Kalimat “Boleh pakai AI untuk belajar, tapi bila ilmu itu sudah paham” sering banget kita denger, kayak semacam aturan main supaya kita nggak asal ngandalin teknologi. Tapi kalau kita bongkar pelan-pelan pakai cara ala Jacques Derrida, si bapak dekonstruksi, ternyata kalimat ini punya kontradiksi yang bikin kita mikir ulang, bro. Gimana bisa seseorang cuma boleh pakai AI buat belajar kalau harus udah paham dulu? Ibaratnya kayak bilang, “Boleh ikut les renang kalau udah bisa berenang.” Kan absurd banget, ya! Padahal, belajar itu sendiri proses dari nggak ngerti jadi ngerti, bukan cuma buat yang udah jago aja.
Selain itu, kata “paham” di sini juga nggak sesederhana yang kita kira. Apa yang dimaksud paham itu? Paham akademik yang kaku dan formal? Atau sekadar rasa ingin tahu yang kritis dan aktif? Derrida bilang, makna sebuah kata tuh nggak pernah tetap dan mutlak, karena dipengaruhi sama konteks sosial, kekuasaan, dan siapa yang pegang kendali buat nentuin arti kata itu. Jadi, "paham" itu bisa berubah-ubah tergantung siapa yang ngomong dan dalam situasi apa.
Kalau kita ngikutin aturan ini secara ketat, banyak banget yang bakal rugi, lho. Bayangin aja:
- Siswa SMP yang lagi pusing banget sama aljabar, mau tanya sama ChatGPT biar ngerti variabel dan persamaan, tapi dilarang karena katanya harus paham dulu teori matematikanya.
- Mahasiswa teknik yang baru mulai belajar fisika kuantum, pengen tahu soal prinsip ketidakpastian Heisenberg, tapi dibilang nggak boleh tanya AI karena belum lulus jurusan fisika.
- Orang yang baru belajar coding, pengen pakai GitHub Copilot buat bantu nulis skrip Python pertama, malah disuruh nunggu dulu jadi programmer jagoan baru boleh pakai AI.
Sungguh nggak masuk akal, kan? Justru AI ini keren banget karena bisa jadi mentor virtual yang siap bantu kita kapan aja, jawab pertanyaan, kasih contoh, bahkan nguji pemahaman lewat dialog interaktif. AI tuh bukan cuma buat yang udah paham, tapi buat yang lagi pengen paham.
Kalimat itu kalo dipaksain, cuma segelintir orang yang bisa akses AI buat belajar, dan ini jelas nggak adil. Kesenjangan pengetahuan malah makin lebar. Paulo Freire, si tokoh pendidikan pembebasan, pasti setuju kalau pendidikan itu harus jadi alat emansipasi, bukan bikin tembok yang ngebatesin orang buat akses ilmu. Habermas juga mungkin bakal bertanya, apakah syarat "sudah paham dulu" itu muncul dari diskusi publik yang jujur, atau cuma cara elit buat ngontrol siapa yang boleh belajar?
Makanya, daripada kita ngelihat AI cuma buat yang "layak", mending makna kalimat ini kita bikin lebih asik dan inklusif aja. Contohnya:
- "Gunakan AI untuk belajar apa pun—sejarah, matematika, fisika, pemrograman—bukan karena kamu udah paham, tapi karena kamu lagi proses buat jadi paham."
Dengan cara ini, AI nggak jadi gerbang yang dijaga ketat, tapi jembatan yang nyambungin kita ke pengetahuan luas dan terbuka buat siapa aja yang mau belajar. Jadi, jangan takut buat pakai AI, karena belajar itu perjalanan yang seru dan AI bisa jadi temen setia yang nemenin kamu sampai paham beneran!
