Pada dini hari 22 Juni 2025, dunia dikejutkan oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan serangan "sangat sukses" terhadap tiga fasilitas nuklir Iran yaitu Fordow, Natanz, dan Isfahan. Serangan tersebut menggunakan bom GBU-57 yang dijatuhkan oleh pesawat B-2 Spirit. Israel menyambut gembira aksi ini, sementara Teheran bersumpah akan membalas dengan keras. Serangan ini bukanlah kejadian tiba-tiba, melainkan puncak dari rentetan serang-balas antara Israel dan Iran selama sepekan sebelumnya. Dengan masuknya AS secara terbuka ke dalam konflik, kecaman pun datang dari Moskow dan Beijing yang menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional.
Perkembangan konflik ini menunjukkan jalur eskalasi yang berpotensi memicu Perang Dunia III. Tahap pertama dimulai dari konflik regional yang melibatkan blok-blok kekuatan besar, di mana AS menambah gugus kapal induk di Teluk dan Iran mengaktifkan milisi proksi seperti Hizbullah, Houthi, dan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak. Ini berisiko menimbulkan serbuan rudal lintas-negara dan serangan terhadap tanker minyak.
Pada tahap kedua, ketegangan berkembang ke ranah energi dan ekonomi ketika Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz. Selat ini menjadi jalur vital karena sekitar 20% minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari melewati area ini. Penutupan Selat Hormuz akan menyebabkan harga minyak melonjak dan inflasi global meningkat.
Selanjutnya, tahap ketiga melibatkan serangan siber dan ruang luar angkasa. Unit siber Iran, Rusia, dan China melakukan serangan terhadap infrastruktur Barat, termasuk satelit Israel yang menjadi target utama. Dampaknya bisa melumpuhkan sistem finansial dan telekomunikasi, yang berpotensi memicu penerapan pasal bantuan kolektif NATO.
Di tahap keempat, polarisasi dalam Dewan Keamanan PBB semakin tajam dengan veto silang yang membuat mekanisme diplomasi menjadi buntu. Situasi ini memperjelas terbentuknya dua kamp besar, yakni blok Barat melawan poros Teheran–Moskow–Beijing, sehingga ruang kompromi hampir tidak ada.
Garis merah konflik terletak pada kemungkinan serangan ke fasilitas nuklir tambahan atau kapal milik AS yang tenggelam. Jika ini terjadi, NATO akan aktif secara militer, Rusia mengirimkan sistem pertahanan S-500, dan China mengerahkan kapal perusak. Pada titik ini, dunia secara de facto memasuki Perang Dunia III.
China memiliki posisi yang sangat penting dalam konflik ini karena ketergantungannya pada pasokan minyak. Pada 2024, China mengimpor sekitar 11,1 juta barel per hari dan sekitar 45% dari impor tersebut melewati Selat Hormuz. Di sisi lain, impor minyak Iran mencapai rekor 1,71 juta barel per hari pada Maret 2025, yang setara dengan sekitar 13% dari total impor China. Xi Jinping dan Vladimir Putin secara bersama-sama mengecam serangan Israel dan mendorong solusi diplomatik, menandakan sikap politik mereka yang ingin mencegah eskalasi lebih lanjut.
Jika Selat Hormuz terganggu, Beijing akan kehilangan hampir setengah bahan baku kilang minyaknya. Selain itu, Iran yang menjual minyak mentah dalam yuan mendukung upaya dedolarisasi ekonomi global. Oleh karena itu, China bersiap mati-matian untuk mencegah blokade Selat Hormuz, bahkan mungkin mengerahkan patroli angkatan laut di Samudra Hindia sebagai bentuk kekuatan.
Sementara itu, Rusia tetap menjadi eksportir minyak besar dengan sekitar 7,33 juta barel per hari pada Desember 2024. Rusia sebenarnya merupakan kompetitor Iran di pasar minyak Asia. Diskon besar yang diberikan Iran pada minyaknya menekan harga jual minyak Urals Rusia, namun Rusia justru diuntungkan jika pasokan minyak Iran tersendat karena harga minyak global naik. Secara resmi, Moskow memperingatkan potensi "katastrofi nuklir" dan menawarkan mediasi, tetapi menolak terlibat langsung kecuali kepentingannya diserang. Dukungan Rusia kepada Iran lebih bersifat geopolitik anti-Barat, bukan karena kebutuhan energi.
Kenapa sengketa energi ini bisa menjadi pemantik konflik global? Pertama, Selat Hormuz merupakan keran dunia karena satu dari lima barel minyak yang dikonsumsi seluruh planet ini melewati selat yang hanya selebar 40 km tersebut. Kedua, dua ekonomi raksasa yakni China dan India mengkonsumsi sekitar 60% minyak yang lewat Selat Hormuz. Gangguan pasokan minyak akan berdampak langsung pada kedua negara ini dan menyeret pasar finansial serta komoditas dunia ke dalam ketidakstabilan.
Ketiga, perang harga dan sanksi silang antara AS/Uni Eropa dan China bisa memperparah situasi. AS dan UE bisa memblokir bank-bank China yang membeli minyak Iran, sementara China dapat membalas dengan mengontrol pasokan rare-earth dan semikonduktor yang penting bagi teknologi global. Keempat, lonjakan harga energi akibat konflik akan memicu krisis fiskal di negara-negara importir miskin, menambah instabilitas politik yang berpotensi meluas secara global.
Jika kita lihat skema keterlibatan kekuatan besar, NATO dan AS berada di satu sisi dengan melancarkan serangan nuklir ke fasilitas nuklir Iran dan membentuk aliansi proxy di Teluk. Di sisi lain, poros Teheran–Moskow–Beijing mengandalkan senjata canggih seperti drone Shahed dan sistem pertahanan S-400 dan S-500, serta dukungan milisi Syiah dan armada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA Navy). Konflik juga berlangsung di ranah siber dan perang tanker yang melibatkan kedua kubu. PBB yang berusaha meredakan ketegangan justru mandek, sehingga muncul koalisi baru yang disebut "Non-Aligned 2.0" sebagai upaya alternatif diplomasi.
Singkatnya, perang Iran-Israel 2025 berpotensi menjadi "busur petir" yang menutup Selat Hormuz, mengguncang 20% pasokan minyak dunia, dan memaksa negara-negara besar memilih kubu masing-masing. China menjadi pihak yang paling rentan terhadap gangguan pasokan minyak, sementara Rusia diuntungkan oleh kenaikan harga minyak namun khawatir front baru ini akan mengalihkan perhatian AS dari perang di Ukraina.
Jika jalur diplomatik gagal dan serangan terus berlanjut, mekanisme eskalasi otomatis seperti balas dendam, komitmen aliansi, dan guncangan pasar energi bisa menyeret dunia ke dalam konflik multibenua yang merupakan resep klasik menuju Perang Dunia III.
Catatan: Semua angka impor dan ekspor minyak menggunakan estimasi dari Reuters, IEA, dan EIA per April–Juni 2025 dan dapat berubah sesuai dinamika sanksi dan produksi di lapangan.