadi jalan buat buka bisnis tanpa modal gede.
- Pembelajaran & Pertumbuhan (8,4%) - Penting banget di Asia Selatan & Tengah buat keluar dari kemiskinan lewat pendidikan.
- Ekspresi Kreatif (5,6%) - Paling kecil, tapi ada yang pengen AI jadi partner kreatif mereka.
Udah Berhasil Belum AI?
Sekitar 81% orang bilang AI udah mulai ngasih hasil. Mereka ngerasain manfaat di beberapa area kayak:
- Produktivitas (32%) - Developer ngerasain percepatan gila-gilaan, ada yang bisa motong kerjaan 173 hari jadi cuma 3 hari aja.
- AI Belum Berhasil (18,9%) - Ada juga yang belum ngerasa manfaat nyata.
- Kemitraan Kognitif (17,2%) - AI jadi temen ngobrol dan mikir yang selalu available dan gak pernah bosen.
- Pembelajaran (9,9%) - Kisah-kisah inspiratif seperti ibu rumah tangga belajar sains, dan software engineer Ukraina yang belajar coding dan dapet kerjaan.
- Aksesibilitas Teknis (8,7%) - AI bantu orang dengan keterbatasan, dari gangguan belajar sampai yang bisu bisa bikin bot text-to-speech.
- Sintesis Riset (7,2%) & Dukungan Emosional (6,1%) - Contohnya seseorang yang dapat diagnosis tepat setelah 9 tahun salah diagnosa berkat AI.
Kisah paling mengharukan datang dari Ukraina, di mana prajurit dan warga sipil yang kena dampak perang nemuin AI sebagai teman yang ngangkat mereka dari kegelapan emosi.
Wah, Tapi Orang Juga Punya Kekhawatiran Lho!
Rata-rata setiap orang punya 2-3 kekhawatiran beda soal AI, antara lain:
- Ketidakandalan (halusinasi, kesalahan) - 26,7%
- Pekerjaan & Ekonomi - 22,3%
- Otonomi & Kemandirian Manusia - 21,9%
- Atrofi Kognitif (pikiran melemah) - 16,3%
- Tata Kelola AI - 14,7%
- Misinformasi - 13,6%
- Surveilans & Privasi - 13,1%
- Penyalahgunaan Berbahaya - 13,0%
- Makna & Kreativitas - 11,7%
- Pembatasan Berlebihan - 11,7%
- Kesejahteraan & Ketergantungan - 11,2%
- Sycophancy (AI terlalu setuju) - 10,8%
- Risiko Eksistensial - 6,7%
Kekhawatiran soal pekerjaan dan ekonomi paling berpengaruh bikin orang skeptis sama AI.
5 Ketegangan Utama yang Ditemukan:
- Pembelajaran vs. Atrofi Kognitif
- 33% ngerasa belajar banyak, tapi 17% takut kemampuan berpikir mereka melemah. Pendidik paling sering lihat efek negatif ini, tapi tukang dan pekerja mandiri gak terlalu ngalamin.
- Pengambilan Keputusan Lebih Baik vs. Ketidakandalan
- 22% terbantu ambil keputusan, tapi 37% terganggu karena AI kadang gak bisa dipercaya. Pengacara sering ngalamin ini, tapi juga dapet manfaat besar.
- Dukungan Emosional vs. Ketergantungan Emosional
- 16% ngerasa terbantu secara emosional, tapi 12% takut jadi ketergantungan. Orang yang ngerasa manfaat ini biasanya juga punya kekhawatiran ini.
- Menghemat Waktu vs. Produktivitas Ilusi
- 50% ngerasa dapat waktu lebih, tapi 18% merasa produktivitas mereka cuma ilusi karena ekspektasi makin tinggi.
- Pemberdayaan Ekonomi vs. Perpindahan Ekonomi
- 28% ngerasa terbantu secara ekonomi, tapi 18% takut kehilangan pekerjaan. Freelancer kreatif ada di posisi yang paling rawan.
Perbedaan Regional
Secara global, 67% orang optimis sama AI. Gak ada negara yang punya sentimen positif di bawah 60%. Tapi ada pola menarik nih:
- Amerika Selatan, Afrika, dan Asia lebih optimis.
- Eropa dan Amerika Utara cenderung lebih skeptis.
Negara berkembang lihat AI sebagai kesempatan naik kelas, bukan ancaman. Tekanan ekonomi yang lebih besar bikin mereka fokus ke manfaat langsung, bukan risiko abstrak.
Visi dan kekhawatiran juga beda-beda per wilayah. Misalnya, di Afrika dan Asia berkembang, AI dipandang sebagai jalan buat kewirausahaan dan kemandirian finansial. Di Amerika Utara dan Oseania, AI lebih dirasa buat bantu manajemen kehidupan. Di Asia Timur, banyak concern soal kemampuan kognitif dan makna hidup.
Kesimpulan
Riset ini nunjukin kalau nggak ada yang namanya kubu optimis atau pesimis yang murni soal AI. Semua orang hidup dengan harapan dan ketakutan sekaligus. Intinya, semua pengen hidup yang lebih baik: punya waktu lebih banyak, otonomi lebih, dan koneksi yang lebih bermakna sama orang lain.
Anthropic sendiri ngeliat riset ini sebagai cermin besar, AI udah nyentuh mimpi dan kekhawatiran jutaan orang dari berbagai belahan dunia. Tantangannya? Gimana caranya dapat manfaat AI tanpa harus ngerasain biaya sosial atau pribadi yang gak perlu.
Jadi, kalau kamu nanya, "AI itu buat apa sih?" Jawabannya simpel: buat bikin hidup kita lebih asik dan bermakna, bukan cuma buat kerja lebih cepet doang.