Jika kita tambahkan bahwa makna “paham” dalam kalimat “Boleh pakai AI untuk belajar sejarah dunia, tapi bila ilmu itu sudah paham” merujuk pada kesadaran terhadap potensi halusinasi AI, maka arah dekonstruksinya mengalami pergeseran yang menarik. Kalimat tersebut tidak lagi hanya bicara soal prasyarat intelektual formal, tapi tentang kesadaran kritis pengguna terhadap keterbatasan teknologi. Meski begitu, struktur logikanya tetap problematis jika diikuti secara kaku. Sebab, bagaimana mungkin seseorang bisa menyadari AI bisa halu (menghasilkan informasi fiktif atau keliru) tanpa terlebih dahulu berinteraksi dengannya dalam proses belajar? Ini seperti mengatakan: “Boleh membaca koran, asalkan kamu sudah tahu mana berita hoaks”—padahal justru dengan membaca dan berpikir kritis-lah seseorang belajar membedakan kebenaran dan kebohongan.
Dalam konteks ini, Derrida tetap akan mempertanyakan siapa yang berhak menentukan bahwa seseorang telah “cukup sadar” untuk menangani potensi halusinasi AI. Apakah kesadaran itu harus diuji dulu? Apakah kita akan membentuk kasta pengguna AI—mereka yang “sudah tahu halu” vs yang “belum layak tahu”? Justru sebaliknya, pengalaman memakai AI secara aktif dan reflektif dapat menjadi jalan terbaik untuk menumbuhkan kesadaran terhadap halusinasi. Contohnya, siswa SMA yang mencoba meminta AI menjelaskan Perang Dunia I mungkin akan menemukan perbedaan data dengan buku pelajaran, dan dari sana mulai memahami bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Atau seorang pemula belajar coding lewat Copilot, lalu sadar bahwa saran kode AI bisa mengandung bug—ini menjadi momen pembelajaran, bukan kegagalan.
Maka, dalam kerangka pedagogi kritis ala Paulo Freire, kesadaran terhadap kekeliruan AI bukanlah titik awal yang harus dimiliki, tapi hasil yang dicapai melalui keterlibatan dialogis dengan teknologi. AI justru bisa memfasilitasi kesadaran kritis jika pengguna diajak untuk aktif bertanya, memverifikasi, dan mengkonfirmasi ulang informasi. Karena itu, kita bisa menyusun ulang kalimat awal menjadi alternatif yang lebih mendidik dan progresif: “Gunakan AI untuk belajar dengan sikap kritis—bukan karena kamu sudah tahu semuanya, tapi karena kamu ingin memahami sekaligus menguji batas pengetahuan itu, termasuk saat AI salah.” Dengan perspektif ini, AI bukan hanya alat bantu teknis, tapi juga medium dialog untuk menumbuhkan daya nalar, kesadaran epistemik, dan semangat belajar seumur hidup.
Belajar menggunakan AI bukanlah proses instan seperti menelan pil ajaib yang langsung membuat seseorang mahir dalam suatu bidang. Ia tetap merupakan proses berpikir, bertanya, menguji, dan membandingkan informasi. Namun, AI memberikan percepatan dalam memahami sesuatu yang sebelumnya mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk dipelajari lewat buku atau kuliah formal. Misalnya, seseorang yang ingin memahami konsep diferensial dalam kalkulus bisa langsung bertanya pada AI dengan gaya bahasa yang ia pahami, mendapatkan penjelasan singkat, contoh soal, dan bahkan dibantu menyusun pemahamannya langkah demi langkah. Demikian pula dengan sejarah atau fisika kuantum—AI dapat menyederhanakan narasi kompleks menjadi potongan-potongan informasi yang lebih mudah dicerna, bahkan bisa disesuaikan dengan gaya belajar masing-masing individu. Ini bukan berarti proses belajar menjadi instan tanpa usaha, tapi AI memberi jalur akses yang lebih personal, interaktif, dan cepat dibanding metode konvensional. Maka, memahami bahwa belajar lewat AI adalah proses cepat yang tetap membutuhkan kedalaman nalar dan verifikasi menjadi kunci agar penggunaannya efektif tanpa terjebak dalam pemahaman dangkal atau kesalahan informasi.