Kalimat "Jangan terlalu mengejar dunia, siapkan juga bekal untuk akhirat" sering banget kita denger, apalagi pas lagi pengajian, khutbah, atau nasehat dari orang tua. Sekilas sih, kalimat ini kayak nasihat bijak yang simpel dan jelas. Tapi, kalau kita coba ulik lebih dalam, terutama pake pendekatan dekonstruksi ala Jacques Derrida, ternyata maknanya jauh lebih kompleks dan seru buat dipikirin.
1. Kalimat yang Terlihat Bijak… Tapi Apakah Sesederhana Itu?
Kalimat ini ngasih kesan: dunia itu sesuatu yang harus kita hindari atau jangan terlalu dikejar, karena sifatnya fana dan menggoda. Sementara akhirat dianggap sebagai tujuan utama yang abadi dan harus dipersiapkan dengan serius. Tapi Derrida bakal curiga banget sama pola pikir kayak gini. Dia bakal nanya, kenapa dunia dan akhirat diposisikan sebagai dua kutub yang seolah bertentangan? Kenapa "mengejar dunia" dianggap salah, dan "siapkan bekal akhirat" dianggap kebaikan mutlak?
Derrida nggak nolak agama, tapi dia ngajak kita buat ngebongkar struktur makna dan logika yang tersembunyi di balik kalimat ini. Termasuk gimana relasi kuasa dan pemaknaan yang kadang direpresi lewat bahasa itu sendiri.
2. Oposisi Biner: Dunia vs Akhirat
Kalimat tersebut jelas bikin dikotomi, di mana:
- Dunia = fana, semu, penuh godaan negatif
- Akhirat = abadi, suci, tujuan utama hidup
Tapi menurut Derrida, oposisi biner kayak gini nggak pernah netral. Selalu ada satu sisi yang dianggap lebih tinggi dan satu sisi yang direndahkan. Dalam kasus ini, akhirat ditempatkan sebagai yang paling mulia, sementara dunia jadi inferior dan harus dijauhi.
Padahal, kalau kita lihat kehidupan sehari-hari, batas antara dunia dan akhirat itu nggak sejelas itu:
- Mencari nafkah buat keluarga, apa itu cuma urusan dunia doang?
- Merawat orang sakit, apakah itu nggak termasuk ibadah yang bernilai akhirat?
- Berkontribusi buat keadilan sosial dan menjaga lingkungan, apakah itu bukan bagian dari bekal akhirat juga?
Derrida mau kita sadar kalau makna "dunia" yang sering diasosiasikan negatif itu sebenernya dibentuk oleh bahasa dan tradisi yang mungkin terlalu sempit. Dunia juga bisa punya makna yang spiritual dan bermakna dalam.
3. Bekal Akhirat = Ibadah Ritual Saja?
Kalimat "siapkan bekal untuk akhirat" biasanya kita pahami sebagai ibadah ritual kayak salat, puasa, zakat, dan sebagainya. Tapi, gimana dengan nilai sosial, etika, perjuangan melawan ketidakadilan, dan menegakkan keadilan?
Derrida bakal nanya lagi:
"Kenapa kita cuma ngurung makna akhirat ke ibadah simbolik aja? Bukankah bekal akhirat juga bisa berupa cinta kasih, solidaritas, ilmu yang bermanfaat, bahkan tawa yang menyembuhkan?"
Jadi, dekonstruksi nggak ngeruntuhin makna bekal akhirat, tapi ngajak kita buat memperluas batasan itu supaya lebih inklusif dan nggak kaku.
4. Siapa yang Menentukan Kapan "Terlalu Duniawi"?
Kalimat "jangan terlalu mengejar dunia" sebenarnya ngasih standar moral yang ambigu. Apa sih batasnya "terlalu" di sini?
- Apakah punya rumah mewah termasuk terlalu duniawi?
- Apakah kerja keras sampai sukses itu salah?
- Siapa yang punya kuasa atau hak buat menilai orang "terlalu cinta dunia"?
Derrida bilang standar "terlalu duniawi" itu sebenernya konstruksi sosial yang bisa dipake buat ngontrol atau ngasih cap negatif ke orang lain. Bisa jadi, orang yang kerja keras bukan karena tamak, tapi karena pengen nyekolahin anak yatim atau bantu keluarga. Apakah itu dosa duniawi? Yuk jangan buru-buru nge-judge.
5. Membalik Hirarki: Dunia Bukan Lawan Akhirat
Derrida ngajak kita buat balik cara pandang lama yang ngegambarin dunia dan akhirat sebagai musuh bebuyutan. Gimana kalau kita lihat dunia itu sebagai ladang buat nanam benih akhirat?
Dunia = ladang
Akhirat = panen
Kalau gitu, ngejar dunia nggak selalu salah, yang penting gimana cara kita ngejarnya dan untuk apa. Selama niat dan etika kita oke, dunia dan akhirat bisa saling melengkapi dan saling mendukung.
Kesimpulan: Jangan Terlalu Cepat Mewakili Tuhan
Kalimat "jangan terlalu mengejar dunia" sering diucapin seolah mewakili suara Tuhan yang mutlak. Tapi dekonstruksi bilang kita harus hati-hati dengan bahasa, karena bahasa kadang lebih mewakili budaya, tradisi, atau struktur kuasa tertentu daripada kebenaran universal.
Dunia dan akhirat bukan dua jalur yang harus kita pilih salah satu dan tolak yang lain. Keduanya bisa saling isi, saling merangkul, dan saling memberikan makna, asal kita nggak ngejebak mereka dalam oposisi biner yang sempit dan kaku.